Minggu, 06 Maret 2011

Hitam Putih Kelabu


Siapa diri kita tercermin dari plihan warna hidup kita!
sebelum kita terus jauh melangkah, sejenak pikirkan manakah pilihan warna hidup kita sekarang ini? Hitam.......Putih.......atau kelabu (campuran hitam dan putih)
Menjadi orang percaya yg berkarakter atau menjadi orang yg bermuka ganda (hipokrit)?


Tuhan Yesus perlu berterus terang bahwa NILAI itu jauh lebih penting dari sekedar PENAMPILAN LUAR. Kekristenan adalah persoalan nilai bukan mode, penampilan atau taburan kata-kata indah.
ucapan syukur, pujian dan penyembahan adalah warna asli dari kekristenan . Sikap ini demikian suci, agung, megah, mulia seharusnya lebih dahulu diperankan oleh mereka yg lebih melek Alkitab dan terdidik secara khusus di pelayanan, namun gereja malah harus belajar dari kehidupan mereka yg miskin pengetahuan kebenaran bahkan terkenal berbuat dosa.
Inilah.....realita: ironi Penyuara Kebenaran !
Totalitas atau ibadah yg semu ?
Refleksi untuk kita semua....


Lukas 7 : 36 -50
1. Memberi dengan maksud tersembunyi (ayat.44-45)


Simon orang Farisi mengundang Tuhan Yesus unuk makan dirumahnya.
Pemilik rumah dalam Matius / Markus maupun Lukas mempunyai persamaan nama yaitu ‘Simon’, tetapi perlu diketahui bahwa nama ‘Simon’ adalah nama yang sudah umum (pasaran), Lebih jelasnya dalam Injil Matius dan Markus ia disebut sebagai ‘Simon si kusta (Mat 26:6  Mark 14:3), sedangkan dalam Lukas, ia adalah ‘seorang Farisi’ (ay 36). Seorang Farisi yg mengudang Tuhan Yesus makan dirumahnya sungguh pengalaman yg tidak lazim, karena  orang Farisi secara umum tidak menyukai Tuhan Yesus. Lalu apa motivasi Simon mengundang Yesus? 


Dilihat dari etiket baik yg bersedia mengundang Tuhan Yesus dan dari sebutan memanggil  "guru" terhadap Yesus dalam ay 40, Tampaknya Simon, berbeda dengan komunitas orang Farisi yang lain, Ia tidak memusuhi ataupun membenci pribadi maupun ajaran Tuhan Yesus. Tetapi, Simon juga bukanlah orang yang percaya, bukanlah orang yg mengasihi dan menghormati Yesus. 
Mungkinkah ia mengundang Yesus tanpa tujuan? 
Pilihan warna mana yg ia tentukan : hitam putih atau kelabu?
Kemungkinan Simon hanya bersikap netral (menghormati tetapi tidak percaya Yesus) atau berdiri diwilayah abu-abu, namun secara normatif sikap sebenarnya dapat dinilai merendahkan martabat Yesus .
Perhatikan perlakuan Simon menurut kontek jaman itu! Menurut adat yg berlaku pada waktu itu, kepada semua tamu undangan yg dihormati harus ada tiga sikap "welcome" yg harus dilakukan oleh tuan rumah.
  • Clean Welcome: Ketika tamu datang, keluarlah seorang hamba membawa tempayan (wadah air) dan handuk untuk membersihkan kaki tamu dari debu. Maklum Timur Tengah (bukan jalan hot mix) jalan pasir dan berdebu dengan model sepatu sandal jadul yg terbuka dan bertali
  • Kiss Welcome: Ketika masuk kedalam rumah, tuan rumah mencium tamu sebagai ucapan selamat datang supaya merasa disambut dengan senang hati dan betah dirumah.
  • Fresh Welcome: Selanjutnya kepala tamu diurapi dengan minyak wangi untuk menyegarkan kelelahan selama perjalanan.
Tiga hal penting dalam tata cara penyambutan tamu ini, semuanya tidak dilakukan oleh Simon kepada Yesus. Ini artinya Simon sebenarnya tidak menempatkan Yesus sebagai orang yg dihormati dirumahnya atau sengaja melanggar kesopanan!

Penerapan:
Tentukan sendiri pilihan warna kita: hitam, putih atau kelabu?
Dalam hubungan dengan Tuhan, tidak ada posisi netral atau tidak berpihak. Dalam komunikasi dengan Tuhan tidak mungkin ada muatan motivasi yg netral, semua yg kita kerjakan pastilah dengan tujuan: semu atau sejati, mempermuliakan nama Tuhan atau sebaliknya mempermalukanNya. Orang lain mungkin saja luput atau salah untuk menilai kualitas karakter kita, namun Tuhan Yesus tahu segalanya sampai di kedalam hati kita. Apa motivasi kita melayani Dia, Ada apa dibalik pemberian kita, berangkat dari mana kebaikan kebaikan kita? Benarkah kita terpanggil untuk kebaikan manusia dan kemuliaan Tuhan?
Tidak ada yg tersembunyi, tidak ada yg tercecer dari catatanNya, semuanya terbuka dihadapanNya. Maksud baik, niat jahat atau bahkan sikap abu-abu.
Masihkah kita berani bersikap semu kepada Tuhan dihadapan manusia?

2. Memberi karena mengasihi


Sementara Simon mengundang Tuhan Yesus dengan maksud yg semu, datanglah seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ia menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, menciuminya dan meminyakinya dengan minyak wangi (ay 37b-38).Seorang wanita yg  datang tanpa diundang (wanita penyusup) memberikan penghargaan yg setinggi tingginya pada Tuhan Yesus. hanya dengan satu tujuan memberi....memberi dan memberi.....tak mengharapkan pamrih....


Kita dapat saja memberi kepada siapa saja tanpa mengasihi tetapi kita tidak dapat  mengasihi tanpa memberi yg terbaik.

Siapakah perempuan ini?
Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Maria dari Betania, yaitu saudara Marta dan Lazarus. Tetapi perlu dicamkan bahwa sekalipun Maria dari Betania pernah mengurapi Yesus dalam peristiwa yang serupa (bdk. Mat 26:6-13  Mark 14:3-9  Yoh 12:1-8), tetapi peristiwa itu berbeda atau  tidak paralel dengan peristiwa dalam Luk 7:36-50 ini!

Jadi, sebetulnya kita tidak tahu siapa perempuan ini. Yang jelas ia adalah seseorang yang terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 36). Dari istilah itu kebanyakan penafsir menganggap bahwa ia adalah seorang pelacur, tetapi inipun belum tentu benar, karena Kitab Suci biasanya menyebut pelacur secara terang-terangan.
Pastinya, Wanita ini sekarang telah diubahkan mentalnya oleh Tuhan Yesus.
Statusnya sebagai orang yg terkenal berbuat dosa telah terhapus oleh harumnya aroma berbagai pemberian yg dilakukannya bagi Tuhan Yesus:
1. Memberi karena sudah diampuni dosanya
Ia terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 37a).namun kini ia menjadi penyembah Tuhan yg memberi hidup karena sudah diubahkan hidupnya oleh Tuhan. Jadi penyembahan harus berangkat dari perubahan karakter kita bukan aktivitas seremonal gereja.
kata yg dipakai untuk menjelaskan bagian ini ke dalam past perfect tense‘who had been a sinner’ (= yang dulunya adalah seorang berdosa), supaya orang tidak beranggapan bahwa pada saat itu ia masih adalah orang berdosa. Alasan yg benar kita memberi adalah karena sudah diberi yg bernilai kekal dari Tuhan bukan supaya kita diberi.
c. Memberi walaupun banyak alasan untuk tidak memberi
Perempuan itu bisa mengatasi halangan untuk datang kepada Yesus.
Rasanya pasti tidak mudah bagi perempuan itu, yang terkenal sebagai orang yang berdosa itu, untuk datang dan melakukan tindakan kasih kepada Yesus, yang saat itu dianggap sebagai nabi yang hebat. Ingat bahwa pada jaman itu batasan antara orang berdosa dan orang saleh sangat kuat (bdk. Mat 9:11  Luk 15:1-2). Pasti ada halangan bagi dia, mungkin dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, atau mungkin dari bisikan setan ke dalam hati, pikirannya, yang mengatakan bahwa ia tidak layak untuk datang kepada Yesus.
Memberi karena alasan Tuhan Yesus, terlepas dari keteladanan orang lain atau apa kebutuhannya sendiri.
Pantaskah orang yg tidak diundang masuk kerumah orang yg sedang mengadakan perjamuan makan?
William Barclay menjelaskanMerupakan suatu kebiasaan bahwa pada waktu seorang Rabi sedang makan di suatu rumah, semua jenis orang datang / masuk ke rumah itu - mereka cukup bebas untuk melakukan hal itu - untuk mendengar pada mutiara-mutiara hikmat yang jatuh dari bibirnya. Itu menjelaskan kehadiran dari perempuan itu - 
Lalu apa motivasinya sehingga sedemikian kuat memilikikeberanian untuk mendatangi Tuhan Yesus?
Pastilah desakan di dalamnya untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Yesus begitu tidak bisa ditahan sehingga tidak ada apapun yang bisa menghentikan dia dari melakukan apa yang ingin dilakukannya

d. Memberi dengan spirit penyembahan
Perempuan itu menangis, dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya, dan mencium kaki Yesus (ay 38a).

1.  Memberi dengan kesungguhan hati
 ‘Mencium’.kaki Yesus
Kata ‘mencium’ dalam bahasa Yunaninya adalah KATEPHILEI, yang artinya ‘fervently / affectionately kissed’ (= mencium dengan sungguh-sungguh / dengan penuh kasih sayang), atau ‘repeatedly kissed’ (= mencium berulang-ulang).
Kata yang sama digunakan dalam Luk 15:20 (ciuman bapa kepada anak bungsu yang kembali), dan juga dalam Mat 26:49 / Mark 14:45 (ciuman Yudas Iskariot kepada Yesus!).
Ciuman mempunyai beberapa kemungkinan makna yaitu: kasih, penghormatan, permohonan, ketundukan, dan ibadah atau penyembahan.
Adam Clarke berkata bahwa: Ciuman digunakan pada jaman kuno sebagai simbol dari kasih, penghormatan agama, ketundukan, dan permohonan.

2.Memberi dengan penuh pengorbanan
‘menyeka dengan rambutnya’.
Bagi orang-orang Yahudi merupakan sesuatu yang memalukan bagi seorang perempuan untuk mengurai rambutnya apalagi untuk menyeka dengan rambutnya di depan umum, tetapi perempuan ini mau melakukan pengorbanan tersebut. Maria dari Betania (saudara Marta dan Lazarus) melakukan pengorbanan yang serupa, karena kasihnya yang besar terhadap Yesus (Yoh 12:3).
3. Memberi yang paling berharga
Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan menggunakan minyak wangi, yang tentu saja mahal harganya.
Perempuan-perempuan Yahudi umumnya memakai sebuah botol minyak wangi yang digantungkan pada seutas tali di sekeliling leher, dan itu merupakan sebagian dari diri mereka sedemikian rupa sehingga mereka diijinkan untuk memakainya pada hari Sabat (Shabbath 6:3)
terlihat bahwa minyak wangi itu bukan hanya mahal, tetapi juga merupakan sebagian dari diri pemiliknya. Tetapi perempuan ini tetap mau mempersembahkannya / menggunakannya untuk Yesus! Tidak ada yang terlalu bagus untuk Yesus
Memang, kalau seseorang betul-betul mengasihi Yesus, ia akan mau mempersembahkan apapun juga, seakan-akan itu adalah sesuatu yang tidak berharga


4. Memberi dengan totalitas
Akhirnya ia mengurapi kaki-kaki Yesus dengan minyak wangi itu. Biasanya ini dicurahkan pada kepala. Penggunaannya pada kaki-kaki mungkin merupakan suatu tanda kerendahan hati. Mengurusi kaki-kaki merupakan tugas yang rendah, tugas yang diberikan kepada seorang budak..

Sesuatu yang luar biasa dari perempuan ini adalah bahwa ia memberikan sesuatu yang berharga untuk Yesus, tetapi ia tidak memberikannya dengan perasaan bangga, tetapi dengan perasaan tidak layak, sehingga ia mencurahkannya ke kaki Yesus! 

Aplikasi
Perjumpaan dengan Tuhan Yesus telah mengubah segalanya dan.tanda dari perubahan hidup tampak dari apa yg diberikannya kepada Tuhan. Fokus pada sikap yg memberi, Berpusat hanya pada Tuhan Yesus, inilah Penyembahan yg radikal !
Kata Persembahan berakar dari: "worship" = sembah , pelakunya adalah penyembah.
Berbeda dengan memberi kolekte yg kata kerjanya" collect"= mengumpukan.pelakunya adalah kolektan. Semua jemaat maupun pemimpin jemaat adalah worshipers jadi apa saja yg dilakukan haruslah dalam spirit worship!
Namun mari kita bersikap terbuka : Gereja masa kini harusnya menjadi agen yg bukan saja menyuarakan kebenaran tetapi sebagai frontliner yg memeragakan kebenaran. Namun seringkali hanya piawai mengemas aktivitas keagamaan pada tataran konsep, ujungnya jauh dari kehidupan yg sejati.
Karena takut kehilangan pengikut yg berarti kehilangan income makanya tidak sedikit gereja yg kehilangan jati dirinya , inovasinya bergerak mengikuti selera pasar, aman dan menguntungkan. Progresivitas gereja tidak beda dengan perusahaan yg profit oriented.
Gereja sangat bersemangat meminta orang lain bersikap all out dalam memberi , berkarya dan melayani Tuhan tetapi para pemimpin gereja yg hanya selesai memimpin ceremoni, mengajar atau kunjungan , sudah merasa banyak memberi yg terbaik untuk Tuhan. bahkan merasa layak mendapat apresiasi yg lebih baik!
Radkalisme penyembahan itu untuk saya, saudara, pemimpin gereja dan kita semua
Berhentilah menggelitik emosi jemaat dengan dasar Firman Allah yg benar tetapi dengan motivasi yg tidak benar!
Jika gereja tidak segera mengubah mentalnya sebagai lembaga yg maunya hanya menerima...menerima dan menerima berarti kita telah salah memberi warna pelayanan kita.
Bukan hidup sebagai worshiper tetapi kolektan.
Bukan hidup sebagai penatalayan tetapi sebagai pialang.
Tentukan lagi pilihan karakter pelayanan kita: HITAM PUTIH atau KELABU!!!


by Haris Subagiyo http://graciaministry.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar