Kamis, 09 Juni 2011

Mengubahkan ORANG BIASA jadi LUAR BIASA

Dalam perspektif manusia: adalah kekeliruan jika melibatkan orang-orang yg miskin kecakapan untuk terlibat dalam pekerjaan besar dalam skala luas dan bernilai abadi. Sangat tidak profitable memberi kesempatan mereka yg tidak terbukti kompeten untuk dipercaya dalam pelayanan. 
Dalam perspektif Allah: justru karena Kebodohan dan Kehinaan kita, menjadi latar belakang Allah melibatkan kita berkerja dalam proyekNya. Orang-orang yg tidak punya HAK untuk merasa pantas dipakai sebagai alatNya, orang biasa, tidak diperhitungkan, lemah dan tidak berpengaruh. 
Tetapi mengapa Allah tetap memberi kepercayaan kepada kita untuk bekerja diladangNya?

Prinsip manusia: menyisihkan mereka yg lemah, bodoh dan hina..
Prinsip Allah: mengubahkan mereka yg lemah, hina, bodoh, tidak terpandang, biasa-biasa saja menjadi orang-orang yg LUAR BIASA.

Menariknya para murid Tuhan Yesus justru kebanyakan adalah para nelayan.!
Orang -orang yg dipandang sebelah mata, tidak diperhitungkan, dinilai rendah , tidak terpelajar, kolot, sulit berubah justu menjadi prioritas pilihan Tuhan Yesus untuk bekerja bersamaNya.

Apa dasar pilihan Tuhan terhadap mereka yg dijadikan ALATNYA?

I. Allah mencari mereka yg MAU MERESPON PANGGILAN (Matius 4:18-22)
Pekerjaan dan kedudukan seorang nelayan dalam kehidupan umat Israel pada zaman itu jelas bukanlah kedudukan yang terhormat. 
Mereka disebut dengan “amme ha-aretz” yang secara harafiah berarti “rakyat jelata” atau menunjuk kelompok orang-orang yang tidak terpelajar, orang-orang biasa yg tidak terpandang.
Problem yang dihadapi oleh mereka yang tidak terpelajar:

a. Secara umum hidup dalam kelembaman, enggan beradaptasi dengan situasi yg baru: sangat sulit untuk menerima perubahan, lebih menyukai suatu siklus kehidupan yang relatif  tanpa goncangan. 

b. Tidak bergairah  untuk mempelajari pengetahuan atau materi yang tertulis. 

Jika menilai dari dimensi akademis pastinya dibutuhkan cukup banyak waktu untuk melatih dan memperlengkapi mereka untuk memiliki kecakapan dalam melayani Tuhan.
Dari dimensi sosial: mereka bukanlah orang yg berpengaruh, mereka adalah type pekerja kasar, orang berkeringat dan hidup apa adanya dianggap kurang bermartabat.

Ini merupakan kendala teknis dalam pelayanan, jika seorang pekerja Kristus tidak memiliki basis akademis yg baik maka sangat berpengaruh besar dalam kompetensi intelektualnya. 
"Mau dibawa kemana gereja" jika pemimpinnya tidak profesional?
Standar kualifikasi manusia yg menuntut kesempurnaan kecakapan hidup justru dianggap berseberangan dengan jalan pikiran Allah. 
I Korintus 1 : 26- 29
"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,   tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. .......... supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah"
Allah mencari orang-orang yg mau bekerja bukan mereka yg mampu, karena Allah akan MEMAMPUKAN siapa saja yg MAU bekerja bagi Tuhan.

II. Allah mencari orang yang MAU DIUBAHKAN sebagai ALATNYA (Kisah Rasul 5:26-42 )

Kebangkitan Kristus adalah momentun yg membuktikan kehadiran Allah yg sanggup mengubahkan standar kelemahan manusia biasa menjadi manusia-manusia Ilahi yg sangat berdaya, efektif bahkan berdampak mengubahkan bagi dunia. Para murid Yesus yg sudah meresponi panggilan Tuhan. Sekarang ini diperlengkapi dengan kuasa: memperoleh roh hikmat, pengetahuan dan kharisma yang begitu luar-biasa saat memulai pelayanan!. 

Kisah Rasul 5:26-42 
Mengisahkan bagaimana para rasul mampu memberi jawaban yang berhikmat dan berwibawa sehingga para Sanhedrin atau Majelis Agama Yahudi saat itu tidak mampu berbuat apa-apa. 

Kisah Rasul 9:32-35 menyaksikan bagaimana Petrus memiliki kuasa ilahi yang sedemikian besar sehingga dia mampu menyembuhkan seorang yakni Eneas yang telah sakit lumpuh selama 8 tahun. 

Kisah Rasul 9:36-41 menyaksikan bagaimana Petrus dengan kuasa kebangkitan Kristus mampu membangkitkan Tabita atau yang disebut dengan Dorkas yang telah meninggal, tetapi dapat bangkit kembali. 

Kuasa kebangkitan Kristus menyertai pelayanan Petrus sedemikian rupa, sehingga Petrus dimampukan untuk melakukan hal-hal yang melampaui kemampuan dan kapasitas manusiawinya. 

Semua karunia dan kemampuan tersebut tidaklah mungkin dicapai oleh para murid Yesus yang berlatar-belakang dari para rakyat jelata. Seandainya para rasul dan gereja perdana tidak memperoleh karunia dari Kristus, maka mereka pasti sudah tenggelam dan lenyap dari perjalanan sejarah.

Tetapi Kristus yang bangkit telah menganugerahkan kepada para muridNya suatu kuasa yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Kuasa ilahi yg tidak dapat dipelajari disekolah manapun dan diajarkan oleh siapapun. 
Kuasa itu diberikan Allah kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah yg menjadi alat kelengkapan bukan dengan tujuan pamer tetapi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus.

Sifat karunia dan kemampuan ilahi yang dimiliki oleh para  murid Yesus tidaklah melekat pada diri mereka sendiri. Mereka hanya menjadi alat atau media dari karya keselamatan Allah. 
Karena mereka BERSEDIA untuk dipakai oleh Kristus sebagai alat untuk menyatakan kemuliaanNya.  
Pemahaman teologia ini sangat  penting supaya kita tidak terjebak pada bahaya:

1. Memusatkan pada diri sendir (kultus individu): gereja perdana tidak pernah sampai mengkultus-individukan para rasul yang memiliki kharisma ilahi karena kesadran  akan karunia yg Allah berikan. 

2. menganggap diri paling hebat dari yg lain (superior): Juga tidak pernah berupaya untuk membangun suatu pemahaman bahwa diri mereka sangat berarti dan menentukan perjalanan gereja Tuhan di atas muka bumi ini, memiliki bobot yg lebih hebatdari yg lain. 

Prinsip spiritualitas para rasul tersebut pada masa kini ternyata tidak dipelihara dengan penuh kewaspadaan. Sehingga karunia atau kemampuan yang dimiliki oleh seorang pelayan Tuhan pada masa kini  justru dipakai sebagai jembatan menuju kemuliaan diri sendiri. 

Sekarang ini tidak sedikit pemimpin gereja yg berupaya membangun suatu kecenderungan untuk dikultus-individukan oleh umat. Gereja tidak lagi dikondisikan kearah Kristus-centris tetapi dibelokkan pada ego-centris.
Akar persoalan yg faktual ditengah jemaat bukanlah gereja menerima atau menolak manifestasi  Allah yang supra-natural berupa mukjizat, tetapi sikap para pelayan Tuhan yang telah mengklaim berbagai tindakan supra-natural tersebut sebagai kesanggupan diri, kelebihan, keistimewaan, kehebatan untuk kepentingan kemuliaan diri bahkan dapat diperjual belikan. 

Ironinya banyak jemaat yg lebih suka sentuhan emosional dan hal-hal spektakuler yg ditampilkan dipanggung gereja. Sedangkan pengajaran yg sarat dengan pengajaran firman Allah dianggap tidak up to date alias ketinggalan jaman.

Allah yg seharusnya punya otoritas mengubah hidup kita supaya menampilkan Kristus melalui hidup dan kerja pelayanan sering kita rubah sendiri tatanannya menjadi pelayanan untuk merubah orang lain terpukau dengan pelayanan kita.

III. Allah mencari orang yg MAU MENDEDIKASIKAN HIDUP pada Fakta Abadi (Kis. 9:36-41)

Allah tidak memanggil hamba-hambaNya dengan tujuan supaya dapat mendemontrasikan mujizat  tanpa tujuan ditengah jemaat! Jika mujizat atau kuasa Allah dibutuhkan dalam rangka memudahkan atau membebaskan manusia dari persoalan teknis pelayanan atau melarikan diri dari tanggungjawab yg selayaknya dipikul; berarti kita sedang memaksakan Tuhan bekerja mengikuti irama kita.
Mengapa Allah memakai Petrus menjadi manusia yg luar biasa? 
Seorang awam namun dapat mengsekposisi secara komprehensih teologia Perjanjian Lama sehingga membuat 3000 orang bertobat?
Seorang nelayan yg dipakai Allah untuk menyembuhkan dan bahkan membangkitkan orang mati.
Rakyat jelata yg punya keberanian berargumentasi dihadapan pememimpin agama?
Seorang nelayan yg diubahkan menjadi RASUL YESUS KRISTUS!

a. Pengalaman ini bertujuan untuk memperteguh eksistensi jemaat yang waktu itu masih lemah. 
b. Merupakan manifestasi dari Kristus yang peduli dan mengasihi jemaatNya. 
c. Pengalaman tersebut untuk menanamkan tonggak dimulainya kekristenan

Semua manifestasi karya Allah secara supra alami dalam pelayanan bukanlah untuk SENSASIONAL, AKSI SPEKTAKULER, SPIRITUALITAS PANGGUNG dengan tujuan pamer.....
Allah tidak perlu memamerkan kuasaNya supaya harga Dirinya dianggap lebih berkuasa, hebat dan mulia. Tanpa kehadiran itu semua eksistensi Allah kita tetap tidak berbubah. Bahkan saat mulut kita terdiam tidak mengakui kemahakuasaan Allah. Dia adalah Allah yg maha kuasa yg tak akan berubah oleh pengakuan manusia.

Pengalaman adalah pengalaman yg tidak dapat dijadikan doktrin pelayanan yg baku. Pengalaman pelayanan harus ditempatkan dalam konteks kepentingan dan tujuan bukan sebagai MODEL yg diadopsi sembarangan . "Mujizat Allah pasti terjadi" kita kumandangkan dalam kerangka harapan kita yg konsisten mempercayai Allah sanggup mengerjakan segala sesuatu tetapi jangan MENDESAK ALLAH melakukan format, bentuk, pilihan sesuai dengan rancang bangun diri sendiri......gak sopan itu namanya...

Sejarah menjelaskan bahwa para murid Yesus juga harus masuk pengalaman kematian bahkan menjadi martir tanpa mujizat kebangkitan! Padahal dilihat dari sudut pengorbanan ,kasih dan kesetiaan mereka sudah mendedikasikan hidup seutuhnya bagi Tuhan. Tetapi mengapa saat mereka dianiaya secara kejam dan dibunuh dengan cara tragis, Tuhan Yesus tidak bergegas menolong dan seolah-olah Tuhan cuci tangan atas persoalan yg mereka hadapi? why.....? 

Apakah fakta tersebut dapat dijadikan suatu alasan bahwa Kristus selaku Gembala tidak peduli dan memelihara hidup umat percaya?

Mengapa kita yg bergiat melayani Tuhan dengan all out, realitanya masih mengalami hal-hal yang sangat pahit dan tragis?

Pahamilah bahwa FAKTA intervensi Allah berada dalam bingkai KEABADIAN
Fakta 1.
Kuasa dan karya Kristus dalam kehidupan sehari-hari  dialami oleh sebagian umat percaya dalam bentuk perlindungan dan pertolonganNya yang menyelamatkan mereka dari bahaya maut, kesembuhan, keberhasilan bahkan kebangkitan dari mati. 

Fakta 2.
Orang-orang yang hidup saleh dan benar tidak selalu terluput dari penyakit yang tidak tersembuhkan. Demikian pula orang-orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya dengan penuh kesetiaan kepada Kristus juga tidak terluput dari kematian yang kejam. 

Ketahuilah bahwa Kristus selaku Gembala yg baik bukanlah sekedar pelindung dan penyelamat hidup secara fisik belaka dan karyanya tidak berhenti pada masa kini saja. Kristus adalah Gembala yg baik dengan kapasitas kerja untuk kepentingan kekekalan dengan wilayah kerja jiwa dan roh manusia juga. 

Makna keselamatan secara utuh pada hakikatnya dinyatakan dalam suatu kehidupan yang dipersekutukan dengan Kristus yang telah bangkit. Sehingga seandainya semua harapan kita di dunia ini tidak terpenuhi di mana penyakit kita tidak tersembuhkan dan kematian tragis tidak dapat dielakkan, namun secara faktual kehidupan kita sepenuhnya dalam relasi dengan Kristus itu berarti kita telah menikmati berkat yg abadi

Berkat penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita tidaklah identik dengan terpenuhinya harapan-harapan manusiawi kita seperti kesembuhan dari penyakit, melimpahnya berkat jasmani, sukses pangkat, panjangnya usia hidup kita. ini adalah fakta-fakta yg tidak abadi

Tetapi kualitas pelayanan yg dibangun Tuhan Yesus adalah pelayanan yg berorientasi keabadian, pelayanan yg mengubahkan jiwa manusia untuk kembali mengalir masuk dalam denyut nadi Allah.

Jika pelayanan yg sedang kita bangun bermodelkan pelayanan yg sukses secara material: terbangunnya gedung yg megah, jumlah jemaat yg melimpah, fasilitas yg mewah, popularitas, kenyamanan, ekonomi yg kokoh, profesional, branded (bermerek terkenal). 
Itu bukan tidak penting.....gereja butuh investasi material yg sehat
itu bukan tidak bernilai.......gereja butuh sarana pelayanan yg memadai
itu bukan sia-sia......gereja juga bekerja mencari jiwa-jiwa ......sebanyak-banyaknya

Namun jika kita mengedepankan kepentingan DIRI dan MATERI, hanya memikirkan yg KELIHATAN (masa kini) saja bukan yg TIDAK KELIHATAN (kekekalan) , dan hanya memikirkan kepentingan TUBUH bukan JIWA, berarti kita sedang pada posisi  membantah kerinduan Allah yg ingin mengubahkan arah pelayanan kita yg harus berbasiskan keabadian.

reDifine         ...definisikan lagi format panggilan pelayanan kita
re Structure......susun kembali puing-puing yg hancur atau harus disingkirkan
re Posision.      ...letakkan kembali visi pelayanan kita untuk berorientasi keabadian

God Morning All
God Bless U all

by Haris Subagiyo

Kecakapan Mengelola Goncangan Kehidupan



Realita kehidupan bersama Kristus bukanlah model kehidupan yg serba bisa dan serba beres bagai berjalan lurus di jalan bebas hambatan. Kuasa Kebangkitan Kristus bukanlah jaminan yg memanjakan kita tidak lagi terseret oleh berbagai persoalan hidup yg wajar ditengah konflik ekonomi, sosial dan budaya. Iman kristen bukanlah demontrasi meliak-liuk kepiawaian menghindari sentuhan persoalan sehari-hari. Goncangan kehidupan masih tetap ada.....!
Perbedaannya adalah:  kita yang mengalami kuasa kebangkitan Kristus akan semakin menemukan landasan hidup yang rasional dan bertanggungjawab kepada Allah walaupun harus mengalami kontraksi kehidupan. 

Lebih dari sekedar tidak gampang menyerah namun bagaimana kita sanggup mengelola goncangan menjadi kesempatan yg makin memajukan kerja pelayanan kita.

Kisah para Rasul 5:26-28

I. Realita Sukses Pelayanan tidak selalu membawa ke Istana (Kis. 5 : 12 - 16)

Standar keadilan menegaskan bahwa "kesalahan" harus dihukum dan "prestasi" pantas mendapatkan penghargaan (reward). Formula ini selalu benar dalam tataran konsep (wacana) namun tidak selamanya benar dalam penerapannya (aplikasi).

Perhatikan postur gereja perdana bertumbuh secara ideal:

a. Ibadah dengan kasih dan kesetiaan dalam relasi yg harmonis
b. Mereka menjadi kesaksian yg nyata sehingga sangat dihormati orang lain
c. Semakin hari jumlah orang yg percaya kepada Tuhan semakin bertambah
d. Tidak kering karena terus terjadi manifestasi mujizat Allah kepada banyak orang bahkan respon kehadiran orang yg sakit meluber sampai jalan raya ( over capacity)

Ini adalah sukses Pelayanan Rasul Petrus yg bukan saja kotbahnya telah mentransformasi iman 3000 orang percaya Yesus, tetapi juga mem-follow up (menindak lanjuti) dalam persekutuan yg benar kepada Allah dan sesama. Penghargaan yg seharusnya diterima adalah kehormatan, pujian, reputasi dan fasilitas. Namun realitanya kesuksesan pelayanan tidak membawanya ke ISTANA dan mengenakan mahkota raja malah justru menyeretnya ke dalam PENJARA.

Menerima dimensi yg berseberangan dengan kenyataan yg seharusnya di terima adalah kecakapan pertama untuk mengelola goncangan kehidupan.

JIka kita melihat kehidupan  nyata dari jendela yg sempit, banyak hal yg tidak terlihat secara utuh atau kelihatan suram. Sudah saatnya mulai menata ulang mental kita untuk melihat realita kehidupan secara utuh dari pintu utama yg terbuka.
Inilah realita kehidupan yg tidak harus menggunakan rumusan matematika "Simetris" dimana prestasi harus disambut dengan penghargaan yg pantas tetapi juga harus siap dengan kenyataan yg "A-Simetris" (perbuatan baik yg direspon secara terbalik).

Persolannya apakah pekerjaan kita bernilai percuma?

Istana raja memang bukanlah tujuan yg hendak Allah berikan bagi kita yg melayaniNya. Karena ini adalah realita semu bahkan bernilai sementara. Sasaran yg harus dicapai bukanlah menuju puncak istana ataupun masuk penjara tetapi bergiat menemukan JIWA-JIWA yg dimediasikan pada salib Kristus.

Langkah kita tidak terhenti hanya pada tahap menerima kenyataan secara sadar berbagai kehidupan sekarang ini.

II. Realita Ancaman menjadi KESEMPATAN dalam Pelayanan ( KIs. 5 : 17 - 21)

Kenyataan yg pahit dapat dikelola menjadi pengalaman manis dan lebih bermanfaat, manakala kita memberi kesempatan Allah bekerja mengubahkannya untuk kemuliaanNya.

Kuatnya penjagaan pasukan pengawal Bait Allah dan tebalnya pintu penjara hanyalah simbol arogansi manusia yg bernafsu memblokade rancangan Tuhan. Namun upaya manusia ini justru semakin menegaskan betapa tidak berdayanya manusia menahan denyut nadi Allah untuk mengembalikan hati manusia kembali ke jantung hatiNya.

“Intimidasi” (ancaman) hanyalah gertakan dengan tujuan mematikan daya juang dan kreasi dalam pelayanan. Kenyataannya memang membuat nurani kita menjadi ciut, gemetar bahkan seperti tidak berdaya. Namun dalam kerangka pekerjaanNya, tidak ada SITUASI yg buruk sekalipun dibiarkan menggelinding untuk memukul balik atau bahkan menghancurkan diri kita. Yang terjadi adalah: Allah sanggup mengubahkan situasi apapun, baik ataupun buruk (menurut penilaian manusia) untuk menjadi MANFAAT bagi KEMAJUAN PEKERJAAN ALLAH.

JIka situasi tidak segera berubah, PASTILAH HATI KITA telah diubahkan Tuhan untuk memiliki kekuatan yg sanggup menembus semua batas persoalan disekitar kita..

Betapa mudahnya Allah mengubah penjara sebagai kesempatan bagi efektifnya pekabaran Injil. Dengan mengutus malaikat untuk  membuka penjara dan memindahkah hamba-hambaNya dalam situasi bekerja diladangNya kembali.

Keterbatasan latar belakang dan basis akademis Petrus ternyata juga tidak menghalangi keberaniannya menghadapi imam besar.  Bahkan para murid Yesus terbukti mampu menjelaskan sikap iman mereka secara rasional .

Bagaimana mungkin prestasi pelayanan tetap lahir ditengah rumitnya persoalan?

a. Bersedia menerima pimpinan Allah (Kis. 5:27-29)

Larangan keras dari Imam Besar dan Mahkamah Agama untuk memberitakan nama Yesus dihadapinya secara tegas tanpa kompromi. Ketaatan kepada Allah menjadi prioritas pertama dan utama  dari pada sekedar menyenangkan hati manusia. 

b. Bersedia menerima Kuasa Allah

Kuasa kebangkitan Kristus memampukan para murid Yesus untuk memberi penjelasan secara argumentatif dan mendasar (substantif) tentang fakta yang menyakitkan kisah penyaliban Tuhan Yesus oleh para pemimpin agama Yahudi.

Menariknya pemaparan para murid Yesus tidak sekedar menguraikan kekejaman dan kejahatan para pemimpin agama Yahudi yang telah menyalibkan Kristus yang tidak bersalah. Tetapi lebih menyadarkan umat Israel bahwa Kristus yang telah disalibkan justru ditentukan Allah untuk Juru-selamat, sehingga seluruh umat dipanggil untuk bertobat dan menerima pengampunan dari Allah. 

c. Bersedia menyatakan kasih Allah untuk sesama

Kekejaman orang Yahudi terhadap Kristus tidak membangkitkan semangat sakit hati. Namun melalui peristiwa kebangkitan Kristus terbukti mampu menciptakan aura kasih ilahi dalam kehidupan umat percaya. Keberanian yang mereka tunjukkan dengan sikap yang sangat mengesankan merupakan keberanian yang dilandasi oleh kasih Allah yang menyala-nyala. Ketegaran yang mereka perlihatkan merupakan ketegaran yang dilandasi oleh anugerah pengampunan Allah.

Fakta ini menjelaskan  seharusnya di tengah-tengah kenyataan hidup yang menyakitkan dan mengecewakan tidak alasan membenamkan prestasi kehidupan kita. Selalu ada cara yg sudah Allah sediakan bagi kita untuk terus maju dan berkarya dalam situasi sesulit apapun. 

Namun sering kuasa kebangkitan Kristus tidak dapat bekerja secara efektif karena kita lebih banyak mengembangkan kebiasaan hidup yang mengedepankan EMOSIONAL bukan SPIRITUAL yg bermutu. 

* Kita membiarkan emosi dan ketidakpuasan meletup secara liar. 
* KIta tidak mampu menerima persoalan yang tidak menyenangkan menimpa diri kita. 
* Kita tidak menundukkan diri pada pimpinan Allah.

kita justru sering mencari alasan pembenar untuk menyalahkan keadaan, orang, situasi bahkan menyalahkan Tuhan.

Jemaat masa kini juga dipanggil untuk menghadapi kenyataan hidup dengan sikap yang rasional dan tegar dan bertanggungjawab. 
Didalam Kristus tidak ada situasi buruk yg tidak dapat diubahkan untuk kebaikan.
Didalam Kristus tidak pekerjaan sekecil apapun yg tidak mendapat penghargaan Allah.

JIka goncangan kehidupan datang, tak usahlah minta disingkirkan.....
Jika goncangan pelayanan kembali datang. ..tak usahlah kita meratapinya....
JIka sekali lagi goncangan keluarga itu datang.... tak usahlah kita membencinya.....

namun ubahlah semua goncangan menjadi kesempatan mementalkan diri kita melesat tinggi  makin dewasa dan efektif dalam pekerjaanNya.

God Bless U all
Have nice day

by Haris Subagiyo

Bekas Luka yang menjadi Tanda Kasih

Memori kehidupan tak selamanya terbingkai menjadi kenangan indah, yg menguatkan dan mengubahkan. Bahkan kadang munculnya memori masa lalu seolah-olah membuka luka lama yg tak mungkin terobati.  Seribu dendam masih tersimpan, letupan kemarahan tak lagi terkendali dan siksaan batin kembali menekan.

Manusia tak mudah menghapus memori masa lalu tetapi kita dapat mengantikan materi memori masa lalu dengan pengalaman yg baru. Bekas-bekas lukapun dapat kita ubah menjadi kekuatan yg melahirkan manfaat besar.
Mungkinkah memori kelam diubahkan menjadi harapan, sukacita dan kekuatan menata masa depan?
Yohanes. 20:20 
“Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan”. 

Dengan kekuatan DiriNya sendiri sebenarnya Yesus mampu melepaskan dari hukuman salib. Tetapi faktanya Yesus bersedia menerima penyaliban dengan rela. bahkan Dia sama sekali tidak menggunakan kuasa mukjizatNya untuk menyelamatkan diri dan melumpuhkan musuh-musuhNya.
Saat Yesus bangkit dari kematianNya, Dia juga tidak menggunakan kuasaNya untuk memulihkan kembali luka-luka yang masih terbuka di tangan, dilambung dan dikakiNya . Tanda luka-luka yang terdapat di tubuh Kristus yang bangkit tetap diperlihatkan secara nyata.

Bahkan secara vulgar tubuh kebangkitan Kristus yang mulia diperkenalkan kepada para murid melalui tanda luka-luka .Dia tidak meniadakan tanda-tanda penderitaanNya dalam tubuh kemuliaanNya.  Hal ini menyatakan bahwa Kristus yang bangkit tidak keberatan menerima tanda luka-luka ketidakadilan dan kekejaman dengan kasihNya yang tanpa syarat.

Pemahaman teologis ini sangat penting kita mengerti karena membuka perspektif terhadap luka-luka yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.  
Mengapa Tuhan Yesus membiarkan luka-lukanya tetap menganga ditengah kemampuanNya untuk memulihkan total keadaan tubuhNya? 
Yang dikerjakan  Yesus dengan luka-lukaNya adalah lebih dari sekedar tampilan PENERIMAAN DIRI terhadap kekejaman dan ketidakadilan salib, namun dalam eksistensi yg pernah terluka sekalipun Kristus tetap konsisten untuk BERKARYA. tidak menjadi korban dari luka justru mengoperasikan luka-luka sebagai sarana untuk tetap MEMBERI.

a. Luka-luka menyatakan identifikasi Diri Kristus (Lukas 24 : 39)

Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah  karena hantu tidak ada daging  dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."

Kesulitan besar akan dialami para murid untuk mengenal pribadi Yesus yg bangkit jika secara phisik tidak terdapat tanda-tanda yg dapat mengingatkan mereka tentang peristiwa penyaliban, siksaan dan kematianNya. Jadi luka-luka yang menyobek tubuhNya diubah bentuk menjadi tanda pengenal diriNya dan tanda kemuliaan dari kebangkitanNya.

b. Luka yang memberikan Damai sejahtera (Yoh. 20:21-22).

Melalui tanda luka-luka yang telah dialami Yesus justru dipakai untuk menyatakan berkat Allah, yaitu: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus”
Luka-luka yang menyakitkan itu bukan dipakai oleh Tuhan Yesus sebagai alasan untuk membalas dendam, tetapi dipakai oleh Tuhan Yesus sebagai media untuk menyatakan damai-sejahtera dari Allah.

b.. Luka-luka yg membangkitkan Iman (Yoh. 20:25-27).

Tomas bersikap ragu-ragu dan akan percaya kepada Kristus yang bangkit jikalau dia dapat melihat dan menyentuh luka-luka Yesus. Tomas berkata: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya"  Untuk meneguhkan Tomas yang ragu-ragu, Kristus yang bangkit berkenan memperlihatkan seluruh luka-luka yang pernah dideritaNya sambil berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayala" (Yoh. 20:27).

Tanda luka-luka Kristus tersebut justru menjadi berkat keselamatan bagi Tomas yang tidak percaya dan ragu-ragu

c. Luka yg memberikan Pengampunan

Persoalan yg serius dengan luka-luka adalah memori yg membenarkan diri untuk membalas kejahatan kepada pihak yg telah bersikap merendahkan, memusuhi dan melukai. Goresan luka itu sangat menyayat hati sehingga sangat sulit untuk disembuhkan. Fenomena kebangkitan Kristus dengan tanda-tanda luka yg masih segar justru dijadikan sebagai bukti pengampunan. Kristus yg bersedia memaafkan kesalahan setiap orang yang telah melukai tubuh dan hatiNya.

Pehatikan saat tergantung di atas kayu salib, Tuhan Yesus mengucapkan doa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Bagaimana dengan sikap kita?

Setiap orang pernah menyimpan luka dalam dirinya. Kemungkinan yg paling spontan dari sikap kita adalah: membiarkan luka-luka tidak segera dipulihkan dan terus diberi kesempatan mengambil tempat semakin dalam. Hati kita menjadi tempat sampah yg menyimpan semua benda yg seharus dibuang malah sengaja kita simpan didalam almari pakaian secara rapi.

Banyak orang sehat secara jasmani tetapi sakit jiwanya, ia menjadi  pribadi yg kehilangan kebahagiaan hidup karena  terus-menerus diperbudak oleh kemarahan dan kebencian kepada orang lain yg memusuhinya. Makna kebangkitan Kristus tidak membawa pengaruh yang berarti untuk memberikan pengampunan sebagai bagian yang harus dipraktekkan secara nyata.

Ekspresi iman kepada Kristus yang bangkit seharusnya  dinyatakan dengan kesediaan diri membuka diri untuk dipulihkan oleh luka-luka Kristus. Apabila luka-luka kita belum dipulihkan oleh luka-luka Kristus yang bangkit, maka kehidupan kita akan cenderung untuk melukai setiap orang yang ada di sekeliling kita.

Manakala luka-luka kita telah dipulihkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, tidak dapat disangkal bahwa transformasi luka-luka diri kita justru akan menjadi sarana kesaksian yg menyebarkan kasih, kedamaian, harapan, sukacita, pengampunan kepada orang-orang disekitar kita.

Kuasa kebangkitan Kristus itu sudah dinyatakan untuk mereformasi sistem kerja hati kita!
Dengan kuasaNya kita pasti dimampukan untuk melakukan pekerjaan iman yg bermanfaat bagi dunia ini.
Jadi, ubahlah luka-luka diri kita bukan sebagai alasan untuk menghancurkan tetapi sebagai motivasi untuk membangun iman, menumbuhkan harapan dan melahirkan kasih. Amin

God BlesU all
Have Nice day


by Haris Subagiyo

Membangun kerajaan sendiri dalam Kerajaan Allah


Tidak ada yg salah dengan kemakmuran yg dapat dinikmati dalam pelayanan. Tercapainya keberhasilan akademis, sehat, popularitas kepemimpinan, kekayaan material yg kokoh adalah kompensasi yg wajar dari prestasi keberhasilan dalam pelayanan. Namun menjadi seorang hamba Tuhan seharusnya berorientasi pada habitatnya sebagai hamba (budak/doulos). Orang yg mendedikasikan diri untuk bekerja tanpa syarat dan tidak punya HAK apapun atas diri sendiri. Namun sering kali bukti kerja keras , upaya kesalehan yg dibangun bahkan pengorbanan kita sebagai hamba Tuhan mengubah derajat karakter kita sebagai orang yg BERHAK mendapatkan AWARD  yg ideal bahkan tidak sepantasnya diperlakukan oleh keadaan, orang atau Tuhan dengan kondisi yg menyedihkan.
Kerajaan kenyamanan sering kita dirikan sebagai tuntutan kontribusi atas upaya-upaya logis dari pelayanan yg sudah kita kerjakan, sebagai hasilnya: KENYATAAN menjadi bertabrakan dengan HARAPAN.
Inilah realita pergumulan yg kita hadapi dalam menyatakan spiritualitas iman kepada Allah
 
Mazmur 73:1-28 
Mazmur ini merupakan ungkapan pribadi sedang sakit hati melihat kenyataan hidup yg tidak seharusnya dihadapi oleh seorang hamba Tuhan yg bernama  Asaf. 
Siapakah Asaf itu ?
  • Asaf bukanlah orang yang baru mengenal Tuhan. Ia adalah orang Lewi yang diangkat oleh raja Daud menjadi kepala pelayan di hadapan tabut Tuhan untuk menyanyikan pujian syukur dan memasyurkan nama Allah Israel (1 Taw 16:4-5). Ia adalah worship leadernya Bait Allah!
  • Seorang yang menjaga kekudusan hidup (ay 13)
Sebagai pribadi manusia, seorang hamba Tuhan sekalipun juga dapat mengalami transisi iman, kontraksi karena persoalan bahkan kegoncangan batin. Asaf menyampaikan dengan jujur kegalauan hatinya melihat realita yg tidak sesuai harapan. Ia kecewa karena usahanya untuk mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tangannya tanda tidak bersalah ternyata tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Ia justru mendapat tulah sepanjang hari dan kena hukum setiap pagi. Mengapa Asaf salah mempersepsikan Allah dalam hidupnya? Karena pelayanan Asaf memiliki konsep mendirikan kerajaan sendiri didalam kerajaan Allah
Rupanya Asaf beranggapan bahwa bila kita setia melayani dan rela berkorban bagi Tuhan, 
maka  Allah HARUS memberikan KOMPENSASI yg lebih besar dari segala usahanya. 

Bagaimana kita tahu ada kerajaan sendiri yg sedang dibangun dalam 
kerajaan Allah?
Perhatikan saja bagaimana respon Asaf terhadap persoalan-persoalan umum yg juga
dihadapi banyak manusia tetapi dia menyatakan frustasinya yg sangat mendalam terhadap Allah:
  • Asaf mengalami kekecewaan, kegetiran dan pahit hati serasa ada dipersimpangan jalan.
  • Asaf menjadi cemburu terhadap orang fasik yang walaupun tidak mengenal Allah tetapi makmur: sehat, gemuk, kaya raya, tiada susah dan senang selamanya.  
  • Asaf pun mulai goyah imannya. Ia tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi sampai ia menganggap Allah tidak peduli dengan dirinya. 
Jadi karakteristik dari kerajaan yg sedang dibangun dalam kerajaan Allah adalah sbb:
1. Menempatkan pengabdian kepada Allah bukan sebagai usaha untuk      melayani 
     Allah tetapi untuk mendapatkan pelayanan pribadi.
2. Tujuan yg dicapai dalam pelayanan adalah tecapainya kemakmuran
     jasmani 
3. Fokus iman yg dituju dalam pelayanan bukanlah pribadi Allah tetapi diri sendiri.

Dalam pergulatan hidupnya yg sulit, Allah memanfaatkan sebagai kesempatan untuk memproses Asaf , sampai akhirnya Asaf dibawa pada titik perubahan untuk kembali pada dedikasi awal sebagai hamba Tuhan yang melayani tanpa syarat.

Terjadi perubahan konsep berpikirnya , beremosi dan berespon kepada Allah:

a. Dalam kekecewaannya, Asaf tidak meninggalkan pelayanan justru bergiat mencari Allah (ayat 17) "sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka".
Pada saat Asaf mengalami kekecewaan , ia tidak lari dari pelayanannya. namun justru semakin mendekat pada Tuhan, dan mencari jawabannya pada Tuhan. 

b. Dalam ketidak mengertiannya, Asaf tidak menyalah keadaan ataupun orang disekitarnya (Ayat 1,18-20)"Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur"
Konsep berpikir dan pemahamannya mulai diubahkan oleh Tuhan. Ia tidak lagi cemburu terhadap orang-orang fasik yang berhasil dimiliki orang fasik. Sekaang ini yang ia ingini adalah Allah sendiri. 

c. Dalam kebimbangannya, Asaf tetap memilih Allah menjadi tujuan yg sangat menarik lebih dari apapun dan siapapun (Ayat 23-27)
"Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi."
Ia tidak lagi mengingini kesehatan, kekayaan dan hal-hal lain yang : walaupun kita tidak memiliki apa-apa, tetaplah yang kita ingini selama-lamanya adalah Allah. 
Persoalan yg dihadapi Asaf masih belum diselesaikan Allah, keadaan sulit masih menekan hidupnya, orang-orang fasik masih melemparkan penghinaan kepadanya. Masih belum ada tanda-tanda perubahan disekitarnya! Situasi masih belum berubah tetapi Allah sudah MERESTORASI hati Asaf.

Sekarang ini,
Kerajaan pribadinya dalam pelayanan sudah dirobohkan
Tidak ada lagi kepentingan pribadi yg harus dipertahankan dalam pelayanan.
Dedekasi pelayanan kini kembali utuh dengan merindukan kualitas relasi yg makin dekat dengan Allah, mengekspresikan sukacita lebih dari apapun dan siapapun.

Allah tidak akan pernah melupakan sejumlah pengabdian pelayanan kita
karena janjiNya masih berlaku sampai sekarang ini!....
"Dalam pekerjaan Tuhan, segala jerih lelahmu tidak sia-sia" 
Jadi tanpa kita harus membangun kerajaan sendiri dalam pelayanan. 
Allah so pasti memberikan mahkotaNya kepada kita. Amin
GBU

by Haris Subagiyo