Sabtu, 12 Maret 2011

Modal kaki lima tembus hotel bintang lima

Mengelola keterbatasan dan tantangan dalam kompetisi yg luas
Pekerjaan Tuhan bukanlah aktivitas yg boleh memisahkan diri dari sistem kerja global dan integral. Pelayanan yg sekalipun bersifat rohani, mengatas namakan Tuhan, tidak dapat bekerja menutup diri dengan tatanilai yg anggapnya benar, apa yg sedang kita kerjakan saat ini memiliki korelasi dengan fakta perubahan didunia nyata. Dalam konteks pelayanan, diakui atau tidak, akan terus terjadi kompetisi diantara kita. Kompetisi tidak salah bahkan dibutuhkan dalam kerangka kemajuan pelayanan itu sendiri. Justru tanpa kompetisi maka pelayanan akan stagnan, asal-asalan dan tidak berbobot.
Diskusi yg perlu ditengahkan adalah bagaimana kompetisi pelayanan justru berdampak pada prestasi yg mengefektifkan kerja  dan berdaya jual tinggi.
Yohanes 1 : 29 - 50
A.Kompetisi sebagai realita yg tak terhindarkan

Yohanes pembabtis dipercayai Allah dalam kapasitas sebagai pemimpin Perjanjian Baru, yg melekat dengan tanggung jawab besar, tampil dengan wibawa dan ber integritas. Sebagai manusia biasa, ia adalah hamba Tuhan, Ia punya konsep yg visioner, ia punya pengikut (murid-murid) dan ia punya martabat, sama seperti kita! 
Namun dalam Yoh. 1: 35 - 37 
mencatat tentang berpindahnya dua orang muridnya kepada Yesus.

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya
Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"
"Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus."

Ucapan Yohanes Pembaptis yang menyaksikan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah mempunyai pengaruh yang langsung menggugah iman muridnya, sehingga kedua murid (Andreas dan Simon)  mengambil keputusan segera meninggalkan guru mereka dan berpindah mengikut Tuhan Yesus. Dengan berkurangya murid Yohanes Pembabtis, apakah telah terjadi persaingan antara Tuhan Yesus dengan Yohanes Pembaptis? 

Memang tidak tepat jika dikatakan telah terjadi rivalitas atau kompetisi antara Yohanes dengan Tuhan Yesus.  Karena Yohanes Pembabtis memang adalah hamba Tuhan dengan spesikasi pembuka jalan bagi pelayanan Tuhan Yesus. Dalam pekerjaan Tuhan memang tidak mengenal  formula KOMPETISI  , kita hanya mengenal Relationship (hubungan) dan Kemitraan (patnership).
Namun dari dimensi kemanusiawian kita, sejujurnya berkurangnya jumlah jemaat yg kita layani bukanlah persolan yg remeh, akibatnya sering menyisakan luka yg terus menganga, sakit hati, kecurigaan bahkan permusuhan diantara kita sesama pelayanan Tuhan.

Pertanyaan ini patut dikemukakan karena secara faktual Yohanes Pembaptis telah kehilangan 2 orang  muridnya, dan Tuhan Yesus memperoleh 2 orang murid

Bagaimanakah bila suatu gereja Tuhan kehilangan sebagian anggota jemaatnya dan mereka memilih untuk menjadi anggota di gereja yang lain? Bukankah ini merupakan bentuk kompetisi terbuka yg tak terhindarkan!

B. Kompetisi adalah pola seleksi untuk mengupdate bobot pelayanan kita

Persaingan tersebut pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis dari dinamika pelayanan . Kini kompetisi bukan lagi menjadi hal yg tabu: dimana orang tidak  boleh membicarakan kelebihan, prestasi atau keberhasilan orang lain. Malahan sekarang ini kompetisi dimainkan secara vulgar sebagai instrumen untuk mencari pribadi yg berkarakter unggul di segala bidang. Bila perlu untuk menjabat fungsi struktur tertentu orang harus melewati FIT & PROPER TEST- orang lain diberikan hak menilai , berkomentar bahkan mengrikitiknya secara konstruktif.

Kompetisi pelayanan merupakan bagaian yg wajar untuk diterima, kita tidak dapat membuang muka terhadap kenyataan ini, sebab persaingan dalam kehidupan manusia merupakan bagian yang konstruktif, asalkan dilandasi oleh prinsip dan nilai-nilai moral kebenaran.

Apabila dalam kehidupan ini terjadi persaingan yang konstruktif, pastilah lahir perubahan, kemajuan, dan perkembangan dalam peradaban umat manusia. Jadi  yang harus kita tolak dan hindari adalah segala bentuk persaingan kotor yaitu persaingan yang menghalalkan segala macam cara dan berbagai tindakan yang tidak etis seperti teror, kelicikan, fitnah dan desas-desus. Sebab persaingan yang menghalalkan segala macam cara sesungguhnya dilandasi oleh sikap diri yang tidak kompeten,

Bagaimana kita mampu mengelola kompetisi sehingga mengubahnya menjadi prestasi? 


C. Kompetisi pelayanan harus dihadapi dengan kompetensi.

Strategi menghadapi kompetisi, tidak ditemukan cara lain kecuali kompetensi.
kata “competence” berarti: kecakapan atau keahlian, daya saing
Apabila kita memiliki kompetensi dalam pelayanan, pastilah kita berani untuk bersaing melewati pintu depan (ksatria) tidak  peduli dimana kita ditempatkan. Tetapi mereka yg tidak kompeten akan mengedepankan emosi dan otot. Sehingga eksistensi sesama pelayanan dianggap kompetitor bahkan  dijadikan lawan tanding (Sparring patner) bukan sebagai mitra kerja (patnership).
Namun dalam pelayanan  menuntut kompetisi yg berbasiskan moral, etika dan integritas diri, sehingga nafas yg dihembuskan dari kompetisi itu adalah semangat pelayanan yg sehat dan bermutu.
Bagaimana mengembangan kompetensi dalam pelayanan?

1. Kembangkan kacakapan moral sebagai hamba Kristus.

Yohanes menegur para pemimpin agama dan para teolog (orang Farisi dan Saduki) supaya menghasilkan buah sesuai dengan pertobatannya. Sikap moral yg original adalah investasi utama dan terbesar dalam pelayanan.
Kebiasaan atau kemampuan kita yg terbukti berbuat baik atau senang berbuat baik bukanlah ukuran keaslian watak kita. Kualifikasi moral yg dituntut dalam pekerjaan Tuhan adalah karakter yg dihasilkan oleh hati yg bertumbuh karena kebenaran Firman Tuhan, yg dibangun dari hubungan intim dengan Tuhan sang pemberi mandat.
  • Kita tidak dapat menjual perbuatan baik untuk menarik simpatik publik, 
  • Kita tidak dapat merekayasa watak dasar  supaya tampil bermoral menyesuaikan dengan dengan pangsa pasar.
  • Kita tidak dapat berstandar ganda guna memanipulasi diri yg sebenarnya!
Kompetensi moral pelayanan adalah terwujudnya orisinalitas watak kita yg benar-benar terpanggil untuk kemuliaanNya.

2. Kembangkan kecakapan intelektual kita

Tidak ada bukti bahwa Yohanes Pembabtis adalah sarjana teologi selevel dengan Paulus atau Gamaliel. Yang pasti Allah sendiri menganggap dirinya memliki kompetensi yg mumpuni untuk menyuarakan kebenaran secara konservatif, tegas, tanpa pandang bulu. Perhatikan pemakaian gaya bahasa yg disampaikannya sangat tajam,  terukur namun argumentatif ,menunjukkan kecerdasannya melebihi mereka yg terdidik secara formal akademis.

Pendidikan formal teologia sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter dan pola berpikir seorang hamba, namun keterbatasannya bukan ukuran kegagalan kompetensi pelayanan. Terbukti banyak orang yg sukses secara akademis hanya berhasil memimpin dirinya sendiri. sedangkan mereka yg berkemampuan minim akademis ternyata tampil sebagai pemimpin besar yg menjadi berkat bagi banyak orang.
Pelayanan pastinya menuntut kompetensi kecerdasan! 
Seorang hamba Tuhan adalah pelajar yg sangat rajin untuk belajar menggali Alkitab dan menuruti perintah Tuhan.  
  • Seorang Hamba Tuhan berperanan penting untuk menyederhanakan kompleksitas arti yg terkandung dalam Firman menjadi konsumsi cernaan yg mudah ditelan oleh lapisan yg terpinggirkan sekalipun.
  • Hamba Tuhan harus mampu menterjemahkan bahasanya Tuhan menjadi realitas yg mudah dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ini pekerjaan yg menuntut kecakapan khusus yg harus diperoleh dari pendidikan yg memadai. bukan sekedar menggali inspirasi, menyesuaikan diri dengan kabar aktual, menentukan tema kotbah dan mencari ayat-ayat pendukung saja!!! karena miskinnya penggalian Alkitab materi yg didapatpun sangat terbatas sehingga perlu ditambah kotbah pengalaman pribadi.
Atau karena kita malas untuk bersungguh-sungguh belajar Alkitab maka kita tidak menyukai eksposisi  namun mengandalkan alegori (kiasan). Ini tidaksalah namun kalau sampai terbentur dengan kesulitan intepretasi kemudian diartikan saja secara rohani maka kita sedang membohongi mereka yg kita layani! 
Ingatlah bahwa mereka yg kita layani adalah pribadi yg tinggal dalam dunia yg dinamis, berkembang dengan cepat, dengan sebaran informasi yg akurat cepat dan bermutu.  Tidak menutup kemungkinan mereka juga punya kemampuan untuk menggali Alkitab lebih baik. 

Dapatkah  pelayanan akan menggelinding sendiri menuju keberhasilan tanpa diimbangi dengan kecerdasan sikap dan pola pikir kita yg up to date?
Jadi kembangkanlah kecerdasan kita menjadi semakin baik lagi.!

3. Kembangkan kecakapan manajerial kita

Yohanes Pembabtis adalah seorang yg sangat disiplin dengan tanggung jawabnya! Walaupun pelayanan sangat unik:
Ia hanyalah "suara" yg menyampaikan pertobatan
  • Ia adalah pasukan pembuka jalan
  • Ia hanya menlayani dipadang belantara
Tugasnya berhasil sampai pada tercapainya jalan untuk kerja pelayanan Tuhan Yesus.
Sehingga ketika orang-orang yg dimuridkannya sekarang berpindah kepada Tuhan Yesus justru itu dianggap sebagai tujuan dari pelayanannya. - membawa orang pada Mesias!
Yohanes Pembabtis adalah sosok yg low profile, tidak gembar gembor didalam gedung mewah, tampil apa adanya namun berhasil dalam kompetensinya membuka jalan bagi Tuhan Yesus. Dapat kita pahami bahwa sesungguhnya Yohans Pembabtis adalah:

a. Seorang hamba Tuhan yg fokus pada tujuan
b. Seorang hamba Tuhan yg sangat disiplin dalam panggilan hidupnya.
c. Seorang hamba Tuhan yg berkarakter hamba.

Singkatnya Yohanes layak dianggap kompeten mengerjakan tugas pelayanan secara spesifik karena kecakapannya dalam mengelola hidupnya.
  • Walaupun ia ditempatkan di padang belantara (desa terpencil, tidak listrik, tidak ada TV apalagi internet) namun suaranya menggema sampai istana.
  • Walaupun yg ia tampilkan hanya sebagai suara namun dampaknya bung.......mengubahkan sikap banyak orang untuk bertobat.
  • Walaupun makanannya madu  hutan dan belalang tetapi pelayanannya powerfull (sangat bertenaga) menyerukan pertobatan massal.
  • Walaupun peformanya seperti orang desa - hanya memakai bulu unta dan ikat pinggang kulit, namun  menggebrak para intelektual, pejabat bahkan menggetarkan hati seorang raja.
Ini adalah adalah keberhasilan megelola apa yg ada dalam diri kita, dengan segala keterbatasan dan kelebihan untuk pelayanan yg maksimal. Pola pelayanan Yohanes Pembabtis sepertinya mengadopsi propaganda masa kini: "Modal kaki lima tembus hotel bintang lima"  
awas jangan terbalik redaksinya!
  • Pelayanan model kaki lima tapi amplopnya brooooo .......bintang lima  ! 
  • walaupun pelayanan minimalis tetapi seleranya metropolis! 
  • walaupun kalah nasi asal jangan kalah dasi !
Konstruksi ulang formula pelayanan kita!
kompetisi yg menuntut perubahan semuanya, yg paling baik dengan kekuatan ekstra. Walaupun dengan segala keterbatasan dan dipenuhi berbagai rintangan namun tetap harus disikapi secara cerdas! Kita tidak dapat menyalahkan keadaan, orang, kurangnya investasi, minimnya support moral dan keuangan. sebagai alasan untuk tidak mendayagunakan apa yg sedang Tuhan anugerahkan  sekarang ini sebagai investasi besar 

Kompetensi adalah jawaban atas bentuk kompetisi apapun yg sedang kita hadapi. 
Jangan pernah menyerah dengan segala keterbatasan, kekurangan dan rintangan dalam melayani Tuhan.
Pilihan Allah terhadap diri kita adalah panggilan Allah yg tepat, sudah direncanakan, ditujukan pada orang yg tepat, dengan kapasitas yg tepat dan diberikan pada tempat yg tepat. sehingga tak ada jalan lagi kita berbelok arah menjauhi panggilanNya, kecuali satu hal: mengembangkan kompensi kita semaksimal mungkin bersama Tuhan yg kita layani,
 Amin GBU


by Haris Subagiyo
http://gbialetheia.blogspot.com

Rabu, 09 Maret 2011

Dapatkah kita tak menyakitiNya lagi



Apa yg kita kerjakan tidak selamanya lurus dijalan yg benar, ada kalanya kita menolak dianggap salah dengan dalih rohani sebagai alasan pembenar. Kekristenan bukan pilihan namun komitmen untuk konsisten hidup benar walau manusia kita masih bisa berbuat salah dan perlu diluruskan!



Untuk mendisiplin supaya makin dewasa dalam Kristus, perlukah hidup kita dikejutkan oleh kemarahan Tuhan? atau kita bersedia tidak menyakitiNya lagi ?

Matius 21:12-13
21:12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa . Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.


Anggapan karena kita telah berjalan dijalur legal ,berkomitmen tepat sebagai hamba Tuhan, melayani secara fulltime & powerfull untuk Tuhan, merasa yg kita lakukan sudah benar dan jauh dari kecemaran dunia benarkah?
Tidak adanya otokritik terhadap mereka yg bekerja mengatasnamakan Tuhan, memaksa Tuhan merevolusi tatanan ibadah yg sudah tercemar pada saat itu. KemarahanNya dikerjakan supaya sekarang ini tahu bahwa betapa sakitnya Tuhan jika legalitas pelayanan yg kudus ternyata kita campur aduk dengan nafsu duniawi..

Ironinya kemarahan Tuhan Yesus tidak dilakukan di pusat perbelanjaan (tempat transaksi) justru dilakukan di area pelayanan yg dipersepsikan sebagai kumpulan orang-orang yg jauh dari lumuran dosa.
Ada dua alasan mendasar kemarahan Tuhan Yesus:
1. Saat menjadi hidup kita batu sandungan bagi orang lain
( Menghalangi hak orang lain untuk boleh beribadah kepada Tuhan)
Tuhan Yesus marah karena : di halaman Bait Suci yg seharusnya menjadi tempat berdoa bagi orang-orang bukan Yahudi berubah fungsi sebagai tempat terjadinya transaksi ekonomi. Dengan adanya transaksi dagang di sana, tempat berdoa bagi orang bukan Yahudi menjadi tidak penting, sehingga orang-orang bukan Yahudi kehilangan akses untuk beribadah kepada Allah yg benar. hak beribadah mereka dikalahkan dengan kepentingan uang.
Keberadaan halaman bait Allah ini sangat penting, sampai Allah secara eksplisit mencatatnya dalam suatu janji kepada umatNya. 

Yesaya 56 :7
“… sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”,
tetapi bangsa Israel telah merubahnya menjadi sarang penyamun. 

Allah berjanji bahwa Dia akan menerima bangsa-bangsa (lain non Yahudi) di Bait Suci-Nya sebagai rumah doa bagi segala bangsa, bukan hanya bagi bangsa Yahudi. Segala suku, bangsa & bahasa boleh datang beribadah di Bait SuciNya.

Waktu Salomo mentahbiskan Bait Suci, 1 Raja 8:41-43,
Salomo berdoa “Ya TUHAN Allah kami, kalau ada orang asing yang datang dari negeri yang jauh dan datang ke tempat ini mencari nama-Mu dan berdoa kepada-Mu, kiranya Engkau 
mendengarkan dan menjawab doa mereka supaya mereka tahu bahwa Engkaulah TUHAN.”

Begitu pentingnya halaman bait Allah bagi ibadah orang-orang non Yahudi. sehingga sudah dirancang oleh Allah sendiri jauh-jauh hari sebelum pembangunannya. Ternyata di halaman bait Allah, tempat dimana semestinya bangsa-bangsa bukan Yahudi datang untuk sembahyang. Orang-orang Yahudi telah bersindikasi dengan para pemimpin agama untuk merombak secara formali fungsi “pelataran bangsa-bangsa” menjadi tempat berjualan sehingga urusan tempat bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi untuk datang bersembahyang bukanlah hal yg perlu dipikirkan.
Inilah alasan utama mengapa Tuhan Yesus begitu marah.. 
Tuhan Yesus berkata “… kamu telah menjadikannya sarang penyamun”. 
Kata lain dari penyamun adalah perampok, jadi apa yang mereka rampok. Mereka merampok hak bangsa-bangsa lain untuk datang bertemu, berdoa dan mengenal TUHAN : Allah Yang Sejati Yang Hidup. Hak bangsa-bangsa lain telah dirampas oleh orang Yahudi untuk mengeruk keuntungannya material belaka.

Pemilihan Allah terhadap bangsa Yahudi sebenarnya dalam kerangka menjadi saluran berkat tetapi bangsa Yahudi justru berhenti pada kebanggaan rasial sebagai bangsa pilihan Allah dan tidak mau menjangkau bangsa-bangsa lain yg harusnya menjadi sasaran kebaikan Allah.
Bangsa Yahudi hanya berfokus pada berkat anugerah Allah bagi dirinya sendiri. Mereka merampok secara terang benderang apa yang telah disediakan Tuhan bagi bangsa-bangsa lain untuk menggemukkan diri sendiri.
Lebih jauh bangsa Yahudi ini bukan saja hanya tidak mau menjangkau bangsa-bangsa, tapi dengan sengaja mereka menghalangi bangsa-bangsa lain mencari Allah Yang Hidup dan Sejati. Perbuatan ini dianggap Tuhan Yesus sebagai dosa besar dan harus dibongkar!

Aplikasi:
Tidak mengkondisikan diri sebagai saluran berkat Allah didunia ini tidak dapat dikatakan sebagai kelalaian kecil atau hal yg lazim.
Tuhan Yesus menganggap berhentinya kita menjadi saluran kasih, penyuara kebenaran, pembawa terang adalah rapor merah gereja yg tidak dapat ditoleransi.

2. Saat meng-komersialisasi atas nama Tuhan

Mengapa Tuhan Yesus marah ketika melihat orang-orang yang berjualan di Bait Allah? Tuhan Yesus marah karena para pedagang telah mengubah fungsi Bait Allah, dari tempat untuk beribadah menjadi tempat untuk mencari keuntungan materi. Yesus marah karena terdapat banyak perbuatan "kotor" di dalam Bait Allah. Bait Allah tidak dijadikan sebagai rumah doa, tetapi telah dijadikan tempat untuk perdagangan yang penuh dengan kecurangan dan penipuan.

a. Penipuan aturan persembahan hewan korban:
Datang menghadap Tuhan tidak boleh dengan tangan hampa sungguh mereka pahami. Dan mereka sudah mempersiapkan binatang korban dari rumah yg terbaik dari yg mereka punya namun betapa jahatnya mereka sesampai di pelataran bait Allah persembahannya ditolak dengan alasan teologis yg jlimet & tidak rasional sehingga umat Tuhan yang dengan tulus memberi persembahan korban kepada Allah diwajibkan mengganti hewan korban yg dibawa sendiri dengan hewan korban yang dijual di Bait Allah dengan harga yang sangat mahal. (telah di markup)


b. Penipuan aturan persembahan uang:

Mata uang tidak dinilai jumlah nominal & keabsahannya dipasar tetapi dipersoalkan asal negaranya. sehingga umat yang mau mempersembahkan uang harus mengganti mata uang Romawi atau negara asal mereka dengan mata uang Israel (dirham) yang nilai kursnya dimarkup (ditinggikan) akibatnya sangat memberatkan bagi para peziarah yang miskin
Kemarahan Tuhan Yesus hendak meniupkan peluit bahaya.....Hai....lihatlah....
Ada mafia pajak bait Allah, ada kecurangan di gereja, ada persekongkolah jahat di pelayanan.


mereka tidak segan untuk “merampok” kekayaan orang-orang miskin yang mau datang berdoa dan beribadah kepada Allah. Orang-orang yang datang ke Yerusalem untuk berdoa sangat dirugikan oleh perbuatan para "penjahat" Bait Allah. Oleh kerena itu, Yesus sangat marah dan membongkar tempat orang2 berjualan. Atas perbuatan Yesus ini.
Aplikasi:
dalam gereja saat ini, walaupun dalam bentuk yang berbeda. Banyak orang datang ke gereja bukan dengan spirit beribadah, melainkan untuk mencari relasi bisnis, mencari pasangan hidup, atau agar mendapat bantuan diakonia.
Memiliki relasi bisnis dengan sesama orang Kristen tidaklah salah, tetapi datang ke gereja dengan motivasi untuk memasarkan barang dagangan akan membuat seseorang sulit berkonsentrasi dalam beribadah.
Mencari pasangan hidup yang seiman merupakan hal yang seharusnya dilakukan, tetapi hal itu tidak boleh menggeser ibadah kita.
Mendapat bantuan diakonia pun juga tidak salah, tetapi hal itu tidak boleh menjadi tujuan dalam beribadah.
Kita yg bekerja melayani Tuhan juga masih mungkin berbisnis dalam pelayanan, dimana pelayanan kita jadikan tempat mata pencaharian yg dari pada berkompetisi dalam market place yg membutuhkan lebih banyak keahlian. lebih mudah sekolah Alkitab bisa dapat uang kolekte (bukan persembahan)
Siapapun diri kita, tak usah menunggu Tuhan menyentak dengan kemarahanNya untuk mendisiplin kita. Kegeraman Tuhan Yesus di pelataran Bait Allah biarlah menjadi hajaran yg cukup bagi kita mereposisi komitmen pelayanan bagi kemuliaan Tuhan saja.
Kini saatnya kita tidak menyakitiNya lagi.....selamat melayani..selamat berkarya GBU

by. Haris Subagiyo 

Selasa, 08 Maret 2011

Membingkai Model pelayanan sendiri


Melayani pekerjaan Tuhan , seperti menempatkan mereka yg terlibat didalamnya bagai pribadi super, pilihan hidupnya sudah dianggap masuk pada keputusan yg benar, telah menjadi orang yg berani menginvestasikan seluruh hidupnya bagi Tuhan. ya......setidaknya orang awam akan hormat dan memberi acungan jempol atas pilihan hidupnya serta mengidenfitikasinya sebagai keberhasilan secara moral.
Tidak ada yg salah dengan bentuk pelayanan itu sendiri karena hal ini sungguh dibutuhkan, bernilai mulia bahkan menjadi tujuan hidup. Yang menjadi catatan adalah: kita sering membingkai sendiri model pelayanan menurut ukuran dan referensi yg telah kita anggap benar.
Bagaimana Tuhan Yesus mengapresiasi pelayanan kita?
Narasi tentang Maria dan Marta: menjadi model pelayanan kita
Lukas 10 : 38 - 42
10:38Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
10:39Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
10:40sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
10:41Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
10:42tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Adalah tidak tepat jika kita selalu memandang dengan sebelah mata kerja keras Marta sebagai orang yg bernilai rendah dibanding dengan Maria yg duduk dekat dikaki Tuhan.
Apa yg sebenarnya terjadi?


a. Marta adalah orang yg ringan tangan
Pekerjaan yg dilakukan Marta untuk memberi jamuan makan bagi Tuhan Yesus dan para murid, tidak dapat dikatakan sebagai hal yg tidak perlu atau murahan. Hidup ini butuh energi yg disuport dari makanan jasmani. Jamuan makan itu sendiri adalah bentuk penerimaan tuan rumah atas tamu yg diundangnya secara bertanggung jawab, ini bukan saja menyenangkan tetapi juga dibutuhkan. Marta menjadi orang yg berkeringat dan berkorban untuk Tuhan


b. Marta adalah orang yg jujur & terbuka
Tidak ada perasaan yg disembunyikan dalam dirinya, ia tak ragu mengkomunikasikan secara  terus terang kegalauan hatinya kepada Tuhan dengan cara yg santun. Ia tidak berteriak-teriak dari belakang dapur sebagai reaksi ketidak setujuannya, untuk mengundang perhatian Tuhan atas lelahnya pekerjaan yg sedang ia kerjakan, atau ia tidak mengekspresi bahasa tubuh yg tidak menyedapkan sebagai sentilan kepada Tuhan dan Maria . Kita harus mau mengakui bahwa Marta ini telah menjadi model obyektifitas manakala kita sedang berseberangan opini dengan orang lain. ia bersedia melakukan pendekatan dengan jujur dan santun .


c. Marta adalah seorang inisiator (even organiser) handal.
Seorang wanita pada jaman itu berada pada level diskriminasi rendah sehingga peranannya sangat tidak diperhitungkan. Wanita menjadi pribadi yg terpinggirkan , ia hanyalah orang yg lekat dengan urusan : "dapur (memasak), pupur (berdandan dengan kosmetik) dan kasur (urusan ranjang)". Namun Marta sanggup menembus batas asumsi gender dengan berani mengambil inisiatif sendiri mengundang Tuhan Yesus yg dianggap sebagai tokoh panutan untuk beraudensi dirumahnya. hebat bukan......


Apakah kita menolak bentuk pelayanan yang dikerjakan Marta?
Gereja membutuhkan pekerja-pekeja Kristus yg ringan tangan, mau bekeringat untuk melayani, yg kaya dengan ide untuk membangun iman bersama, gereja sangat membutuhkan orang orang jujur , berterus terang dan santun yang berani memberikan hidupnya sebagai upaya untuk menyenangkan hati Tuhan.


Apa yg salah dalam diri Marta?
Tuhan Yesus sama sekali tidak mencela bentuk pelayanan Marta, yg dikoreksi adalah apa yg melatar belakangi pelayanannya, dari mana pelayanan itu dimulai dan apa yg diharapkan. Perikop ini menjadi koreksi Tuhan Yesus atas semua orang yg bergiat dalam pelayanan pekerjaanNya.
Tuhan Yesus harus mengoreksi kerja pelayan kita! Karena lebih mudah tergoda untuk membingkai sendiri format pelayanan menurut referensi atau standar yg subyektif (saya anggap benar) bukan berdasar pada apa yg dibutuhkan Tuhan. dan menjadi rancanganNya.


1. Koreksi Tuhan atas pelayanan yg bermotif transaksi


Dalam keterbukaannya, Marta hendak menyampaikan keluhannya atas beberapa kesalahan yg dilakukan oleh mereka yg mendengar perkataan Tuhan Yesus dengan tekun:

a. Keluhan Marta terhadap Tuhan Yesus:
Tuhan dianggap telah bersalah karena membiarkannya bekerja sendirian di  dalam segala persiapan melayani Tuhan Yesus dan murid-muridNya.  Ia menganggap Tuhan Yesus tidak peduli terhadap situasi  yang dihadapinya. Seharusnya Tuhan Yesus  memberi setidaknya penghargaan terhadap jerih lelah yg diupayakan.
b. Keluhan Marta terhadap Maria :
Maria juga  telah dianggap mengambil keputusan salah dengan membiarkan dirinya bekerja sendirian. Ini tidak adil, masakan saya sendiri yg berlelah sedangkan Maria hanya diam saja. Harapannya walaupun tanpa harus diperintah, ada orang yg bersedia ikut mengambil bagian dalam pekerjaannya tetapi mengapa ia diam saja bahkan dengan santai tetap duduk dekat kaki Yesus.   
Marta merasa diabaikan oleh Tuhan Yesus – padahal Marta, adalah pihak yang mengundang Tuhan Yesus untuk datang ke rumahnya.  Tuan rumah yang seharusnya mendapat perhatian, seolah-olah justru diabaikan oleh sang tamu.  
Keluhan Marta sesungguhnya bukan karena Tuhan Yesus membiarkan Maria berdiam diri tidak membantunya. Namun tuntutan supaya Tuhan  menaruh rasa peduli dan penghargaan yg sepantasnya kepadanya.
Keluhan Marta adalah tuntutan yg realistis! Masakan orang yg bekerja keras tidak boleh mendapatkan penghargaan? Semua orang yg bekerja melayani Tuhan sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan atau upah. Gereja (pemimpin geraja) tidak dapat mengelak dari tanggungjawab ini. Gereja tidak dapat berdalih bahwa ini pelayanan brooor.......bukan perusahaan, jadi upah anda tidak didasarkan pada loyalitas,  kapasitas dan prestasi kerjamu tetapi atas dasar etiket baik sang gembala jemaat. wah diplomatis banget.........
Mengapa gereja yg memotivasi umat untuk bekerja secara profesional dalam segala bidang tetapi justru gereja sendiri sering tidak punya tata kelola yg profesional?  pengelolaan keuangan yg tidak jelas (tidak akuntable), kepemimpinan yg one man show, administrasi ala kadarnya. Sunguh sangat kasihan nasib para pengerja gereja, mereka telah memberikan seluruh hidupnya, tidak  sempat memikirkan kesenangan, tidak memikirkan masa depannya, mati hidupnya ada dalam gereja! Namun perjuangan mereka sering dianggap sebagai hal biasa , bagian dari voluntarisme (kerja sukarela tanpa perlu dibayar)saja, mereka diberi penghargaan rendah bahkan lebih rendah dari upah buruh pabrik. Ironisnya mereka yg bekerja diladang Tuhan: disanjung sebagai pekerja Kristus, Hamba Allah maha tinggi namun kesehariannya diperlakukan seperti seorang pembantu rumah tangga! Mengapa mereka dapat bertahan, karena dikuatkan oleh doktrin: hamba Tuhan tidak boleh digaji ? mereka selalu dihibur dengan lagukerja buat Tuhan selalu manise biar tanpa gaji selalu manise.... Lagu ini adalah kesenangan para pemimpin gereja yg mapan dengan punya banyak kaki tangan yg selalu siaga mengerjakan pelayanan apapun tetapi lagu ini menjadi penderitaan bagi para pengerja gereja......ngenes.....ngenes....saknoooooo. saknooooooo
Untuk menuju kearah perbaikan memang tidak mudah, hal ini membutuhkan manajeman pelayanan yg baik , kerja jeras, kerelaan berkorban, good will , proses  waktu yg tidak singkat.
Bukalah mata dan hati kita !!!!!!  Dengarlah keluhan Marta! 
berilah apresiasi yg sepantasnya kepada meeka yg bekerja diladang Tuhan!
Kita tidak perlu untuk membela diri bahwa gereja adalah lembaga yg "nonprofit" namun realitanya  gereja tidak mungkin dapat energi yg fit, fresh dan efektif tanpa sumber keuangan yg memadai . Justru mereka yg mempropagandakan pelayanan non profit realitanya berfokus pada profit. hidupnya berkelimpahan, penampilan parlente, makan mewah,mobil mewah (tidak mencerminkan penampilan hamba) tetapi yg berjuang sebagai pengerja hidupnya susaaaaaaah.............namun salut, mereka masih bisa bernyayi: "biarkan aku miskin didunia, asal kaya disorga......., ya semoga saja! 


Bagi kita yg giat melayani pekerjaan Tuhan, ada juga kesalahan prinsip yg perlu dikoreksi!
Orang lain tidak melihatnya bahkan masih menilai kinerja kita top..... markotop.... tetapi Tuhan melihat apa yg menjadi MOTIF PELAYANAN kita.
Seringkali, seperti Marta menuntut Apresiasi pelayanan dan menempatkannya sebagai tujuan. inilah yg menjadi sasaran krtik Tuhan Yesus!


Tuntutan penghargaan atas kerja keras Marta ini telah mengaburkan esensi pelayanan yg sebenarnya. Pelayanan sudah pasti berbanding lurus dengan mendapat upahnya tetapi tujuan pelayanan bukanlah upah semata. Jika TARIF pelayanan mendahului Tujuan pelayanan,
Ini yg disebut pelayanan transaksional. karena orang sudah menentukan sendiri harganya: Siapa mendapatkan apa dari pelayanan.
Kita sering menempatkan diri sebagai pekerja Kristus dengan menetapkan harga yg pantas dari: jam terbang, pengalaman akademis, rating dan popularitas sehingga melupakan arti NILAI pelayanan. Pelayanan itu kita anggap sebagai transaksi sebuah HARGA diri yg harus dibayar oleh orang lain atas nama Tuhan,  bukan tuntutan NILAI yg kekal melebihi kebutuhan dan harga diri kita sendiri yg harus diperjuangkan.
Berapa harga yg harus dibayar oleh Tuhan untuk melunasi tarif pelayanan kita?
1 jam 10 juta+ tiket pesawat.......1 juta sekali kotbah+akomodasi hotel mewah.....atau 300 ribu rupiah setiap bulan.....? ah Anda nyindir saya lagi.......tidak, ini adalah fakta
Jadi sekarang, Tentukan sendiri tarif Saudara!....


2. Koreksi Tuhan atas pelayanan yg tidak berbasis RELASI


Kesibukan Marta dalam melayani Tuhan telah menempatkan dirinya terperosok dalam kelompok tersendiri seolah terpisah dari orang lain. Itu nampak dari keluhannya yg menganggap pekerjaan orang lain itu tidak lebih baik dari yg dapat ia kerjakan. Sibuk sampai tidak dapat melihat orang  disebelahnya sebenarnya juga sedang bekerja.
Maria duduk dekat kaki Tuhan yg sedang menbangun hubungan pribadi dengan Tuhan juga serius mendengar fiman Tuhan dianggap sebagai sikap yg malas, tidak aktif bekerja, lupa tanggung jawab dsb.
Koreksi Tuhan adalah karena kita bekerja melayani Tuhan dengan menagbaikan pentingnya prioritas hubungan: Bagaimana mungkin pelayanan pekerjaan Tuhan menjadi efektif tanpa hubungan pribadi dengan Tuhan?


1. Pelayanan membutuhkan Hubungan pribadi dengan Tuhan


Maria dinilai Tuhan Yesus telah memilih yg terbaik karena alasan prioritas!
" Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." 
a. Prioritas Membangun hubungan yg baik dengan Tuhan, tanpa relasi yg harmoni dengan Tuhan, sebenarnya kita hanya melayani obsesi  diri sendiri. Kita hanya menjadi orang yg gila dalam pelayanan tetapi tidak mengenal siapa yg sedang kita layani, ini aneh....
b. Prioritas Mengisi hidupnya dengan perkara yg kekal - mendengarkan firman Tuhan yg dampaknya melebihi dari kenyangnya perut saat ini 
c. Prioritas pemakaian waktu: karena kunjungan Tuhan Yesus berlangsung singkat, pelayananNya juga akan segera berakhir didunia ini sehingga wajar jika Maria memaksimalkan kunjungan Tuhan dengan perkara yg kekal.


2. Pelayanan membutuhkan sinergitas relasi dengan sesama pekerja Kristus
a. Relasi yg tidak saling menghakimi 
Marta, dalam kisah ini disebutkan “sibuk sekali melayani”. Ia melayani sedemikian rupa, sehingga tidak bisa melihat pentingnya apa yang dilakukan oleh Maria, yaitu “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Ia tidak mengerti tindakan Maria. 
Sementara itu, ia melayani sambil menggerutu dan mengasihani diri. Padahal apa yang dilakukan Maria adalah juga bagian utama dari tindakan melayani pribadi Tuhan. mengambil waktu khusus untuk bersekutu dan mendengar suara Tuhan bahkan adalah energi yg seharusnya dibutuhkan dalam pelayanan


b. Relasi yg saling melengkapi 
Melayani pekerjaan Tuhan tidak dapat dipisahkan dengan membangun relasi yg baik dengan Tuhan. Melayani Tuhan adalah satu konstruksi utuh yg tak dapat dipisahkan dengan membangun pengenalan pribadi Tuhan, belajar firman Allah, menyembah dan berdoa.
Peranan Marta dibutuhkan dalam kerja eksternal pelayanan : rajin, kerja keras, jujur, bersemangat.
Peranan Maria juga dibutuhkan sebagai kerja internal dalam melayani.; bersekutu secara pribadi, berdoa, belajar firman Allah dan menyembah.
Maria dan Marta tidak dapat dikontraskan seolah yg satu  lebih baik dari yg lain atau boleh diabaikan.


Marta tidak melakukannya sendirian, saya sebagai pelayan Tuhan , kita semua sering tampak begitu bergiat dalam melayani, kepayahan sampai kehilangan sukacita. Sebagai kompensasinya: kita ngedumel dalam hati, mengasihani diri, dan mencela pribadi sesama pelayan. 
Ini adalah bingkai kedua yg kita bangun untuk menuntut orang lain supaya menjadi seperti saya. 

Kita merasa bahwa apa yg saya lakukan adalah yg paling baik, tanpa kehadiran saya pelayanan ini bagai gerbongtanpa lokomotif, saya layak dapat penghargaan, perlu diteladani bahkan menjadi acuan kerja pelayanan? sedangkan apa yg dilakukan orang lain itu masih belum layak jual, seperti anak yg lagi belajaran kotbah, karya murahan atau tidak begitu penting. 
Jadiah seperti saya?....... 


Pekerjaan Tuhan juga bukan kerja akrobatik seorang diri, 
Kita membutuhkan jasa orang lain untuk saling melengkapi konstruksi gereja itu sendiri yg memang beragam dengan kebutuhan yg komplek.
Namun memang patut diakui bahwa seringkali kepemimpinan gereja tidak dapat berjalan moderat dan visible seperti harapan Tuhan, bahkan cenderung kaku otoriter., centralistik, dominan. Bagaimana kita dapat merasa bangga dengan majerial gereja dimana  seorang pemimpin berperanan menjadi LEADER, MANAJER sekaligus OWER dari perusahaan yg namanya GEREJA.


Yang sedang kita kerjakan sekarang ini adalah PELAYANAN , mega proyeknya ALLAH . Membutuhkan kerja bareng semua pihak, semuanya adalah material penting dalam membangun gereja. Peranan kita betapapun kecilnya adalah sumbangan besar bagi progresivitas pelayanan.
Pelayanan adalah Rancangan Allah yg berorientasi kekekalan, kita tidak dapat mencampur kepentingan kita yg temporer, fana, egois, materialis: tersamar dengan  dengan lembaga rohani yg sedang yg kita propagandakan untuk kemuliaan Tuhan. Karena Tuhan pasti tidak lupa mengkoreksinya lagi!!!!
Pelayanan adalah kerja keras yg menuntut terbentuknya suatu NILAI kekekalan bukan tercapainya suatau HARGA yg kita bingkai sendiri menurut format kita.
Sudah saatnya, kita berhenti bekerja dengan membangun bingkai pelayanan sendiri.
Jika sistem pelayanan terlalu sulit dikendalikan untuk maju, 
kita tidak perlu menuntut orang lain untuk lebih dahulu berubah, saya dapat memulainya dari diri sendiri dan saya dapat mulai dari saat ini.
Bersama TUHAN YESUS kita pasti kita bisa berbuat lebih baik lagi membangun kerajaanNya, GBU
by Haris Subagiyo
Redaktur Gracia Ministry

Minggu, 06 Maret 2011

Hitam Putih Kelabu


Siapa diri kita tercermin dari plihan warna hidup kita!
sebelum kita terus jauh melangkah, sejenak pikirkan manakah pilihan warna hidup kita sekarang ini? Hitam.......Putih.......atau kelabu (campuran hitam dan putih)
Menjadi orang percaya yg berkarakter atau menjadi orang yg bermuka ganda (hipokrit)?


Tuhan Yesus perlu berterus terang bahwa NILAI itu jauh lebih penting dari sekedar PENAMPILAN LUAR. Kekristenan adalah persoalan nilai bukan mode, penampilan atau taburan kata-kata indah.
ucapan syukur, pujian dan penyembahan adalah warna asli dari kekristenan . Sikap ini demikian suci, agung, megah, mulia seharusnya lebih dahulu diperankan oleh mereka yg lebih melek Alkitab dan terdidik secara khusus di pelayanan, namun gereja malah harus belajar dari kehidupan mereka yg miskin pengetahuan kebenaran bahkan terkenal berbuat dosa.
Inilah.....realita: ironi Penyuara Kebenaran !
Totalitas atau ibadah yg semu ?
Refleksi untuk kita semua....


Lukas 7 : 36 -50
1. Memberi dengan maksud tersembunyi (ayat.44-45)


Simon orang Farisi mengundang Tuhan Yesus unuk makan dirumahnya.
Pemilik rumah dalam Matius / Markus maupun Lukas mempunyai persamaan nama yaitu ‘Simon’, tetapi perlu diketahui bahwa nama ‘Simon’ adalah nama yang sudah umum (pasaran), Lebih jelasnya dalam Injil Matius dan Markus ia disebut sebagai ‘Simon si kusta (Mat 26:6  Mark 14:3), sedangkan dalam Lukas, ia adalah ‘seorang Farisi’ (ay 36). Seorang Farisi yg mengudang Tuhan Yesus makan dirumahnya sungguh pengalaman yg tidak lazim, karena  orang Farisi secara umum tidak menyukai Tuhan Yesus. Lalu apa motivasi Simon mengundang Yesus? 


Dilihat dari etiket baik yg bersedia mengundang Tuhan Yesus dan dari sebutan memanggil  "guru" terhadap Yesus dalam ay 40, Tampaknya Simon, berbeda dengan komunitas orang Farisi yang lain, Ia tidak memusuhi ataupun membenci pribadi maupun ajaran Tuhan Yesus. Tetapi, Simon juga bukanlah orang yang percaya, bukanlah orang yg mengasihi dan menghormati Yesus. 
Mungkinkah ia mengundang Yesus tanpa tujuan? 
Pilihan warna mana yg ia tentukan : hitam putih atau kelabu?
Kemungkinan Simon hanya bersikap netral (menghormati tetapi tidak percaya Yesus) atau berdiri diwilayah abu-abu, namun secara normatif sikap sebenarnya dapat dinilai merendahkan martabat Yesus .
Perhatikan perlakuan Simon menurut kontek jaman itu! Menurut adat yg berlaku pada waktu itu, kepada semua tamu undangan yg dihormati harus ada tiga sikap "welcome" yg harus dilakukan oleh tuan rumah.
  • Clean Welcome: Ketika tamu datang, keluarlah seorang hamba membawa tempayan (wadah air) dan handuk untuk membersihkan kaki tamu dari debu. Maklum Timur Tengah (bukan jalan hot mix) jalan pasir dan berdebu dengan model sepatu sandal jadul yg terbuka dan bertali
  • Kiss Welcome: Ketika masuk kedalam rumah, tuan rumah mencium tamu sebagai ucapan selamat datang supaya merasa disambut dengan senang hati dan betah dirumah.
  • Fresh Welcome: Selanjutnya kepala tamu diurapi dengan minyak wangi untuk menyegarkan kelelahan selama perjalanan.
Tiga hal penting dalam tata cara penyambutan tamu ini, semuanya tidak dilakukan oleh Simon kepada Yesus. Ini artinya Simon sebenarnya tidak menempatkan Yesus sebagai orang yg dihormati dirumahnya atau sengaja melanggar kesopanan!

Penerapan:
Tentukan sendiri pilihan warna kita: hitam, putih atau kelabu?
Dalam hubungan dengan Tuhan, tidak ada posisi netral atau tidak berpihak. Dalam komunikasi dengan Tuhan tidak mungkin ada muatan motivasi yg netral, semua yg kita kerjakan pastilah dengan tujuan: semu atau sejati, mempermuliakan nama Tuhan atau sebaliknya mempermalukanNya. Orang lain mungkin saja luput atau salah untuk menilai kualitas karakter kita, namun Tuhan Yesus tahu segalanya sampai di kedalam hati kita. Apa motivasi kita melayani Dia, Ada apa dibalik pemberian kita, berangkat dari mana kebaikan kebaikan kita? Benarkah kita terpanggil untuk kebaikan manusia dan kemuliaan Tuhan?
Tidak ada yg tersembunyi, tidak ada yg tercecer dari catatanNya, semuanya terbuka dihadapanNya. Maksud baik, niat jahat atau bahkan sikap abu-abu.
Masihkah kita berani bersikap semu kepada Tuhan dihadapan manusia?

2. Memberi karena mengasihi


Sementara Simon mengundang Tuhan Yesus dengan maksud yg semu, datanglah seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ia menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, menciuminya dan meminyakinya dengan minyak wangi (ay 37b-38).Seorang wanita yg  datang tanpa diundang (wanita penyusup) memberikan penghargaan yg setinggi tingginya pada Tuhan Yesus. hanya dengan satu tujuan memberi....memberi dan memberi.....tak mengharapkan pamrih....


Kita dapat saja memberi kepada siapa saja tanpa mengasihi tetapi kita tidak dapat  mengasihi tanpa memberi yg terbaik.

Siapakah perempuan ini?
Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Maria dari Betania, yaitu saudara Marta dan Lazarus. Tetapi perlu dicamkan bahwa sekalipun Maria dari Betania pernah mengurapi Yesus dalam peristiwa yang serupa (bdk. Mat 26:6-13  Mark 14:3-9  Yoh 12:1-8), tetapi peristiwa itu berbeda atau  tidak paralel dengan peristiwa dalam Luk 7:36-50 ini!

Jadi, sebetulnya kita tidak tahu siapa perempuan ini. Yang jelas ia adalah seseorang yang terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 36). Dari istilah itu kebanyakan penafsir menganggap bahwa ia adalah seorang pelacur, tetapi inipun belum tentu benar, karena Kitab Suci biasanya menyebut pelacur secara terang-terangan.
Pastinya, Wanita ini sekarang telah diubahkan mentalnya oleh Tuhan Yesus.
Statusnya sebagai orang yg terkenal berbuat dosa telah terhapus oleh harumnya aroma berbagai pemberian yg dilakukannya bagi Tuhan Yesus:
1. Memberi karena sudah diampuni dosanya
Ia terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 37a).namun kini ia menjadi penyembah Tuhan yg memberi hidup karena sudah diubahkan hidupnya oleh Tuhan. Jadi penyembahan harus berangkat dari perubahan karakter kita bukan aktivitas seremonal gereja.
kata yg dipakai untuk menjelaskan bagian ini ke dalam past perfect tense‘who had been a sinner’ (= yang dulunya adalah seorang berdosa), supaya orang tidak beranggapan bahwa pada saat itu ia masih adalah orang berdosa. Alasan yg benar kita memberi adalah karena sudah diberi yg bernilai kekal dari Tuhan bukan supaya kita diberi.
c. Memberi walaupun banyak alasan untuk tidak memberi
Perempuan itu bisa mengatasi halangan untuk datang kepada Yesus.
Rasanya pasti tidak mudah bagi perempuan itu, yang terkenal sebagai orang yang berdosa itu, untuk datang dan melakukan tindakan kasih kepada Yesus, yang saat itu dianggap sebagai nabi yang hebat. Ingat bahwa pada jaman itu batasan antara orang berdosa dan orang saleh sangat kuat (bdk. Mat 9:11  Luk 15:1-2). Pasti ada halangan bagi dia, mungkin dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, atau mungkin dari bisikan setan ke dalam hati, pikirannya, yang mengatakan bahwa ia tidak layak untuk datang kepada Yesus.
Memberi karena alasan Tuhan Yesus, terlepas dari keteladanan orang lain atau apa kebutuhannya sendiri.
Pantaskah orang yg tidak diundang masuk kerumah orang yg sedang mengadakan perjamuan makan?
William Barclay menjelaskanMerupakan suatu kebiasaan bahwa pada waktu seorang Rabi sedang makan di suatu rumah, semua jenis orang datang / masuk ke rumah itu - mereka cukup bebas untuk melakukan hal itu - untuk mendengar pada mutiara-mutiara hikmat yang jatuh dari bibirnya. Itu menjelaskan kehadiran dari perempuan itu - 
Lalu apa motivasinya sehingga sedemikian kuat memilikikeberanian untuk mendatangi Tuhan Yesus?
Pastilah desakan di dalamnya untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Yesus begitu tidak bisa ditahan sehingga tidak ada apapun yang bisa menghentikan dia dari melakukan apa yang ingin dilakukannya

d. Memberi dengan spirit penyembahan
Perempuan itu menangis, dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya, dan mencium kaki Yesus (ay 38a).

1.  Memberi dengan kesungguhan hati
 ‘Mencium’.kaki Yesus
Kata ‘mencium’ dalam bahasa Yunaninya adalah KATEPHILEI, yang artinya ‘fervently / affectionately kissed’ (= mencium dengan sungguh-sungguh / dengan penuh kasih sayang), atau ‘repeatedly kissed’ (= mencium berulang-ulang).
Kata yang sama digunakan dalam Luk 15:20 (ciuman bapa kepada anak bungsu yang kembali), dan juga dalam Mat 26:49 / Mark 14:45 (ciuman Yudas Iskariot kepada Yesus!).
Ciuman mempunyai beberapa kemungkinan makna yaitu: kasih, penghormatan, permohonan, ketundukan, dan ibadah atau penyembahan.
Adam Clarke berkata bahwa: Ciuman digunakan pada jaman kuno sebagai simbol dari kasih, penghormatan agama, ketundukan, dan permohonan.

2.Memberi dengan penuh pengorbanan
‘menyeka dengan rambutnya’.
Bagi orang-orang Yahudi merupakan sesuatu yang memalukan bagi seorang perempuan untuk mengurai rambutnya apalagi untuk menyeka dengan rambutnya di depan umum, tetapi perempuan ini mau melakukan pengorbanan tersebut. Maria dari Betania (saudara Marta dan Lazarus) melakukan pengorbanan yang serupa, karena kasihnya yang besar terhadap Yesus (Yoh 12:3).
3. Memberi yang paling berharga
Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan menggunakan minyak wangi, yang tentu saja mahal harganya.
Perempuan-perempuan Yahudi umumnya memakai sebuah botol minyak wangi yang digantungkan pada seutas tali di sekeliling leher, dan itu merupakan sebagian dari diri mereka sedemikian rupa sehingga mereka diijinkan untuk memakainya pada hari Sabat (Shabbath 6:3)
terlihat bahwa minyak wangi itu bukan hanya mahal, tetapi juga merupakan sebagian dari diri pemiliknya. Tetapi perempuan ini tetap mau mempersembahkannya / menggunakannya untuk Yesus! Tidak ada yang terlalu bagus untuk Yesus
Memang, kalau seseorang betul-betul mengasihi Yesus, ia akan mau mempersembahkan apapun juga, seakan-akan itu adalah sesuatu yang tidak berharga


4. Memberi dengan totalitas
Akhirnya ia mengurapi kaki-kaki Yesus dengan minyak wangi itu. Biasanya ini dicurahkan pada kepala. Penggunaannya pada kaki-kaki mungkin merupakan suatu tanda kerendahan hati. Mengurusi kaki-kaki merupakan tugas yang rendah, tugas yang diberikan kepada seorang budak..

Sesuatu yang luar biasa dari perempuan ini adalah bahwa ia memberikan sesuatu yang berharga untuk Yesus, tetapi ia tidak memberikannya dengan perasaan bangga, tetapi dengan perasaan tidak layak, sehingga ia mencurahkannya ke kaki Yesus! 

Aplikasi
Perjumpaan dengan Tuhan Yesus telah mengubah segalanya dan.tanda dari perubahan hidup tampak dari apa yg diberikannya kepada Tuhan. Fokus pada sikap yg memberi, Berpusat hanya pada Tuhan Yesus, inilah Penyembahan yg radikal !
Kata Persembahan berakar dari: "worship" = sembah , pelakunya adalah penyembah.
Berbeda dengan memberi kolekte yg kata kerjanya" collect"= mengumpukan.pelakunya adalah kolektan. Semua jemaat maupun pemimpin jemaat adalah worshipers jadi apa saja yg dilakukan haruslah dalam spirit worship!
Namun mari kita bersikap terbuka : Gereja masa kini harusnya menjadi agen yg bukan saja menyuarakan kebenaran tetapi sebagai frontliner yg memeragakan kebenaran. Namun seringkali hanya piawai mengemas aktivitas keagamaan pada tataran konsep, ujungnya jauh dari kehidupan yg sejati.
Karena takut kehilangan pengikut yg berarti kehilangan income makanya tidak sedikit gereja yg kehilangan jati dirinya , inovasinya bergerak mengikuti selera pasar, aman dan menguntungkan. Progresivitas gereja tidak beda dengan perusahaan yg profit oriented.
Gereja sangat bersemangat meminta orang lain bersikap all out dalam memberi , berkarya dan melayani Tuhan tetapi para pemimpin gereja yg hanya selesai memimpin ceremoni, mengajar atau kunjungan , sudah merasa banyak memberi yg terbaik untuk Tuhan. bahkan merasa layak mendapat apresiasi yg lebih baik!
Radkalisme penyembahan itu untuk saya, saudara, pemimpin gereja dan kita semua
Berhentilah menggelitik emosi jemaat dengan dasar Firman Allah yg benar tetapi dengan motivasi yg tidak benar!
Jika gereja tidak segera mengubah mentalnya sebagai lembaga yg maunya hanya menerima...menerima dan menerima berarti kita telah salah memberi warna pelayanan kita.
Bukan hidup sebagai worshiper tetapi kolektan.
Bukan hidup sebagai penatalayan tetapi sebagai pialang.
Tentukan lagi pilihan karakter pelayanan kita: HITAM PUTIH atau KELABU!!!


by Haris Subagiyo http://graciaministry.blogspot.com