Minggu, 13 Februari 2011

Solusi Meredam Konflik Sosial

Sampai kapan energi yg seharusnya menjadi konstruktif kebersamaan, keberagaman dan kesejahteraan terus menerus terbuang percuma hanya karena memperdebatkan persoalan perspektif, intepretasi, cari keuntungan materi, perkara temporer atau bahkan hanya sentimen perasaan yg tak berdasar akal sehat. Betapa malangnya kita, hidup yg hanya sementara dengan hati yg tidak lebih besar dari genggaman tangan sendiri namun kita penuhi dengan amarah, dendam, sakit hati, permusuhan, perasaan menang sendiri......yg adalah sampah yg seharusnya kita buang.
Betapa indahnya tiada luka diantara kita................. 

by Haris Subagiyo

Kejadian 13 : 1 -18
Belajar dari Abraham dan Lot 

Persoalan dapat lahir secara tidak terduga bahkan diluar rumusan akal kita. Krisis dapat menciptakan gelombang konflik sebaliknya kemakmuran juga tak kalah hebat dapat mengobarkan persoalan pelik. Kita tidak mengharap datangnya persolan namun kita juga tidak dapat menghindari atau lari dari kejaran persoalan, karena dimana saja dan kapan saja persoalan adalah karakteristik hidup manusia yg dinamis.
Dibutuhkan sikap yg benar dan mendasar untuk  menghadapi konflik yg mungkin terjadi diantara kita !
Bagaimana cara mengatasi persoalan-persoalan sosial ditengah lingkungan kita? 

1. Mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah (Kejadian 13 : 6,8)

Para pegawai Abaraham dan Lot mulai bertengkar karena kekayaan mereka terus bertambah sehingga tempat yg mereka diami tidak cukup menampung jumlah kambing, domba yg terlalu banyak. Abraham khawatir bila persoalan itu dibiarkan, cepat atau lambat akan merembet dan menggangu hubungan kekerabatan mereka. 
Untuk menghindari hal itu maka Abraham segera mengambil inisiatif melokalisir persoalan tersebut supaya tidak melibatkan pertikaian pribadi.


Akar masalahnya sudah jelas bahwa semua orang ingin tetap survive, konsekuensi logisnya pasti muncul kompetisi. Masalahnya apakah demi "survive" dapat dijadikan alasan  pembenar untuk boleh melakukan segala hal? 
Abraham sebagai seorang yg lebih tua dari Lot (keponakannya) bersedia mengorbankan harga diri juga perasaannya untuk kepentingan yg lebih besar dan kekal.  Apa yg mendasari sikapnya?
  • Reputasi Allah: bangsa-bangsa lain disekitarnya menuntut kesaksian nyata tentang intervensi Allah dalam hidupnya. Jadi Nama baik Allah adalah tujuan yg mengokohkan sikap Abraham untuk tidak membesarkan perselisihan dengan siapapun, karena akibatnya adalah melukai dan mempermalukan nama Allah
  • Pribadi manusiaAbraham menganggap ini persoalan serius. Abraham sedang berhadapan dengan seorang manusia yg berpribadi ( mempunyai pikiran, perasaan dan kemauan) yg sama-sama membutuhkan penghargaan,          keamanan dan masa depan sehingga tidaklah bermartabat jika saling menjegal untuk kepentingan sendiri.  
Secara umum persoalan apapun akan berpotensi cepat membesar jika hanya didiamkan saja, karena akan semakin luas kecurigaan  dan rasa tidak percaya pada orang lain maka semakin tak terkendali duduk persoalannya.
Ada masalah faktual yg sama bahayanya jika tidak kita sadari:
  • Menganggap permasalahan sebagai tidak masalah, masalah kecil atau gampang.
  • Mendiamkan saja permasalahan, seolah-olah tidak ada masalah atau berharap masalah akan berhenti dengan sendirinya ditelan waktu. Realitanya masalah sosial selalu menjadi bom waktu yg sangat membahayakan!
Untuk menyelesaikan masalah langkahnya pertama:
  • Kenalilah dengan benar akar persoalannya kemudian akuilah dengan jujur bahwa itu memang ada masalah yg mungkin saja telah melukai perasaan atau memalukan pihak lain
  • Segera ambil inisitif menyelesaikannya sebelum masalahnya membesar dan meledak, karena watak dari semua masalah pasti berdampak merugikan jika tidak segera diakhiri.
Abraham mengenali duduk persoalannya. Kejadian 13 : 6
Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

Abraham mengakui ada persoalan dan mengambil inisiatif menyelesaikan. Kejadian 13 : 8
Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.

Aplikasi:
Betapa seringya kita menyimpan sampah didalam almari pakaian, bahkan kita dengan percaya diri berkata : hal ini sudah biasa terjadi, semua orang juga melakukannya ? entah sampai kapan kita terus melakukannya.... 
Jika kita tahu bahwa sampah itu kotoran, bau busuk dan berbahaya bagi lingkungan sekitar, pasti kita tidak akan menunda untuk segera membuang sampah pada tempat sampah!
Mengapa permusuhan, kemarahan, kebencian, rencana jahat, iri hati masih kita simpan didalam hati? sekarang juga ambil buang gantikan dengan perkara yg suci, mulia, indah, sedap didengar dan layak dipuji mengisi hati kita

2. Bersikap untuk Mengalah (Kejadian 13:9 ) 

Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."
  • Bersikap obyektif
  • Tidak ada rencana jahat
  • Memberi jalan keluar atas persoalan
  • Memberi kesempatan orang lain mengambil pilihan lebih dahulu  
  • Tidak ada pementingan diri sendiri
  • Disampaikan dengan jujur dan sangat sopan
Padahal Abraham bukan hanya lebih tua, tetapi ia juga adalah paman dari Lot. Disamping itu, Kanaan diberikan oleh Tuhan kepada Abraham. Jadi ditinjau dari segala sudut, ia lebih berhak untuk memilih lebih dulu. Bahwa ia menyuruh Lot memilih lebih dulu, betul-betul menunjukkan suatu penyangkalan diri dan sikap tidak egois, rela berkorban, mau mengalah untuk kebaikan orang lain.  
Solusi kedua untuk meredam konflik adalah bersikap untuk mengalah!
  • Mengalah dalam interaksi sosial bukanlah sikap yg kalah berbeda dengan mengalah dalam kompetisi yg berarti menyerah pada lawan.
  • Mengalah berarti kita bersedia mengorbankan hak, harta milik, perasaan atau bahkan martabat untuk kepentingan yg jauh lebih mulia dari kepentingan diri sendiri.
  • Mengalah berarti memberi kesempatan orang lain lebih dahulu untuk mendapatkan bagaian yg sama untuk hidup, bekerja dan mendapatkan keuntungan tanpa merasa kita dirugikan atau direndahkan.
  • Mengalah berarti kita sedang memberikan solusi yg bijaksana untuk mengakhiri segala konflik yg mungkin saja dapat terjadi. Mengalah adalah solusi pemecahan persolan
Aplikasi:
Dua kekuatan besar yg dibenturkan dari arah yg berlawanan, pastilah menimbulkan ledakan hebat yg merugikan kedua pihak. ternyata tidak ada kepuasan perasaan, tidak mengobati sakit hati, tidak memupuskan dendam yg tersisa hanyalah penyesalan. 
Siapa yg mengajari kita untuk menjadi yg nomer satu, yg paling besar, yg paling utama, tidak boleh dikalahkan? 
Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa yg terbesar adalah yg bersedia melayani
Siapakah yg mengajarkan kita untuk melampiaskan kemarahan, melepas hujatan atau membalas kejahatan? 
Tuhan Yesus mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan!

3. Menjunjung tinggi Nilai Persaudaraan (Kejadian 13:8)
Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.

Dalam kondisi yg tidak diuntungkan , Abraham menyatakan bahwa diatas keinginan dan kebutuhan jasmani, bisnis, kekayaan adalah kepentingan yg  harus mengutamakan hubungan baik. " sebab kita ini kerabat".
Menjunjung tinggi nilai persaaudaraan adalah:
  • Sikap yg berorientasi pada pribadi bukan pada benda/materi
  • Sikap yg mengutamakan hubungan baik bukan keuntungan diri sendiri
  • Sikap yg saling memahami untuk kepentingan yg lebih abadi bukan keinginan semu atau sementara.
Brian Dyson, mantan eksekutif Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. “Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dengan lima bola yang dilempar melayang ke udara.  Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan: 1) Pekerjaan/karir.  2) Keluarga.  3) Kesehatan.  4) Sahabat.  5) Semangat.
Anda harus menjaga semua bola tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh.  Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di antara ke lima bola tersebut, lepaskanlah pekerjaan karena pekerjaan adalah bola karet.  Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali, namun empat bola lain: keluarga, kesehatan, sahabat dan semangat adalah bola kaca.  Jika anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yg saling membutuhkan, hidup secara interaktif dengan lingkungan. Kita tidak mungkin mengingkari watak alami kita sendiri dengan berkata: "saya tidak butuh orang lain". atau "sayalah yg paling dibutuhkan dalam dunia ini"

Aplikasi:
Kita sering membingkai sendiri arti persaudaraan yg dipersempit sebagai komunitas yg homogen: mereka yg satu golongan, sesama daerah, senasib seperjuangan tetapi memberi perlawanan keras kepada mereka yg heterogen. Hanya berbeda pendapat saja, orang lain sudah dianggap sebagai lawan yg legal untuk dimusuhi. Kita yang mengganggp diri sebagai bangsa yg relegius dan beradab, ironinya masyarakat kita telah banyak berubah mentalnya: bukan lagi memikirkan tentang "KITA" tetapi "AKU' yg menjadi sasaran kepentingan. Sehingga Saat ini, nilai persaudaraan sudah dijadikan komoditas yg dapat diperjual belikan untuk kepentingan egoisme manusia. Manusia sudah jarang ditempatkan sebagai subyek yg diberi penghargaan yg lebih tinggi dari kebutuhan dan keiinginan. Isu-isu kemanusiaan ditebarkan dengan tujuan dijadikan proyek mengeruk keuntungan finansial secara cepat yg memperkaya diri sendiri.Yang dianggap saudara adalah mereka yg menyokong urusan perut atau mereka yg pantas dicemburui karena keberhasilannya. Inilah yg disebut dengan model persaudaraan JIKALAU bukan WALAUPUN. Jika orang membela berarti ia saudara kita, jika ada orang yg berfaham sama seperti kita dialah saudara kita. Bagaimana jika tidak sama dengan harapan kita? Seharusnya persaudaraan tetap dibangun diatas aspek "walaupun" karena memandang pada sisi manusia bukan keinginan. Walaupun kita berbeda beda tetapi kita adalah saudara.
GBU!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar