Kamis, 09 Juni 2011

Kebangkitan Kristus Membawa Jalan Baru


Jika Kristus yg kita percaya sebagai Tuhan dan Juru Selamat telah mati tidak mengalami kebangkitan, maka betapa merana, menderita bahkan malangnya nasib iman kristen menjadi agama rapuh tanpa masa depan. Namun realitanya kekristen mendapatkan kepastian yg kokoh bahwa Yesus sudah mati dan pada hari yg ketiga Dia sudah bangkit dari antara orang mati!
Apa relevansi kebangkitanNya dengan hidup kita saat ini ?


I. Kebangkitannya memberikan HARAPAN YANG KEKAL

Peristiwa Pertama: (Matius 28:1).
Paskah diawali oleh catatan Injil Matius dengan suatu kesaksian: “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria lainnya, menengok kubur itu” 

Apakah yang dipikirkan oleh Maria Magdalena dan Maria lainnya saat mereka pergi untuk menengok kubur Yesus pada waktu subuh?
Apakah mereka pada waktu itu berpikir akan melihat peristiwa kebangkitan Yesus?
Apakah mereka memiliki harapan untuk dapat menjumpai Yesus yang bangkit?


Pastinya mereka sama sekali tidak pernah berpikir untuk melihat peristiwa kebangkitan Yesus dari kuburNya. Mereka juga tidak memiliki pengharapan sedikitpun untuk berjumpa dengan Yesus Kristus yang berhasil  mengalahkan maut dengan bangkit dari kematianNya.


Tujuan kedatangan para wanita tersebut ke kubur Yesus adalah untuk hal yg manusiawi; membawa rempah-rempah dan minyak mur. Mereka datang secara khusus untuk mengurapi jenasah Yesus sebagai ungkapan kasih dan penghormatan yang terakhir. Sebab pada waktu pemakaman jenasah Yesus beberapa hari sebelumnya, mereka tidak sempat menaburi jenasah Yesus dengan rempah-rempah dan minyak mur karena saat itu telah mendekati senja dan bertepatan dengan persiapan untuk menyambut hari Sabat.
Namun sungguh mengejutkan, bahwa  peristiwa Paskah pada waktu itu yang diawali dengan tiadanya pengharapan dan iman bahwa Yesus akan bangkit, walaupun mereka sebelumnya telah mendengar pesan dan pengajaran itu dari Tuhan Yesus waktu Dia masih bersama-sama dengan mereka.


Sikap para wanita saat mereka mengunjungi kubur Yesus di hari Minggu pagi itu sesungguhnya hanya diliputi perasaan sedih, berdukacita dan sangat kehilangan dengan kepergian Yesus yang harus mati dengan cara yang tragis di kayu salib.
Pahlawan, guru, pemimpin besar dan Messias yg menjadi tumpuan harapan, kini telah tiada. Apalagi yang dapat mereka harapkan dari Yesus? Semua telah berakhir !


Tetapi harapan mereka yang telah runtuh itu secara mengejutkan dipulihkan oleh Allah.
Allah mengutus seorang malaikatNya untuk memberi kabar tentang peristiwa kebangkitan Kristus, sambil berkata: “Janganlah takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring” (Mat. 28:5-6).
Harapan para wanita yang semula hanya ingin merempah-rempahi jenasah Yesus sebagai penghormatan mereka yang terakhir berubah menjadi harapan yang baru dan penuh sukacita.
Sebab jenasah Yesus yang akan mereka rempah-rempahi kini sudah tidak ada lagi di kubur. Yesus sudah tidak ada dikubur, YESUS sudah BANGKIT dari kubur!!!!


Dengan gagasan yang sama Injil Lukas juga menyaksikan perkataan malaikat kepada para wanita, yaitu: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mata? Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit” (Luk. 24:5).


Di depan kubur Yesus, harapan dari para wanita tersebut berubah secara drastis, yaitu berubah menjadi harapan yang menimbulkan kekuatan dan perubahan orientasi hidup, sebab Yesus yang telah wafat itu kini telah bangkit.


Perubahan nyata:
a. Dimulai dengan kesedihan, berduka dan kehilangan serta perasaan tidak berdaya  namun oleh karena kebangkitan Kristus berubah menjadi suatu sukacita yang besar.
Matius 28:8 menyaksikan reaksi para wanita yang semula yaitu: “Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus”. Berita malaikat Tuhan tersebut menghasilkan suatu perubahan pengharapan dan cara pandang iman yang sama sekali baru.


b. Dimulai dari pembawa rempah tanda dukacita, namun oleh kebangkitan Kristus mereka menjadi saksi kebangkitan Kristus yg pertama kali.
Semula mereka melangkah ke kubur Yesus dengan perasaan sedih dan tertekan, tetapi kini langkah mereka berubah menjadi: “berlari bersemangat, cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus yang lain”.


Peristiwa Paskah bermakna sebagai peristiwa transformasi pengalaman iman yang mengubah kesedihan menjadi sukacita, dan mampu mengubah kehidupan yang penuh dengan rasa putus-asa menjadi hidup yang berpengharapan.


II. Kebangkitan Yesus membawa PENYERTAAN KEKAL
Perkataan pertama Paskah:
Perkataan dari Yesus yang bangkit kepada para muridNya adalah: “Salam bagimu” (Mat. 28:9). Ucapan salam dari Tuhan Yesus ini tentunya memiliki makna bahwa Tuhan Yesus yang telah bangkit menyatakan realita damai-sejahtera  “syaloom” dan keselamatan dari Allah.
Tuhan Yesus datang menjumpai para muridNya dalam keadaan damai sehingga  mereka dibebaskan dari perasaan takut, tertekan, sedih, gelisah dan tidak berdaya.
Tuhan Yesus melanjutkan perkataanNya, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat. 28:10).
Dalam peristiwa kebangkitanNya, Tuhan Yesus datang untuk menghibur dan mengusir perasaan takut yang sempat mengelayuti hati para murid beberapa hari sebelumnya.
Artinya kehadiran Kristus yang bangkit itu sama sekali tidak menimbulkan perasaan takut, tetapi perasaan damai-sejahtera. Sebab kehadiran Tuhan Yesus dengan tubuh kebangkitanNya, telah menetralisir dan menyembuhkan semua perasaan sedih dan kecewa yang sempat dialami oleh para murid Yesus.


Yang sangat menarik, Yesus yang bangkit itu justru menyuruh mereka pergi ke Galilea untuk berjumpa lagi dengan Dia.
Mengapa mereka harus pergi ke Galilea untuk bertemu dengan Yesus yang bangkit?


Pada zaman itu semua orang Israel umumnya paham bahwa Galilea merupakan daerah yang dianggap terbelakang dan udik dengan karakteristik orang-orangnya yang dianggap kurang berpendidikan, miskin secara ekonomis dan adat kesopanan yang kurang halus.
Pada awal pelayananNya Tuhan Yesus telah memulai di Galilea; dan ketika Ia bangkit, Tuhan Yesus berada kembali di Galilea.


Pesan moral yg hendak disampaikan Tuhan Yesus yang pernah hidup, mati dan kemudian bangkit dari antara orang mati pada hakikatnya menjadi Juru-selamat bagi setiap orang yang lemah dan terbuang.


Tuhan Yesus  yang bangkit adalah juga Kristus yang sungguh-sungguh peduli dan mengasihi setiap orang yang tidak berdaya, papa, dan kehilangan pengharapan. Jadi Kristus yang bangkit dari kematian secara nyata memposisikan diriNya sebagai seorang pembela dan Juru-selamat bagi setiap orang yang terbuang, tersisih dan ditolak  oleh dunia ini.


Menurut pola pikir manusia, kematian Kristus di atas kayu salib merupakan akhir dari segala-galanya. Kematian Kristus juga telah menghentikan karyaNya, dan tubuh fisikNya mengalami kehancuran. Tetapi semua rencana dari kuasa dunia tersebut tidak pernah menjadi suatu akhir dari segalanya. Justru sebaliknya:


a. Kematian Kristus menjadi karya Allah yang mendamaikan dengan umat manusia.
b. Bahkan melalui kematianNya, Allah kemudian membangkitkan tubuh fisik Kristus dengan tubuh kebangkitan yang mulia, sehingga Kristus kini dapat hadir di setiap tempat dan ruang tanpa batas.
c. Kehadiran Kristus yang bangkit justru menjadi kehadiran Ilahi yang makin efektif sehingga Dia kini mampu menjangkau untuk menolong setiap orang yang lemah dan tersisih.


Kehidupan kita sering seperti para wanita yang mengunjungi kubur Tuhan Yesus.
Pada satu momen tertentu kita merasa hidup dalam kekelaman yang pekat, dunia terasa runtuh, dan tanpa pengharapan apapun. Sehingga sepertinya kita tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk melanjutkan kehidupan  di masa mendatang.
Di saat-saat demikian, kita merasa terkepung oleh berbagai permasalahan dan tidak menemukan sedikit celahpun sebagai solusi. Kita cenderung bersikap bingung, panik dan tergoda untuk melakukan jalan pintas.
Namun oleh kuasa kebangkitan Kristus semua potensi kelemahan, ketidakberdayaan bahkan kerapuhan hidup kita sudah diberi jalan perubahan: Jalan pembaharuan yg penuh harapan dan jaminan kepastian penyertaan Allah yg kekal.
Kebangkitan Kristus telah mengubah segala jalan yang tertutup menjadi jalan yang terbuka.  Allah akan menyediakan pertolongan dan keselamatan bagi setiap orang yang lemah, tersisih dan terbuang.


Kebangkitan Kristus merupakan kabar gembira dan sukacita bagi setiap orang yang tidak berdaya. Sebab Kristus yang bangkit adalah Kristus yang senantiasa hadir untuk menolong setiap orang yang berseru kepadaNya.
Kehadiran Kristus yang bangkit senantiasa menghadirkan syaloom Allah, sehingga semua ketakutan dan kegelisahan kita akan dipulihkan olehNya.


Apa yg sudah Tuhan kerjakan dengan kematian dan kebangkitanNya bukan untuk membawa kita hanya senang dan bangga dengan karya Kristus yg sudah mentransformasi kehidupan menjadi lebih baik. Namun Allah hendak membawa hidup jauh lebih berdaya guna supaya menjadi SAKSI-NYA yg sangat efektif memberitakan kematian dan kebangkitannya didunia ini.


Itulah berkat PASKAH kita,


.sbab DIA hidup...ada hari esok...
Sbab DIA hidup ku tak gentar...
Karena ku tahu DIA pegang hari esok... Hidup jadi berarti sbab
YESUS HIDUP.....



orang-orang yg hidupnya hancur tanpa pengharapan, tidak berharga tetapi ditenagai oleh RohNya dan diberi kehormatan sebagai agen sorgawi untuk menyampaikan KABAR BAIK kepada dunia ini.
Bersama kebangkitanNya, Dia memastikan kemanapun kita pergi dan berada, sudah tidak ada lagi sekat yg sanggup menghalangi penyertaan kekal Allah didalam kita. Amin


Dia sudah BANGKIT......
Ya.... DIA sudah Bangkit......


Selamat Paskah GBU
by Haris Subagiyo

Kuasa Kebangkitan yang Mengubahkan Pelayanan


Kebangkitan Kristus bukanlah demonstrasi yg dinyatakan dengan tujuan pamer kemahakuasaan yg melebihi sistem alamiah manusia. Kebangkitan Kristus bukanlah argumentasi Tuhan atas berbagai pertanyaan misteri yg diajukan manusia. Kebangkitan Kristus bukanlah sandiwara untuk membuat manusia kagum akan Tuhan. 
Kebangkitan Kristus adalah grand disain Allah yg dirancang jauh-jauh hari dimasa kekekalan yg dideklarasikan Allah sendiri untuk kepentingan manusia.
Kebangkitan Kristus dinyatakan untuk membawa dampak perubahan nyata dalam kehidupan manusia. 

Apakah dampak kebangkitan Kristus bagi pelayaan kita? 
Di Yoh. 21:3 
I. Kuasa Kebangkitan Kristus Menjawab Kebutuhan Pelayanan.



Kebingungan, ketiadaan arah bahkan berhentinya visi pelayanan karena telah ditinggal mati Tuhan Yesus adalah pergumulan hebat para murid yg sudah menginvestasikan hidup bagi Tuhan.

Kematian Tuhan Yesus mengkondisikan para murid kembali bekerja sesuai profesi semula sebagai para nelayan. Hal sangat manusia (very humanity). Sikap positif yg tidak membiarkan diri untuk larut dalam pukulan kesedihan setelah peristiwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib, karena itu mereka kembali aktif bekerja sesuai pilihan profesi yang mereka geluti selama ini. 



Pekerjaan mencari ikan telah mendarah-daging menjadi profesi yang sangat mereka kuasai. Namun untuk kali ini, pada saat mereka bekerja mencari ikan, ternyata profesionalitasnya tidak membuahkan hasil, mereka gagal........ 

Pada detik-detik yang mengecewakan itu, ditengah pergumulan hidupnya:

a. Pelayanannya bersama Tuhan dianggap sudah kandas ditengah jalan

b. Pekerjaannya sebagai nelayan tidak memberikan keuntungan ekonomi.



Ternyata Tuhan Yesus yang sudah bangkit sudah berada ditengah mereka dan memberi perintah untuk menebarkan jala di sebelah kanan. 

Ketika mereka mentaati apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, maka secara ajaib mereka dapat memperoleh ikan dalam jumlah yang sangat besar. Woooooooooooooow....mujizat terjadi sesudah kebangkitan.

Kejadian tersebut menyadarkan para murid, bahwa Kristus yang bangkit sekarang sudah menyatakan diriNya di tengah-tengah kehidupan dan pergumulan mereka.  Bahkan salah seorang murid yang dikasihi Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan!" (Yoh. 21:7).
Kehadiran Kristus yang bangkit dinyatakan bukan saja ketika mereka merasa berhasil dan kuat. Sebaliknya ketika mereka gagal ,lemah, kecewa dan tak berpengharapan. Para murid diteguhkan oleh kehadiran dan kuasa Kristus yang bangkit. Sehingga secara spontan mereka menyatakan sikap imannya: "Itu Tuhan". 


Saat mereka sampai di darat, para murid menemukan Kristus yang telah siap menyediakan makanan bagi mereka. 

1. Kehadiran Kristus yang sudah bangkit menguatkan dan meneguhkan iman para murid yang sedang bersedih-hati, 

2. Kehadiran Kristus sangat mempedulikan kebutuhan jasmaniah mereka. 

Jelaslah bahwa kebangkitan Kristus bukan sekedar suatu ilusi rohani, tetapi sungguh-sungguh suatu peristiwa perjumpaan pribadi yang nyata dengan Kristus yang hidup. Karena itu peristiwa sarapan pagi di tepi pantai menjadi suatu peristiwa perjamuan yang mempersekutukan para murid bersama dengan Kristus.

Persekutuan dengan Yesus secara langsung dan pribadi yg menjawab segala persolan bahkan pada perkara yg bersifat sangat jasmaniah: makanan, kebutuhan perut, pekerjaan, masadepan. tidak luput dari sasaran kuasa Kebangkitan Tuhan Yesus.

Kesulitan memang masih tetap ada ditengah pelayanan namun percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mempersulit pekerjaanNya didalam kita. Kebangkitan Kristus memastikan bahwa Allah juga hadir memberikan jawaban langsung dan pribadi atas segala kebutuhan hidup kita.



II. Kuasa Kebangkitan Kristus Mengubahkan Karakter Pelayanan



Di tengah-tengah persekutuan mereka dengan Kristus, Dia bertanya kepada Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" (Yoh. 21:15). 



Pertanyaan Tuhan Yesus ini diajukan 2 kali kepada Petrus. Ternyata 2 kali pertanyaan itu Tuhan Yesus menggunakan kata "mengasihi" dengan kata "agape" (kasih ilahi yang tanpa syarat), yaitu: "Simon Iooannou, agapas me pleon toutoon" (Simon, anak Yohanes apakah engkau mengasihi aku lebih dari mereka?). 

Yang menarik adalah bentuk jawaban dari Petrus dalam membalas pertanyaan tersebut. Petrus tidak membalas dengan jawaban "agape" juga, tetapi dia mengungkapkan bahwa dia mengasihi Kristus dengan kata "philia" (kasih seorang sahabat). 

Selanjutnya Tuhan Yesus bertanya yang ketiga kali dengan mengikuti pola berpikir Petrus yaitu : Apkah engkau mengasihi Aku dengan "philia", Petrus menjawab: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (philia) Engkau". 

Sampai jawaban ketiga Petrus tetap konsisten menggunakan kata "philia". Dia tidak lagi berani menyatakan bahwa dia mampu mengasihi Kristus dengan kasih "agape" karena telah terbukti dia telah gagal dengan menyangkal Kristus sampai tiga kali. 



Pernyataan ini menjelaskan perubahan sikap Petrus yg telah diubahkan oleh kuasa Kebangkitan Kristus:

a. Seorang yg  , radikal, keras kepala berubah menjadi seorang yg tahu diri,  lugas (realistis) , jujur, dan apa adanya. 

b. Seorang yg 
bertemperamen kholeric, reaktif, spontan, tanpa berpikir panjang, mengumbar nafsu keberanian tanpa memikirkan konsekuensinya sekarang diubahkan menjadi santun dan realistis. 
c. 
Petrus, Sang batukarang kini telah menjadi Simon: buluh yg lemah terkulai ketika berhadapan dengan kebangkitan Kristus.
d. Petrus seorang yg gagal dalam dalam konsistensinya membela imannya kini memiliki sinar iman yg baru.



Perubahan karakter Petrus telah menempatkan kepercayaan Kristus untuk mengerjakan tugas pelayanan. "Gembalakanlah domba-dombaKu". 
Apa saja yg pernah dilakukan Petrus bukanlah persoalan yg mengganjal kepercayaan Tuhan Yesus terhadap dirinya.
Kuasa Kebangkitan Kristus mengubahkan sikap Petrus yang selalu yakin (over-confident) mampu setia dan mengasihi Kristus dalam segala situasi. Kini ia tidak lagi berani menyatakan bahwa dia mampu mengasihi Kristus dengan kasih ilahi yang tanpa syarat dan bersedia untuk berkorban (kasih agape). Kali ini Petrus bersikap rendah-hati bahwa dia hanya memiliki kasih "philia" saja.


Namun Tuhan Yesus tetap mempercayai Petrus untuk menggembalakan umatNya. Ini berarti tindakan untuk melayani pekerjaan Tuhan hanya dapat terwujud ketika kita mau bersikap rendah-hati, mengakui ketidakberdayaan dan kelemahan kita. 

Pekerjaan Tuhan yg ideal tidak akan terwujud ketika kita merasa diri kita lebih baik, lebih rohani dan lebih berpengalaman dari orang lain.

Justru kita akan makin dipakai oleh Tuhan secara lebih efektif, ketika kita melaksanakan tugas pelayanan lahir dari hati yang hancur dan sikap yang tidak layak di hadapanNya. 

Spiritualias iman yang lahir dari hati yang hancur justru membuka pintu rohani kita untuk melihat kuasa kebangkitan Kristus yang berkenan mempercayai kita untuk menggembalakan umatNya. 

Kuasa kebangkitan Kristus telah membungkus kelemahan, kekurangan dan kegagalan Petrus untuk mengerjakan pekerjaan besar. 



Kuasa kebangkitan Kristus juga memastikan terjadinya tranformasi karakter Allah yg dihisapkan dalam watak kita. Sehingga apapun keberadaan kita yg sarat dengan kelemahan, ketidakmampuan dan keterbatasan tidak dianggap Tuhan sebagai batu sandungan yg boleh menggagalkan masa depan pelayanan.

Kebangkitan Yesus mengubah karakter kita lebi hdahulu sebelum Dia memakai kita mengubah dunia ini.



III. Kuasa Kebangkitan Kristus Memperbaharui Kekuatan Pelayanan.



"Sesungguhnya ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki" 
(Yoh. 21:18).

Tugas pelayanan dalam kuasa kebangkitan Kristus seharusnya memampukan kita untuk "dipimpin oleh orang lain". 

Sekarang ini, di hadapan Kristus yang bangkit, dia disadarkan bahwa untuk melayani pekerjaan Tuhan, dia tidak dapat bersandar kepada kekuatan dan pengalaman sendiri. Dalam perjumpaan dengan Tuhan Yesus ,Petrus disadarkan dalam beberapa aspek :

1. Tentang kondisi imannya yg sudah berubah: 
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku   lebih dari pada mereka ini?
Tuhan Yesus pasti tidak lupa dengan predikat nama Petrus, yg berarti batu karang yg kokoh, namun kali ini Dia memanggilnya dengan sebutan Simon, yg berarti; buluh yg lemah, mudah diterpa angin. Sudah terjadi degradasi iman, namun kuasa kebangkitan Kristus telah mengubahkan menjadi kekuatan iman yg bekerja untuk melayani Dia.

2. Tentang potensi pelayanannya:
Sebelum bertobat, Petrus seperti seorang yang masih muda yang cenderung selalu mengikuti kehendaknya sendiri. Dia mengikuti apa yang menjadi kemauannya sendiri. Ia menjadi pribadi yg terlalu percaya diri akan kekuatan dan kemampuannya sendiri. 

Sebaliknya di hadapan Kristus yang bangkit, dia telah menemukan jati-dirinya yang ternyata sangat rapuh dan lemah; namun pada saat yang sama Tuhan Yesus masih berkenan mempercayai untuk menggembalakan umat Tuhan. bukankah itu adalah anugerah Tuhan, yg diberikan pada Paskah pertama!

Pelayanan pekerjaan Tuhan akan menjadi efektif manakala kita bersedia bersandar kepada kuasa kebangkitan Kristus, yang akan memampukan  untuk melayani dengan tuntunan Kristus sendiri.
Kuasa kebangkitan Kristus akan memampukan kita untuk menanggung berbagai kesedihan, terluka dan menderita pada saat dia melaksanakan tugas pelayanan. 

Sikap Petrus yang merasa diri kuat, penuh tenaga dan merasa diri selalu benar ternyata juga dialami oleh Saulus sebelum dia berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Saat itu Saulus merasa bahwa apa yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah dengan mengejar dan menganiaya jemaat Tuhan. Tetapi dalam perjalanannya ke Damsyik, dia berjumpa dengan Kristus yang bangkit. 
Kisah Rasul 9:3-9 dia jatuh dari kudanya dan menjadi buta. 
Namun pengalaman itu telah menyebabkan dia mengalami perubahan hidup yang total.  Akhirnya ia menjadi hamba Kristus yang digerakkan oleh kuasa kebangkitanNya, dan bukan menjadi hamba Kristus karena dia merasa kuat dan memiliki kebenaran Allah. Dia tidak menggembalakan umat karena merasa telah berhasil "menangkap" Kristus, sebaliknya dia dapat menjadi hamba Tuhan Yesus karena dia "ditangkap" oleh kasihNya. 
Filipi 3:12, rasul Paulus berkata: "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus". Rasul Paulus dapat menjadi seorang rasul Kristus karena dia telah ditangkap oleh Kristus. 



Ini berarti untuk melayani pekerjaan Tuhan secara efektif Jika kita mau ditangkap dan dikendalikan oleh oleh Kristus. Bukan sekedar kepiawaian mengembangkan kapasitas diri dengan kecakapan ilmu, pengalaman apalagi kenekatan yg mengatasnamakan Tuhan.



Kuasa Kebangkitan Kristus hendak memastikan bahwa pelayanan adalah Proyek Besar Allah yg akan selalu berhasil jika dikendalikan dengan: Kasih , Kerendahan hati dan mengandalkan Kekuatan Allah.  

Amin 



Happy Resurrection Day

God BlessU All....Have Nice Day with God


by Haris Subagiyo

Mengapa aku tidak boleh menyentuhNya ?

Study tentang Kebangkitan Kristus yg merobohkan kebodohan manusia dan membangunnya dalam tatanan iman yg baru.

Kebangkitan Kristus bukan sekedar cara Allah menjawab berbagai kebingungan kita yang gagap menilai berbagai perkara yg sudah dikerjakan Allah di dunia ini. Lebih dari sekedar menjawab kebutuhan pribadi dan memuaskan harapan manusia. Kebangkitan Kristus dinyatakan untuk menyelesaikan program besar Allah "membawa hati manusia masuk dalam hatiNya Allah". Menempatkan kembali manusia yg terhempas dalam dunia kembali dalam jantung hati Allah.


Bagaimana mungkin kita dapat mengerjakannya?


Kuasa kebangkitan Kristus bekerja mengubahkan kita:


Yohanes 20:17


Ketika Maria Magdalena berupaya memegang dan memeluk Tuhan Yesus, dengan segera Kristus berkata: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu"
Perkataan Tuhan Yesus tersebut menimbulkan kebingungan bagi banyak orang. 
a. Kontradiktif dengan kesempatan yg diberikan kepada Tomas yang tidak percaya, Tuhan Yesus justru berkata: 
"Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah" (Yoh. 20:27). 
Tuhan Yesus justru menyuruh Tomas untuk memegang bekas luka-luka di tubuhNya.  

b. Kontradiktif dengan perintah yg diberikan kepada para murid untuk menyentuh tubuhNya agar mereka percaya, dengan berkata: 
“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku" (Luk. 24:39).
Tuhan Yesus menyuruh para muridNya meraba tubuhNya untuk meyakinkan bahwa tubuh kebangkitanNya tidaklah identik dengan hantu. Karena yang dimaksud dengan hantu adalah roh yang tidak memiliki daging dan tulang. 

Perkaranya apa  sekarang ini Tuhan Yesus melarang Maria Magdalena untuk menyentuh tubuhNya? Apakah tubuh kemuliaan adalah tubuh yg memang tidak boleh disentuh, tubuh yg suci atau tubuh yg tidak nyata? sama sekali bukan itu persoalannya.!


I. Kebangkitan Kristus Menghancurkan Sikap Egoistis
Study Kata: Tinjauan gramatikal (tata bahasa)
dalam teks Yunani dalam Yoh. 20:17
"Janganlah engkau memegang Aku” menggunakan bentuk  “present imperative”. 
artinya makna “"Janganlah engkau memegang Aku”
harus dipahami sebagai suatu perintah agar Maria Magdalena tidak berupaya untuk terus menerus memegang (mengikat) dan memeluk diriNya. 
Maria Magdalena memberikan pendekatan emosional berlebihan saat berjumpa Yesus yg sudah dibangkitkan , sebenarnya reaksi emosional juga dibutuhkan. Namun pendekatan spiritual (iman) harus diberi tempat yg lebih luas untuk menemukan gagasan yg disampaikan Yesus.
Respon emosional akan mengekspresikan perasaan luka yg pernah kehilangan, ini dapat mendorong seseorang untuk terus memegang atau memeluk orang yang dikasihinya agar tidak pernah terlepas lagi. ini adalah bentuk kekuatiran alami manusia yg sulit dibendung!
Dengan demikian perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan agar Maria Magdalena tidak terus memegang diriNya adalah suatu teguran:

Supaya tidak menjadi pribadi yang mementingkan diri sendiri dan merasa sangat memiliki. (tidak boleh terlepas darinya lagi) tanpa melihat peran besar Kristus untuk orang lain.


Realitanya kita justru berupaya untuk terus memegang erat-erat agar Tuhan tidak terlepas dari genggaman. Kita tidak menginginkan Tuhan menjadi milik orang  lain. Karena itu akan berupaya sekuat tenaga untuk menjaga dan mempertahankan agar Tuhan tetap dalam genggaman kekuatan sendiri. 

Tanpa disadari, Tuhan telah kita perlakukan seperti obyek yg dapat kita manfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi, untuk itu kita memasang tali pengikat atau sarang yang mengurungnya agar tidak pernah dapat terlepas lagi
Karena itu ,
Tuhan Yesus menegur Maria Magdalena "Janganlah engkau memegang Aku"
Justru yg lebih penting dari urusan memegang Tuhan adalah menjalankan perintah yaitu: 

“tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu"
Kristus yang bangkit pada satu pihak berkenan menyatakan diriNya kepada Maria Magdalena, secara pribadi tetapi pesan yg tidak kalah penting adalah Kristus yang bangkit mengutus Maria Magdalena untuk menjadi saksi kebangkitanNya. 
Untuk itu kita harus bersedia menanggalkan semua sikap egoisme dan posesif terhadap Kristus. Karena Kristus yang bangkit adalah Kristus yang menjadi Juru-selamat setiap umat manusia. 

Kekristenan bukanlah keberhasilan mendapatkan Yesus secara personal namun kekuatan untuk memperagakan Kristus secara nyata kepada orang lain.
Esensi kebangkitan Kristus adalah semangat memberi, membagi dan bersaksi secara efektif kepada orang lain. "Spirif of Easter is the spirit of giving" (Semangat Paskah adalah semangat untuk memberi.)




Bukankah kita cenderung selalu mengharapkan "apa saja" yg sedang dan akan Tuhan berikan untuk kepentingan saya. Apa dampak kebangkitan Yesus untuk kemakmuran hidup saya. Apa untungnya kebangkitan Yesus untuk masa depan saya?
Saya menjadi prioritas yg lebih penting dari Yesus!


Peristiwa Kebangkitan Kristus kali ini,
Jadikan sebagai momentun untuk meruntuhkan semua tembok egoisme kita. Bukankah setiap sikap egoisme sering disimbolkan dengan tangan yang menggenggam atau terkepal? 
Tetapi dalam peristiwa Paskah, Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya yang terluka dan telapak tanganNya yang terbuka lebar sebagai simbol sikap hidup yang selalu memberi.
II. Kebangkitan Kristus membangun Semangat Baru (Yoh. 20:17)




Study kata: arti Leksikal (kamus)


Arti perkataan Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu"




a. Berarti " Jangan terus menerus memegang atau mengikat"
b. Berarti: “jangan takut”. Karena teks Yunani dari Yoh. 20:17 dapat dibaca dengan 2 arti, yaitu:
 “me aptou” yang berarti: “Jangan memegang Aku”
 “me ptoou” yang berarti: “Jangan takut” (dari kata kerja “ptoein” yang berarti: “gentar, gemetar karena rasa takut”).




Bila kita mengikuti salinan “me ptoou”, maka seharusnya Yoh. 20:17 dapat dibaca:
"Janganlah takut, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17).




Bentuk ucapan Tuhan Yesus tersebut merupakan pola ungkapan lazim dan menjadi ciri  khasNya.
* Bandingkan dengan perkataan Tuhan Yesus di Mat. 28:10 : "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku" (Mat. 28:10).




Jadi perkataan Tuhan Yesus di Yohanes 20:17 sejalan dengan Matius 28:10




Bilamana kita menggunakan makna “Janganlah takut” di Yoh. 20:17, maka perkataan Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena hendak menegaskan Kebangkitan Kritus adalah " Jaminan Kehadiran Kristus yg berkenan memberikan Kekuatan baru" , " Semangat baru"  Roh yg sangat besar untuk melengkapi murid-muridNya dalam bekerja melayaniNya dibumi.




Jangan Takut, jangan gentar yg dikorelasikan dengan pekerjaan pelayanan adalah bentuk jaminan kepastian kehadiran Tuhan yg dinyatakan secara langsung kepada pribadi demi pribadi yg diutus melayaniNya. Untuk jangan sekali-kali mudah digoyahkan oleh perkara-perkara yg tidak kekal. Persoalan-persolan yg hanya berkaitan dengan promosi jabatan, uang, lingkungan, orang, perhatian sponsor atau bahkan persoalan-persoalan sosial.




Apresiasi saya untuk semua rekan-rekan sepelayanan yg dengan kerelaan dan keberanian menembus batas persoalan ekonomi dan keterbatasan fasilitas akomodasi tetapi terus berjuang melayani Tuhan tanpa kenal lelah dan tak kenal putus asa namun terus membawa SEMANGAT KEBANGKITAN KRISTUS ditengah pelayanan yg tidak mudah.




Denyut nadi Allah harapkan karya kita untuk  membawa hati manusia yg terluka, jiwa yg sakit, pikiran yg merana, mereka yg letih lesu karena tiadanya harapan boleh kita bawa pada Kristus yg menjadi Juru Selamat dunia.

Jangan padamkan semangatmu untuk terus bekerja secara aktif, kreatif dan efektif diladang Tuhan. karena untuk itulah kuasa Kebangkitan Kristus dinyatakan untuk Anda dan untuk Saya !

Happy Resurrection Day All..........

Have Nice Day
Gusti Yesus Amberkahi kita Sedaya Amen

by Haris Subagiyo

Menakar Kepantasan Diri dalam Melayani Tuhan

Diskusi Konsep Mengejar NILAI atau tampilkan MUTU Pelayanan
Menilai kualitas bangunan dari perspektik estetika saja (indah , megah dan modern)  akan membiaskan obyektivitas untuk berhenti menilai: seberapa KOKOH dan BERAPA LAMA DAYA TAHAN bangunan tersebut terhadap goncangan.
Lebih dari sekedar mendapat penilaian tetapi mengedepankan aspek kualitas dalam membangun. Tuhan tidak menilai bangunan luar (interior & eksterior) yg indah dan megahnya pelayanan yg kita bangun, bahkan Tuhan seringkali harus mendesak kita untuk segera MEROBOHKAN konstruksi KEINDAHAN yg dibangun diatas PONDASI YG RAPUH.

Bagaimanakah seharusnya kita membangun kualitas pelayanan yg selaras dengan harapan Tuhan ?

Kuasa Kebangkitan Kristus merekonstruksi pengabdian pelayanan yg  sepantasnya kita berikan kepadaNya!


Yohanes 21: 15 - 19


Kata "Gembalakanlah domba-dombaku" menunjukkan pada area pelayanan yg dipercayakan kepada kita, sebagai orang-orang biasa tanpa didahului dengan syarat-syarat kompetensi teologis dan akademis  yg populer ditengah tuntutan pelayanan masa kini.
Mengapa Tuhan demikian berkeringat mengejar dan hendak menangkap Petrus untuk menginvestasikan hidupnya bagi pelayanan pekerjaan Tuhan?
Apakah Tuhan Yesus telah menemukan syarat-syarat kelayakan hidupnya untuk dapat dipakai sebagai alatNya?
Apakah Petrus telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang Pekerja Kristus yg Ideal?


Mari kita perhatikan perjalanan Petrus mulai saat ia dipanggil Tuhan Yesus!


1. Apakah Tuhan Yesus menemukan Kualifikasi Intelektual:  (Markus 1:16-18)


1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka:"Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.


Jika pelayanan mensyaratkan orang untuk lebih dahulu memiliki pengalaman dan kompetensi intelektual yg tinggi maka Petrus adalah orang pertama yg seharusnya tidak punya hak untuk bekerja diarea pelayanan. Karena kita tidak menemukan latar belakang, pengalaman maupun kecakapan akademis yg cocok dengan kebutuhan pelayanan. Petrus dipanggil Tuhan saat ia bekerja sebagai nelayan: keahlian apa yg dapat direbut dari seorang pencari ikan dilaut yg kesehariannya bergulat dengan jala, perahu, ikan dan membaca iklim.
Dia adalah orang awam yg tidak terpelajar, bukan orator, bukan theolog , ia hanya seorang yg BERSEDIA MENERIMA PANGGILAN TUHAN.


2. Apakah Tuhan Yesus menemukan Kualifikasi Moral: (Markus 14 :27-29)


  14:27 Lalu Yesus berkata kepada mereka"Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.   14:28 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea. " 14:29 Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncangimannya, aku tidak
14:31 Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau,   aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lainpun berkata demikian juga.


Pernyataan Petrus ini sama sekali tidak terbukti dalam tindakan nyata.
Ia dapat dilihat secara telanjang sebagai orang yg pengecut, tidak berani mengiring Tuhan Yesus dari dekat saat Tuhan Yesus berada pada zona penderitaan, Ia lari saat dianggap sebagai bagaian dari murid Yesus. Tidak punya loyalitas (kesetiaan), tidak punya integritas (keteguhan hati) bahkan dengan cepat berubah setia.
Seorang yg emosional, meledak ledak temperamennya, cepat bicara berpikir belakangan, mudah berjanji, pamer kekuatan tapi hanya omong kosong.
Kualitas kebaikan apakah yg hendak kita harapkan dari seorang yg bernama Petrus?


3. Apakah Tuhan Yesus menemukan Kualifikasi Spiritual: (Markus 14 :66-72)

Alkitab mencatatnya secara eksplisit  bahkan memberinya thema secara khusus tentang peristiwa penting yg melibatkan dirinya yaitu: "Petrus menyangkal Yesus"
Petrus bukan saja menampilkan diri sebagai sosok yg berani melawan fakta yg disampaikan Gurunya bahkan ia nekat berargumentasi dengan bantahan yg bernada menyangkal, mengutuk dan bersumpah. Dan pengalaman itu tidak dilakukan secara spontan atau tidak sengaja (keprucut: salah omong) Terbukti  ia melakukan bantahan sebanyak tiga kali berturut-turut.


Semakin nyata bahwa penilaian Tuhan Yesus sangatlah kontras dengan logika kita. Sekali lagi kita tidak menemukan syarat-syarat yg memadai untuk dilibatkan dalam pekerjaan besar pelayanan. Namun Tuhan Yesus seolah-olah tetap mengincar dan mendesak Petrus mengambil peran yg sangat vital melalui hidupnya.


Kepercayaan Tuhan Yesus kepada Petrus untuk melayani Tuhan sama sekali tidak bersentuhan dengan kualifikasi moral dan kompetensi intelektual-nya. Justru pada saat itu semua yg menjadi penilaian keindahan manusia menjadi  luruh, tidak berharga, ia telah menjadi PRODUK GAGAL.


Penghargaan pelayanan yg diberikan Tuhan Yesus kepada Petrus SANGAT KONTRAS dengan realita yg mengharuskan dipenuhinya berbagai syarat dalam pelayanan yg efektif.
Memiliki kompetensi moral, kompetensi intelektual dan kompetensi manajerial.
Perjumpaan pribadi Tuhan Yesus disaat Kebangkitan kembali menjelaskan situasi yg lebih nyata, siapakah sebenarnya Petrus.
1. Kondisi imannya yg sudah berubah: (Yohanes 21:20)
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku   lebih dari pada mereka ini?
Bandingkan  Matius 16:18 
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus   dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat  -Ku  dan alam maut tidak akan menguasainya  . 

Tuhan Yesus pasti tidak lupa dengan pemberian nama baru kepada Simon yg diubah menjadi nama Petrus . Petrus yg berarti batu karang yg kokoh, tidak mudah goyah tahan goncangan. Namun kali ini Dia memanggilnya dengan sebutan Simon (ini panggilan lama, masa lalu): yg berarti; buluh yg lemah, mudah diterpa angin.  Singkat kata, sudah terjadi demoralisasi (penurunan) kualitas iman yg sangat dalam, Pasti panggilan ini menyentak hati Petrus untuk membuatnya sadar bahwa seharusnya SAYA tidak layak untuk membangun iman orang lain sementara imannya sendiri terbukti terkulai lemas seperti buluh.

2. Tentang potensi pelayanannya:


Petrus adalah orang yg kagum dengan potensi dirinya sendiri sehingga ia selalu mencari momentun untuk pamer kebolehan didepan orang lain.
Petrus seperti seorang yang masih muda yang cenderung selalu mengikuti kehendaknya sendiri. Dia mengikuti apa yang menjadi kemauannya sendiri. Ia menjadi pribadi yg terlalu percaya diri akan kekuatan dan kemampuannya sendiri. Namun janji keberaniannya ternyata palsu belaka, ia menjadi sangat takut ketika berhadapan dengan bahaya yg akan menyeret kenyamanan dirinya. Ia bukanlah hamba Tuhan yg setia dalam pengabdiannya.


Jika memperhatikan seluruh track record (rekam jejak) Petrus pastilah kita kehabisan akal untuk melihat korelasi iman, karakter, pengalaman, kecakapan, intelektual dengan tuntutan pelayanan.


Bagaimana perspektif Tuhan dapat melihat Petrus yg hanya menonjol dimensi tampilan kulit luar, unjuk kekuatan phisik dan omong besar tetapi TETAP DIPERCAYA sebagai pekerja Kristus yg luar biasa bahkan sebagai RASUL YESUS KRISTUS!


Perjumpaan Tuhan Yesus secara pribadi dengan Petrus ini hendak menegaskan tentang cara mengkonstruksi pelayanan yg kokoh:

A. Pelayanan merupakan panggilan yg KHUSUS ( istimewa).

Sesudah peristiwa kebangkitan, Petrus adalah murid pertama yg paling dicari Tuhan Yesus. 
Petrus adalah murid yg di beri kesempatan pertama berinteraksi secara personal dengan tubuh Kebangkitan.
Diulangi lagi dalam Yohanes 21: 15 -
Tuhan menegaskan kepercayaanNya yg tidak pupus hanya karena kegagalan masa lampau. Kehormatan secara pribadi tetap diberikan kepada Petrus dengan segala keberadaannya untuk menggembalakan domba-dombaNya. Perhatikan kekuatan panggilan Allah yg tak bisa ditahan oleh kondisi apapun: kegagalan, kelemahan dan dosa Allah bersedia membereskan supaya kita tetap berada pada ZONA PANGGILANNYA.

Sekali Allah memanggil kita, godaan dapat menyeretnya kemanapun dunia mau bawa. Namun kekuatan kehendak dan kasihNya tidak pernah kehabisan cara untuk mengembalikan kita pada jalanNya. 

Kemana kita mau berlari meninggalkan panggilanNya?

Sesaat mungkin saja kita dapat silau dengan kemegahan dunia. Kita menjadi pribadi yg sangat terpukau dengan kenikmatan yg bertebarkan pesona kesenangan, kebebasan menggunakan harta, beria-ria dalam kemewahan,  menariknya jabatan politik, luar biasanya kekuasaan, betapa melambungnya jiwa saat beroleh pujian akan popularitas dan sukses material. Nyaris tidak tersimpan rasa kekaguman dalam melayani Tuhan yg serba terbatas dan penuh gelora derita. Tak ingin lagi kembali menghambakan diri untuk pengabdian yg berbayarkan kesukarelaan.

Namun, saat Tuhan Yesus kembali memanggilnya... sanggupkah kita menyisakan secercah hati untuk tetap melekatkan diri pada dunia ini dengan segala kemegahannya?
Tidak ada kekuatan besar apapun yg dapat mencegahnya, bahkan DOSA yg bertumpuk sampah kerusakan, kegagalan, kehancuran, kenistaan hidup...masih dipungutNya. Diangkatnya lagi hidup kita yg menjadi tidak berharga dan terbuang. Diberinya kepercayaan lagi. Diberinya kehormatan lagi untuk kembali menikmati Kasih dan KuasaNya dalam melayani Dia.
Sungguh hanya karena AnugerahNya saja kita boleh melayaniNya.
Tidak ada kebanggan diri yg dapat kita propagandakan dan
Tidak kelemahan diri yg boleh menggagalkan pangggilan pelayanan kepadaNya.


B. Pelayanan merupakan Ekspresi Kasih


Jika persyaratan moral, etika, intelektual, pengalaman manejerial tidak dibahas sama sekali dalam pembicaraan sebagai pra-syarat pelayanan namun topik yg satu ini dibahas panjang lebar, dianggap paling vital, karena menjadi motor dari segala dinamika pelayanan yang bernilai. tuntutan kasih dalam pelayanan

‘apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini’.
‘more than these (= lebih dari ini).
Kata ‘these’ ini bisa menunjuk kepada ikan-ikan dan pekerjaan menjala ikan, atau kepada para murid yang lain.
Kata ‘these’ 
dapat diterjemahakan beragam:
a. Jenis kelamin netral, dan menunjuk kepada ‘hal-hal ini’ - perahunya, peralatan memancingnya, dan pekerjaannya; Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari engkau mengasihi benda-benda ini? Apakah engkau mau, dari kasih kepadaKu, untuk meninggalkan semua ini, dan pergi dan memberitakan InjilKu kepada bangsa-bangsa di bumi?
b. Jenis kelamin laki-laki, dan menunjuk kepada rasul-rasul. Dalam arti yang pertama artinya adalah: ‘Apakah engkau mengasihiKu lebih dari pada rasul-rasul yang lain ini mengasihiKu?’. Dalam pertanyaan ini Yesus menunjuk pada pengakuan kasih yang lebih tinggi kepadaNya yang Petrus buat sebelum kematianNya.

Kesediaan Petrus dalam mengungkapkan kasih kepada Allah walaupun sejujurnya hanya dalam kualitas PHILIA (persahabatan) bukan AGAPE namun Tuhan Yesus tetap memberikan apresiasi yg sama yaitu Gembalakanlah-domba-dombaKu.
Tuntutan kasih Agape sebanyak tiga kepada Petrus dan selalu dijawab dengan kasih Philia menunjukkan kejujuran diri kita yg sering tidak sanggup memanifestasikan kasih Agape kepada Allah. Allah menghargai kejujuran kasih kita kepadanya sebagai syarat yg memadai untuk boleh dipercayai untuk menggemsabalakan domba-dombaNya.
Tuhan Yesus dapat enerima kulaitas kasih philia Petrus karena Dia sanggup mengubah kuliatas kasih kita menjadi kasih agape. Kasih agape Petrus terbukti dalam qua vadis
Menurut sejarah gereja menceritakan bahwa: Petrus meninggalkan kota Roma, melarikan diri karena tidak- tega melihat begitu banyak siksaan, aniaya yang dilakukan bangsa Romawi terhadap jemaat Kristen. Petrus hendak lari dari pembantaian bagi para pengikutnya yang setiap hari ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri Pria maupun wanita, tua muda, maupun anak-anak yang mengaku diri pengikut Knstus harus bertarung melawan singa untuk mempertahankan hidup. Bisa dibayangkan, kita melihat singa kenyang, tidur saja takut, apalagi melihat singa lapar diberi umpan, dan umpannya adalah manusia, Rasanya hampir tidak ada yang luput dari sergapan singa lapar itu, bisa dipastikan tidak ada seorangpun yang hidup. Maka, wajar kalau Petrus tidak tahan menyaksikan hal dan mengambil keputusan meninggalkan kota Roma saja.
Tetapi apa yang terjadi? Ketika ia sudah ada diluar kota, la tiba-tiba bertemu dengan Yesus yang sedang memanggul salibNya. Dalam keterkejutannya Petrus bertanya kepada Yesus: "Quo Vadis, Domine?" artinya: "Tuhan mau kemana? " Yesus menjawab: "Aku hendak ke Roma untuk disalibkan sekali lagi disana!". Mendengar jawaban Yesus itu Petrus terkejut, merasa terpukul hatinya, maka tanpa pikir panjang kembali lagi ke Roma. Petrus meninggal dengan cara seperti Yesus disana, yaitu disalibkan. Tetapi Petrus merasa tidak sepantasnya meninggal seperti gurunya, maka ia meminta disalibkan tetapi kepalanya dibawah


C. Pelayanan Berpusat Pada Kepentingan Kristus
Kata: "gembalakanlah domba-domba - Ku"  secara khusus :"KU" harus diterjemahkan sebagai mengelola pelayanan sebagai MILIK Tuhan, bukan milik DIRI SENDIRI.

Pelayanan yg dibangun dengan konstruksi yg dipusatkan pada Kristus:


a. Berkaitan dengan HAK yg layak diberikan kepada Kristus



Status kepemimpinan kita dalam komunitas jemaat bukanlah menempatkan kita sebagai PEMILIK tetapi PENGELOLA (Stewardship) : gembala, penyedia, pemelihara, dan pemberi makan, karena domba-domba adalah milik Kristus.
Eksistensi jemaat bukan domba milik pendeta, tetapi domba milik Kristus. Jadi satire (sindiran) ‘pendeta itu mencuri domba-dombaku’ hanyalah ekspresi nilai rasa yang tidak berdasar .
Gereja didirikan bukan seperti buka warung kopi, sehingga kehadiran rekan sekerja dalam pelayanan tidak boleh dianggap sebagai rivalitas namun mitra kerja. Kalau ada pembukaan gereja dalam radius berdekatan waaaah....hatinya berkobar dengan curiga dan kekuatiran karena takut dombanya lari tetapi kalau ada gereja yg ditutup hatinya lega berbunga-bunga karena dimungkinkan bertambahnya domba-domba baru dari tetangga dekat....eh ngawur. 


Tidak ada hak dalam diri kita untuk memiliki SESUATU yg menjadi milik Allah.

pelayanan tidak dalam kapasitas merebut hak Allah untuk memiliki jiwa manusia menjadi mereka yg terpenjara dalam kuasa kita.


b. Berkaitan dengan FUNGSI



Kata ‘gembalakanlah’ dalam ay 15,17 adalah BOSKE, yang arti hurufiahnya adalah ‘feed’ = berilah makan. 
Kata "gembalakanlah" dalam ay 16 digunakan kata POIMAINE, yang secara hurufiah berarti ‘tend’ = uruslah / peliharalah / rawatlah) atau ‘shepherd’ = gembalakanlah
Tugas seorang gembala adalah untuk memberi makan, menyehatkan, melayani dan memasok seluruh kebutuhan jiwa
Pelayanan itu bukan gengsi tetapi fungsi, pelayanan itu berorientasi pada kerja, pengabdian sampai pada tingkat perhatian kepada mereka yg lemah. Pemimpin jemaat berarti adalah seorang motivator yg menguatkan, seorang dokter yg menyehatkan, seorang manejer yg mengelola, seorang gembala yg selalu dekat dengan dombanya mengenalnya satu persatu bahkan bau badannya pun seperti bau domanya......
Pelayan bukanlah usaha untuk menggemukkan diri sendiri dengan mendapatkan sebanyak mungkin dari orang yg kita layani. Pelayanan justru disetting oleh Allah untuk memberikan secara total hidup kita untuk mereka.


Kita tidak perlu malu untuk menyadari dan mengubah berbagai rekam jejak yg salah dalam pelayanan.
Tidak sepantasnya kita menjadikan wilayah pelayanan sebagai kerajaan bisnis yg hanya dengan tujuan untuk membuat mudah dan hidup enak , bahkan menggunakan nama Tuhan atau  pekerjaan Tuhan sebagai alasan pembenar sikap kita.
Pelayanan seharusnya diekspresikan sebagai kekaguman kita kepada Tuhan yg bekerja secara ajaib dalam kita bukan kekaguman kita sendiri yg sanggup bekerja untuk Tuhan. 



Spirit Kebangkitan Kristus adalah spirit perubahan! 
(The Spirit of Resurrection is The Spirit of Change)

Teruslah mentransformasi pelayanan kita semakin efektif dan bernilai dihadapanNya

God Bless U all

by Haris Subagiyo

Mengubahkan ORANG BIASA jadi LUAR BIASA

Dalam perspektif manusia: adalah kekeliruan jika melibatkan orang-orang yg miskin kecakapan untuk terlibat dalam pekerjaan besar dalam skala luas dan bernilai abadi. Sangat tidak profitable memberi kesempatan mereka yg tidak terbukti kompeten untuk dipercaya dalam pelayanan. 
Dalam perspektif Allah: justru karena Kebodohan dan Kehinaan kita, menjadi latar belakang Allah melibatkan kita berkerja dalam proyekNya. Orang-orang yg tidak punya HAK untuk merasa pantas dipakai sebagai alatNya, orang biasa, tidak diperhitungkan, lemah dan tidak berpengaruh. 
Tetapi mengapa Allah tetap memberi kepercayaan kepada kita untuk bekerja diladangNya?

Prinsip manusia: menyisihkan mereka yg lemah, bodoh dan hina..
Prinsip Allah: mengubahkan mereka yg lemah, hina, bodoh, tidak terpandang, biasa-biasa saja menjadi orang-orang yg LUAR BIASA.

Menariknya para murid Tuhan Yesus justru kebanyakan adalah para nelayan.!
Orang -orang yg dipandang sebelah mata, tidak diperhitungkan, dinilai rendah , tidak terpelajar, kolot, sulit berubah justu menjadi prioritas pilihan Tuhan Yesus untuk bekerja bersamaNya.

Apa dasar pilihan Tuhan terhadap mereka yg dijadikan ALATNYA?

I. Allah mencari mereka yg MAU MERESPON PANGGILAN (Matius 4:18-22)
Pekerjaan dan kedudukan seorang nelayan dalam kehidupan umat Israel pada zaman itu jelas bukanlah kedudukan yang terhormat. 
Mereka disebut dengan “amme ha-aretz” yang secara harafiah berarti “rakyat jelata” atau menunjuk kelompok orang-orang yang tidak terpelajar, orang-orang biasa yg tidak terpandang.
Problem yang dihadapi oleh mereka yang tidak terpelajar:

a. Secara umum hidup dalam kelembaman, enggan beradaptasi dengan situasi yg baru: sangat sulit untuk menerima perubahan, lebih menyukai suatu siklus kehidupan yang relatif  tanpa goncangan. 

b. Tidak bergairah  untuk mempelajari pengetahuan atau materi yang tertulis. 

Jika menilai dari dimensi akademis pastinya dibutuhkan cukup banyak waktu untuk melatih dan memperlengkapi mereka untuk memiliki kecakapan dalam melayani Tuhan.
Dari dimensi sosial: mereka bukanlah orang yg berpengaruh, mereka adalah type pekerja kasar, orang berkeringat dan hidup apa adanya dianggap kurang bermartabat.

Ini merupakan kendala teknis dalam pelayanan, jika seorang pekerja Kristus tidak memiliki basis akademis yg baik maka sangat berpengaruh besar dalam kompetensi intelektualnya. 
"Mau dibawa kemana gereja" jika pemimpinnya tidak profesional?
Standar kualifikasi manusia yg menuntut kesempurnaan kecakapan hidup justru dianggap berseberangan dengan jalan pikiran Allah. 
I Korintus 1 : 26- 29
"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,   tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. .......... supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah"
Allah mencari orang-orang yg mau bekerja bukan mereka yg mampu, karena Allah akan MEMAMPUKAN siapa saja yg MAU bekerja bagi Tuhan.

II. Allah mencari orang yang MAU DIUBAHKAN sebagai ALATNYA (Kisah Rasul 5:26-42 )

Kebangkitan Kristus adalah momentun yg membuktikan kehadiran Allah yg sanggup mengubahkan standar kelemahan manusia biasa menjadi manusia-manusia Ilahi yg sangat berdaya, efektif bahkan berdampak mengubahkan bagi dunia. Para murid Yesus yg sudah meresponi panggilan Tuhan. Sekarang ini diperlengkapi dengan kuasa: memperoleh roh hikmat, pengetahuan dan kharisma yang begitu luar-biasa saat memulai pelayanan!. 

Kisah Rasul 5:26-42 
Mengisahkan bagaimana para rasul mampu memberi jawaban yang berhikmat dan berwibawa sehingga para Sanhedrin atau Majelis Agama Yahudi saat itu tidak mampu berbuat apa-apa. 

Kisah Rasul 9:32-35 menyaksikan bagaimana Petrus memiliki kuasa ilahi yang sedemikian besar sehingga dia mampu menyembuhkan seorang yakni Eneas yang telah sakit lumpuh selama 8 tahun. 

Kisah Rasul 9:36-41 menyaksikan bagaimana Petrus dengan kuasa kebangkitan Kristus mampu membangkitkan Tabita atau yang disebut dengan Dorkas yang telah meninggal, tetapi dapat bangkit kembali. 

Kuasa kebangkitan Kristus menyertai pelayanan Petrus sedemikian rupa, sehingga Petrus dimampukan untuk melakukan hal-hal yang melampaui kemampuan dan kapasitas manusiawinya. 

Semua karunia dan kemampuan tersebut tidaklah mungkin dicapai oleh para murid Yesus yang berlatar-belakang dari para rakyat jelata. Seandainya para rasul dan gereja perdana tidak memperoleh karunia dari Kristus, maka mereka pasti sudah tenggelam dan lenyap dari perjalanan sejarah.

Tetapi Kristus yang bangkit telah menganugerahkan kepada para muridNya suatu kuasa yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Kuasa ilahi yg tidak dapat dipelajari disekolah manapun dan diajarkan oleh siapapun. 
Kuasa itu diberikan Allah kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah yg menjadi alat kelengkapan bukan dengan tujuan pamer tetapi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus.

Sifat karunia dan kemampuan ilahi yang dimiliki oleh para  murid Yesus tidaklah melekat pada diri mereka sendiri. Mereka hanya menjadi alat atau media dari karya keselamatan Allah. 
Karena mereka BERSEDIA untuk dipakai oleh Kristus sebagai alat untuk menyatakan kemuliaanNya.  
Pemahaman teologia ini sangat  penting supaya kita tidak terjebak pada bahaya:

1. Memusatkan pada diri sendir (kultus individu): gereja perdana tidak pernah sampai mengkultus-individukan para rasul yang memiliki kharisma ilahi karena kesadran  akan karunia yg Allah berikan. 

2. menganggap diri paling hebat dari yg lain (superior): Juga tidak pernah berupaya untuk membangun suatu pemahaman bahwa diri mereka sangat berarti dan menentukan perjalanan gereja Tuhan di atas muka bumi ini, memiliki bobot yg lebih hebatdari yg lain. 

Prinsip spiritualitas para rasul tersebut pada masa kini ternyata tidak dipelihara dengan penuh kewaspadaan. Sehingga karunia atau kemampuan yang dimiliki oleh seorang pelayan Tuhan pada masa kini  justru dipakai sebagai jembatan menuju kemuliaan diri sendiri. 

Sekarang ini tidak sedikit pemimpin gereja yg berupaya membangun suatu kecenderungan untuk dikultus-individukan oleh umat. Gereja tidak lagi dikondisikan kearah Kristus-centris tetapi dibelokkan pada ego-centris.
Akar persoalan yg faktual ditengah jemaat bukanlah gereja menerima atau menolak manifestasi  Allah yang supra-natural berupa mukjizat, tetapi sikap para pelayan Tuhan yang telah mengklaim berbagai tindakan supra-natural tersebut sebagai kesanggupan diri, kelebihan, keistimewaan, kehebatan untuk kepentingan kemuliaan diri bahkan dapat diperjual belikan. 

Ironinya banyak jemaat yg lebih suka sentuhan emosional dan hal-hal spektakuler yg ditampilkan dipanggung gereja. Sedangkan pengajaran yg sarat dengan pengajaran firman Allah dianggap tidak up to date alias ketinggalan jaman.

Allah yg seharusnya punya otoritas mengubah hidup kita supaya menampilkan Kristus melalui hidup dan kerja pelayanan sering kita rubah sendiri tatanannya menjadi pelayanan untuk merubah orang lain terpukau dengan pelayanan kita.

III. Allah mencari orang yg MAU MENDEDIKASIKAN HIDUP pada Fakta Abadi (Kis. 9:36-41)

Allah tidak memanggil hamba-hambaNya dengan tujuan supaya dapat mendemontrasikan mujizat  tanpa tujuan ditengah jemaat! Jika mujizat atau kuasa Allah dibutuhkan dalam rangka memudahkan atau membebaskan manusia dari persoalan teknis pelayanan atau melarikan diri dari tanggungjawab yg selayaknya dipikul; berarti kita sedang memaksakan Tuhan bekerja mengikuti irama kita.
Mengapa Allah memakai Petrus menjadi manusia yg luar biasa? 
Seorang awam namun dapat mengsekposisi secara komprehensih teologia Perjanjian Lama sehingga membuat 3000 orang bertobat?
Seorang nelayan yg dipakai Allah untuk menyembuhkan dan bahkan membangkitkan orang mati.
Rakyat jelata yg punya keberanian berargumentasi dihadapan pememimpin agama?
Seorang nelayan yg diubahkan menjadi RASUL YESUS KRISTUS!

a. Pengalaman ini bertujuan untuk memperteguh eksistensi jemaat yang waktu itu masih lemah. 
b. Merupakan manifestasi dari Kristus yang peduli dan mengasihi jemaatNya. 
c. Pengalaman tersebut untuk menanamkan tonggak dimulainya kekristenan

Semua manifestasi karya Allah secara supra alami dalam pelayanan bukanlah untuk SENSASIONAL, AKSI SPEKTAKULER, SPIRITUALITAS PANGGUNG dengan tujuan pamer.....
Allah tidak perlu memamerkan kuasaNya supaya harga Dirinya dianggap lebih berkuasa, hebat dan mulia. Tanpa kehadiran itu semua eksistensi Allah kita tetap tidak berbubah. Bahkan saat mulut kita terdiam tidak mengakui kemahakuasaan Allah. Dia adalah Allah yg maha kuasa yg tak akan berubah oleh pengakuan manusia.

Pengalaman adalah pengalaman yg tidak dapat dijadikan doktrin pelayanan yg baku. Pengalaman pelayanan harus ditempatkan dalam konteks kepentingan dan tujuan bukan sebagai MODEL yg diadopsi sembarangan . "Mujizat Allah pasti terjadi" kita kumandangkan dalam kerangka harapan kita yg konsisten mempercayai Allah sanggup mengerjakan segala sesuatu tetapi jangan MENDESAK ALLAH melakukan format, bentuk, pilihan sesuai dengan rancang bangun diri sendiri......gak sopan itu namanya...

Sejarah menjelaskan bahwa para murid Yesus juga harus masuk pengalaman kematian bahkan menjadi martir tanpa mujizat kebangkitan! Padahal dilihat dari sudut pengorbanan ,kasih dan kesetiaan mereka sudah mendedikasikan hidup seutuhnya bagi Tuhan. Tetapi mengapa saat mereka dianiaya secara kejam dan dibunuh dengan cara tragis, Tuhan Yesus tidak bergegas menolong dan seolah-olah Tuhan cuci tangan atas persoalan yg mereka hadapi? why.....? 

Apakah fakta tersebut dapat dijadikan suatu alasan bahwa Kristus selaku Gembala tidak peduli dan memelihara hidup umat percaya?

Mengapa kita yg bergiat melayani Tuhan dengan all out, realitanya masih mengalami hal-hal yang sangat pahit dan tragis?

Pahamilah bahwa FAKTA intervensi Allah berada dalam bingkai KEABADIAN
Fakta 1.
Kuasa dan karya Kristus dalam kehidupan sehari-hari  dialami oleh sebagian umat percaya dalam bentuk perlindungan dan pertolonganNya yang menyelamatkan mereka dari bahaya maut, kesembuhan, keberhasilan bahkan kebangkitan dari mati. 

Fakta 2.
Orang-orang yang hidup saleh dan benar tidak selalu terluput dari penyakit yang tidak tersembuhkan. Demikian pula orang-orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya dengan penuh kesetiaan kepada Kristus juga tidak terluput dari kematian yang kejam. 

Ketahuilah bahwa Kristus selaku Gembala yg baik bukanlah sekedar pelindung dan penyelamat hidup secara fisik belaka dan karyanya tidak berhenti pada masa kini saja. Kristus adalah Gembala yg baik dengan kapasitas kerja untuk kepentingan kekekalan dengan wilayah kerja jiwa dan roh manusia juga. 

Makna keselamatan secara utuh pada hakikatnya dinyatakan dalam suatu kehidupan yang dipersekutukan dengan Kristus yang telah bangkit. Sehingga seandainya semua harapan kita di dunia ini tidak terpenuhi di mana penyakit kita tidak tersembuhkan dan kematian tragis tidak dapat dielakkan, namun secara faktual kehidupan kita sepenuhnya dalam relasi dengan Kristus itu berarti kita telah menikmati berkat yg abadi

Berkat penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita tidaklah identik dengan terpenuhinya harapan-harapan manusiawi kita seperti kesembuhan dari penyakit, melimpahnya berkat jasmani, sukses pangkat, panjangnya usia hidup kita. ini adalah fakta-fakta yg tidak abadi

Tetapi kualitas pelayanan yg dibangun Tuhan Yesus adalah pelayanan yg berorientasi keabadian, pelayanan yg mengubahkan jiwa manusia untuk kembali mengalir masuk dalam denyut nadi Allah.

Jika pelayanan yg sedang kita bangun bermodelkan pelayanan yg sukses secara material: terbangunnya gedung yg megah, jumlah jemaat yg melimpah, fasilitas yg mewah, popularitas, kenyamanan, ekonomi yg kokoh, profesional, branded (bermerek terkenal). 
Itu bukan tidak penting.....gereja butuh investasi material yg sehat
itu bukan tidak bernilai.......gereja butuh sarana pelayanan yg memadai
itu bukan sia-sia......gereja juga bekerja mencari jiwa-jiwa ......sebanyak-banyaknya

Namun jika kita mengedepankan kepentingan DIRI dan MATERI, hanya memikirkan yg KELIHATAN (masa kini) saja bukan yg TIDAK KELIHATAN (kekekalan) , dan hanya memikirkan kepentingan TUBUH bukan JIWA, berarti kita sedang pada posisi  membantah kerinduan Allah yg ingin mengubahkan arah pelayanan kita yg harus berbasiskan keabadian.

reDifine         ...definisikan lagi format panggilan pelayanan kita
re Structure......susun kembali puing-puing yg hancur atau harus disingkirkan
re Posision.      ...letakkan kembali visi pelayanan kita untuk berorientasi keabadian

God Morning All
God Bless U all

by Haris Subagiyo