Sabtu, 08 Januari 2011

Mengubah hal biasa menjadi luar biasa

Kekristenan bukanlah pertunjukan sulap yg memamerkan kecepatan untuk mengubah apa saja sesuai dengan selera penonton. Sebaliknya kekristenan juga bukan perjalanan hidup membosankan tanpa menikmati keindahan dan kekaguman anugerah Tuhan. Satu hal: Tuhan mau menjawab semua persoalan manusia masa kini ataupun masa yg akan datang dengan cara-caraNya sendiri yang tidak terbatas.




Bagi manusia yg serba terbatas, banyak perkara yg  sulit bahkan tidak mungkin dikerjakan, namun perspektif TUHAN memandang segala sesuatu yg tidak mungkin merupakan kesempatan yg terbuka bagi pekerjaanNya.
Allah kita yg tidak terbatas sanggup mengubah hal-hal yang biasa menjadi luarbiasa JIKA TUHAN MAU!!
Sekarang ini, dapatkah kita mengkondisikan KEMAUAN TUHAN untuk berbelas kasihan mengubah kehidupan kita yg biasa-biasa saja menjadi luar biasa sesuai rencanaNya?
Matius 14 : 15 - 19


1. DIBUTUHKAN KEBERANIAN UNTUK MEMPERCAYAI TUHAN

Matius  14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." 14:16Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."


Kehadiran sejumlah besar orang yg sangat antusias mencari Tuhan Yesus dari pagi hingga menjelang malam membawa persoalan baru dalam pelayanan: Bagi para murid ini adalah persoalan serius, karena dipuncak populariltas Yesus, mereka harus tetap membangun citra pelayanan yg bertanggungjawab. Tetapi bagaimana caranya untuk memenuhi konsumsi untuk  kurang lebih 10 ribu orang. 


a. Solusi manusia: Menerapkan konsep CUCI TANGAN 


Murid-murid ingin segera membuang tanggung jawab dengan menyuruh
orang banyak itu pergi mencari makan sendiri sendiri. Tetapi Tuhan Yesus 
tidak mengijinkan hal itu.  Tuhan sering meletakkan kita dalam situasi 
dimana tugas pelayanan dalam kapasitas yg besar , kurang sebanding 
dengan sumber daya yg tersedia. Mengapa Tuhan ijinkan? 
Supaya kita tetap bersandar kepada Dia! 


Para murid harusnya menjawab persoalan mereka tetapi malah menciptakan persoalan baru. "Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa". Ini bentuk solusi mudah yg tidak relevan dengan kebutuhan umat. memangnya sudah ada angringan pada saat itu? Sejujurnya harus kita akui bahwa besarnya tantangan dalam pelayanan bukanlah alasan bagi kita untuk boleh meninggalkan tanggung jawab atau bahkan menyerah meletakkan panggilan pelayanan! Keterbatasn dan ketakberdayaan kita dalam mengerjakan tugas pelayanan justru merupakan instrumen vital yg dapat konsisten meletakkan kita pada genggaman tanganNya. 


b. Solusinya Tuhan: Perhatian yg penuh belas kasihan


Tuhan Yesus ikut bertanggungjawab sampai pada urusan perut kita!
Tuhan  menegaskan bahwa : "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Ini adalah bentuk perhatian Tuhan secara langsung pada kebutuhan jasmani manusia. - masalah makanan (kebutuhan primer). kata HARUS menunjukkan kemutlakan tindakan tanpa pilihan!! Tuhan tidak dalam posisi mengambil pilihan perlu atau tidak perlu menolong mereka yg lapar, justru Tuhan menyatakan ketegasannNya bahwa Dia ikut intervensi urusan jasmani kita ! 
tetapi Tuhan..........murid-murid bertanya: problema yg kita hadapi adalah BAGAIMANA CARANYA? jika satu orang membutuhkan Rp.5.000, anggarannya adalah 50 juta sekali makan...wah..... siapa bendaharanya? entahlah...
Gereja dan para pelayan Kristus diajari Tuhan tidak boleh hanya dalam posisi menerima persembahan jemaat saja dan hanya dalam kapasitas sebagai pemberi makanan rohani atau motivator dalam gereja. Sedangkankan faktanya persolaan-persoalan yg bersifat jasmaniah, ekonomi, sosial terus menerus bersentuhan dengan umat perlu dicarikan solusi yg tepat. Gereja tidak boleh mengelak dari tanggungjawab ini! 
Jika masih bingung menjawabnya: ikuti saja
Cara yg paling tepat mnyelesaikan berbagai persoalan dengan segala keterbatan kita adalah: Mengkondisikan iman kita untuk berani mempercayai TUHAN an KRISTUS.

2. DIBUTUHKAN KEMAUAN UNTUK MELAKUKAN FIRMAN TUHAN



Matius 14:17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti   dan dua ikan." 14:18 Yesus berkata:"Bawalah ke mari kepada-Ku
Apa artinya hanya 5 roti dan 2 ekor ikan (bekal minimun seorang anak kecil untuk makan siang) dibanding dengan 10 ribu orang yg lapar? WAH.....terlalu kecil, tidak sebanding, hanya lelucon saja???? memang benar dengan kalkulasi matematika sangat jauh dari mungkin tetapi bagaimana cara Tuhan Yesus. Tuhan berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku"
Tuhan Yesus bersedia menerima dan menyentuhNya berapa saja yg kita berikan kepadaNya, betapapun remehnya, sederhana, tak bernilai......Tuhan tidak meminta yg tidak ada pada kita. Beranilah mempercayai FirmanNya walau itu berkontraksi dengan kalkulasi logika kita!


Yg sering luput dari perhatian kita adalah betapa spesial cara Tuhan mengubahkan 5 roti & 2 ekor ikan itu:


Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti   itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 
  • Ada orang yg berani memberi kepada Tuhan
  • Tuhan Yesus mengucapkan berkat
  • Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti
  • Orang banyak duduk teratur mengikuti perintah Tuhan
  • Para murid membagi-bagkan kepada orang banyak
Ide yg ingin disampaikan Tuhan adalah: hendaklah setiap orang mengambil perannya masing-masing dalam melakukan firman Tuhan dengan tepat.
Karena Tuhan Yesus juga tidak berkata "bim salabin" jadilah mujizat. Tuhanpun sebagai manusia yg sejati harus bekerja extra keras memecah-mecahkan roti untuk sejumlah orang yg hadir, satu demi satu belas kasihNya dicurahkan, pribadi demi pribadi Tuhan perhatikan. Karena bagian Tuhan adalah menyentuh semua keterbatasan kita dengan tanganNya sendiri, supaya yg kita yg biasa ini menjadi sesuatu yg luar biasa.

Perkara yg kecil, hina, diabaikan, tidak masuk hitungan, diremehkan  dianggap BIASA-biasa saja , jika Tuhan yg dipercaya mengerjakannya pasti dapat diubahkan menjadi LUAR BIASA !
bagaimana cara mengubah 5 roti & 2 ekor ikan menjadii cukup bahkan sisa 12 bakul bagi mereka?
Allah tidak menunut peran yg lebih banyak dari yg Tuhan minta: apa yg ada.. apa yg kita bisa, apa yg mampu kita kerjakan, apa yg dapat kita beri, itu sudah cukup bagiNya! Tak usah kita meragukan kemahakuasanNya. Tuhan juga tidak perlu disubsidi dengan energi kita. 
Untuk menyelesaikan persoalan sebesar gunung, Tuhan tidak meminta kita menyiapkan tenaga lebih besar dari gunung, namun hanya iman sebesar biji sesawi saja. Persoalan besar manusia adalah kesempatan besar bagi Tuhan. Kesempitan kita adalah kesempatan bagi Allah.
Jadi bawalah hidup kita yg biasa saja, apa adanya dengan segala kelemahan dan persoalannya pada Tuhan, sebagai respon mengikuti perintah Tuhan dengan taat.
Hasilnya menjadi pasti 5 roti & 2 ekor ikan milik seorang anak kecil diubahkan untuk memenuhi konsumsi 10 ribu orang.. woooo.... ruaaar biasa.

3. DIBUTUHKAN KEMAUAN DIATUR TUHAN

Matius 14:19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itududuk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan   itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti   itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 
Tuhan Yesus tidak meminta lebih banyak dari 5 roti & 2 ekor ikan, apa yg ada sudah cukup bagi Tuhan untuk mengubahkanNya menjadi luar biasa. Bagian yg kita kerjakan adalah ikut saja apa yg diperintahkan Tuhan, saat disuruh duduk dirumput...ya ikuti saja, tidak perlu banyak bertanya : orang lapar koq disuruh duduk tertib? Apa relevansinya duduk dengan makan kenyang!
Mungkin saja "duduk dirumput" adalah bentuk tata kelola massa supaya teratur, dapat mengikuti arahan secara benar sehingga mengefektifkan kerja sesuai rencana., tidak menimbulkan kegaduhan (kata para wakil rakyat kita)
Orang banyak harus duduk dirumput sedang murid-murid memainkan peran sebagai pelaksana lapangan. Apapun polanya bukanlah prinsip rohani yg dapat digeneralisasi.
Kata kuncinya adalah KEMAUAN DIATUR OLEH TUHAN, KEMAUAN MELAKUKAN FIRMAN TUHAN, KEMAUAN UNTUK PERCAYA PADA TUHAN bukan membicarakan persoalan-persoalan persyaratan turunnya mujizat Tuhan harus dengan cara jongkok, duduk atau berdiri jika yg paling secara phisik diartikan yg paling menyentuh tanah yg benar berarti TIARAP lah yg paling benar?
Apa yg menjadi beban persoalan kita saat ini ?
Kesulitan keuangan yg komplek dengan hutang yg menumpuk , penyakit kronis yg menghabiskan investasi, keluarga yg sulit diurus: anak, suami, istri yg sulit dikendalikan,. tidak punya pekerjaan yg mapan, bangkrut dalam usaha dll bahkan sampai Anda berkesimpulan terlalu berat, terlampau besar untuk aku hadapi, rasanya mau menyerah saja, seolah-olah tidak ada lagi sumber yg mampu menyelesaikannya.....
Berhentilah memusatkan perhatian pada diri sendiri dan apa yg ada disekitarnya! Fokuskan iman & harapan pada Kemauan & Kemampuan Allah yg sanggup mengubah hidup Anda.
Tuhan Yesus sanggup mengubah keadaan pelayanan yg biasa menjadi luar biasa!!!
  • jika kita berani mempercayai pribadiNya
  • jika kita mau melakukan  FirmanNya dengan taat
  • jika kita mau diatur dalam segala hal olehNya
Percayalah, tidak ada perkara kecil yg diabaikanNya
tidak ada masalah besar yg tak dapat dipecahkanNya
tidak ada pintu tertutup yg tak dapat dibukaNya
Sekarang ini saatnya menikmati keperkasaan Allah kita yg selalu sanggup mengubah hal biasa menjadi luar bisa.
by Haris Subagiyo: http://graciaministry.blogspot.com

Kamis, 06 Januari 2011

EASY COME EASY GO

Belajar tentang kesempurnaan rancangan Allah yg banyak disalah mengerti oleh umatNya sebagai produk gagal.
Keluaran 15 1-21
adalah apresiasi umat Israel yg sangat bersemangat memuji-muji Allah karena prestasiNya membelah laut Teberau. Alkitab mencatatnya dalam lembaran spesial : Nyanyian Musa & Israel
Betapa puitisnya mereka menyanjung TUHAN:
  • TUHAN  tinggi luhur
  • TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku
  •  Ia telah menjadi keselamatanku
  •  Ia Allahku
  • TUHAN itu pahlawan perang
  • TUHAN itulah nama-Nya
  • TUHAN mulia
  • TUHAN mulia karena kekudusan-Mu
Meskipun orientasi pujian mereka bermuatan subyektif hanya karena telah ditolong Tuhan, mereka demikian antusias. Namun terlepas dari ketulusan atau spontanitas belaka, respon mereka terhadap Tuhan betapa indahnya mereka menggambarkan kualifikasi  persekutuan antara mereka dengan TUHAN sampai menyatakan hubungannya dengan Allah sbb:
  • Ia Allah bapaku
  • Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun  umat yang telah Kautebus
  • dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu y  yang kudus
  • umat yang Kauperoleh
  • Kaucangkokkan  mereka di atas gunung   milik-Mu sendiri; di tempat yang telah Kaubuat kediaman-Mu
  • TUHAN memerintah kekal selama-lamanya
Seperti dua sejoli yg dipuncak asmara, dunia serasa milik berdua (yg lain kontrak semua)
Nyanyian Musa dan Israel ditulis sepanjang 21 ayat dengan bahasa puitis, sangat kuat, indah dan penuh gairah. Seandainya jemaat masa kini berada disana meyaksikan gegap gempita dengan semangat memuji walaupun kedatangannya ke gereja bukan untuk memuji Tuhan  tetapi karena susanana pujian demikian menggelora pasti sudah merasa memuji  Tuhan karena melihat  totalitasnya bangsa Israel memuji Tuhan.
namun,
Keluaran 15: 22 bagai membalikkan telapak tangan begitu cepat, umat Israel setelah tiga hari perjalanan dipadang gurun Syur dengan tidak mendapat air minum (kebutuhan pokok) bahkan saat mendapat minuman tetapi terasa pahit apa yg terjadi?
Terjadi perubahan sikap dari memuji Tuhan menjadi pemberontakan!

Keluaran 15:24 
Lalu bersungut-sungutlah   bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?
Kata bersungut-sungut : (bahasa asli) "diagogguzo" dapat diterjemahkan sebagai:
  • menggerutu, bergumam, menggerutu, mengatakan sesuatu melawan dalam nada rendah
  • mengeluh dgn tdk puas
BIS menerjemahkan bersungut-sungut dengan "mengomel" artinya marah dengan mengeluarkan banyak kata-kata. Mereka terus menerus berbicara dengan perasaan tidak senang. Mereka tidak senang dan menyesal mengikuti jalan TUHAN. Mereka tidak lagi bisa melihat kebaikan TUHAN dan mempercayaiNya.

Begitu cepat perubahannya dari pujian kepada Allah dengan nada kasih, penuh ucapan syukur, sanjungan yg tinggi luhur kepada Allah mendadak jatuh dengan perlawanan bahkan ketidak puasan yg disampaikan dengan nada menghina Allah (merendahkan).

Perubahan sikap ini bukan terjadi tatkala Allah absen dalam perhatiannya kepada mereka !
Bukan pada saat Allah diam tetapi justru pada saat Allah hadir memimpin mereka secara langsung dengan kehadiran tiang awan dan tiang api.

hanya butuh waktu tiga hari saja komitmen mereka tentang TUHAN berbalik 180 derajat, mengingatkan kita saat merefleksi hidup di kebaktian tutup tahun atau kebaktian kebangunan rohani , dengan berlinang air mata menyesali masa lalu yang telah terbuang sia-sia dan berkomitmen ulang untuk hidup lebih baik, lebih unggul, menyenangkan Tuhan, lebih efektif dalam pelayanan pada tahun  yg akan datang tetapi ............sering hanya berhenti pada minggu pertama bulan pertama ditahun baru. kita kembali lagi pada manusia lama. easy come easy go

Sampai sekarang ini, TUHAN masih sanggup mendemontrasikan perkara-perkara ajaib bagi kita. Realitanya kita hanya berfokus pada APA YANG TUHAN BERIKAN  PADA SAYA saja, hanya ingin melihat mujizat Tuhan setiap hari.....mujizat yg diharapkan dapat mengeluarkan kita dari ketertindasan ekonomi, dari tekanan sosial atau bahkan berharap mujizat yg dapat menempatkan kita rangking satu dikekuasaan dunia ini.
tanpa kita mau belajar "untuk apa" Dia memperlihatakan kepada kita!

Allah mau mengajarkan kepada kita supaya kita prinsip keabadian hidup yang diwarnai ke  bahagiaan dan keberhasilan :

Keluaran 15:26 firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti  segala ketetapan-Nya,  maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit   manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan l  engkau  ." 
  • Sungguh-sungguh mendengar suara TUHAN
  • (memasang telinga pada perintah TUHAN)
  • Sungguh-sungguh melakukan apa yang benar dimata TUHAN
  • (tetap mengikuti segala ketetapanNya)
Pengalaman di Mara adalah sekolah kehidupan yg tidak boleh dilewatkan oleh siapa saja, karena Tuhan merindukan ujian membawa kita pada loyalitas terhadap otoritasNya dan konsistensi kita terhadap firmanNya setiap hari.
Jangan cepat berubah setia...jangan salah menilai tentang Tuhan karena:
karena sesudah kurang lebih 7 mil perjalanan Allah sudah menyediakan  ternyata ada pengalaman ELIM

Keluaran 15:27 Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah   mereka di sana di tepi air itu

Jika kita sudah merasa lelah ikut Tuhan karena persoalan yg sama bahkan bertambah banyak, bersabarlah sedikit....jangan menyerah kalah , jika kita tahu:
bersama dengan siapa kita sedang berjalan saat ini
akhir dari semuanya itu adalah kedewasaan karakter yg memungkinkan Tuhan memberikan kepercayaan besar lagi pada kita.

dibalik ujian kehidupan selalu ada upah yang menantinya
sesudah hujan akan nampak pelangi
untuk menaiki gunung yg tinggi kita perlu turun lembah
dibalik salib ada mahkota
berilah kesempatan TUHAN menyempurnakan pekerjaanNya dalam hidup kita, amin
by. Haris Subagiyo




Selasa, 04 Januari 2011

Penyertaan TUHAN disepanjang jalan


Lirik lagu yg pernah populer menyatakan: 
bersama Yesus lakukan perkara besar
bersama Yesus tidak ada yang sukar
bersama Yesus ada jalan keluar
untuk masalahku.....untuk masalahmu
untuk masalah kita semua

Kita mempercayai bahwa bersama Yesus 
kita dapat melakuk perkara-
perkara besar ,
tetapi masalahnya apakah bersama Yesus TIDAK ADA YANG SUKAR?
Penyertaan Tuhan Yesus banyak intepretasikan oleh banyak orang
kristen sebagai jaminan
hidup yang terbebas dari segala persoalan, seolah kita terus berjalan 
ditaman bunga dengan
aroma wangi dan indahnya burung berkicau, tak kerikil ,tak ada
badai...oh indah sekali?
Realitanya penyertaan Tuhan bukanlah seperti model yg kita 
rancangkan,
lalu bagaimana arti penyertaan Tuhan sesungguhnya ?

1.      Penyertaan TUHAN bukan berarti bahwa TUHAN menjamin hidup umatNya bebas dari persoalan.
Alkitab menceritakan kepada kita bahwa sejak bangsa Israel keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, TUHAN selalu menuntun umatNya, TUHAN menyertai umatNya.
Keluaran 13: 20-21:
TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu”  Jelas bahwa TUHAN menyertai mereka. 


Tidak ada orang yang meragukan hal ini. Tetapi apa yang terjadi dalam perjalanan mereka selanjutnya? Sejumlah besar persoalan harus mereka hadapi.

      Di dekat Pi-di depan Baal-Zefon mereka sangat ketakutan dikejar bangsa Israel yang ada di belakang mereka dan di depan mereka Laut Teberau.
      Di Gurun Syur mereka berjalan tanpa mendapat air selama tiga hari.
      Di Gurun Sin mereka bersungut-sungut karena mereka mengalami kelaparan.
      Di Rafidim mereka mulai bertengkar dengan Musa karena mereka tidak mendapatkan air.
Sedangkan tiang awan dan tiang api masih ada di depan  mereka.
 Apakah sungguh TUHAN masih menyertai mereka?  Jika TUHAN masih menyertai mereka, mengapa pada faktanya mereka mengalami berbagai persoalan? Jika TUHAN tidak lagi
menyertai mereka mengapa tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka?
      Pertanyaan yang sama sering kali diajukan oleh banyak orang kristen khususnya pada saat mereka mengalami akumulasi persoalan yang luar biasa. Apakah TUHAN masih menyertaiku? Apakah TUHAN masih memimpin hidupku? Jika ya, mengapa persoalan hidup ini harus kuhadapi? Mengapa persoalan selalu datang silih berganti dalam hidupku? Dan mereka menjadi frustrasi dan bersungut-sungut kepada TUHAN.
      Jika kita mengerti dengan benar apa arti penyertaan TUHAN itu, maka kita tidak akan frustrasi dan bersungut-sungut kepada TUHAN, kita tidak akan menyalahkan TUHAN. Karena TUHAN memang tidak pernah berjanji bahwa hidup umatNya akan dihindari atau dibebaskan dari masalah.
      Hakekat hidup ini memang penuh dengan masalah, tapi masalah yang kita alami tidak harus membuat kita kehilangan iman dan berkata: “TUHAN dimana pimpinanMu?” Berbagai masalah boleh datang tetapi  banyak atau sedikitnya masalah tidak dapat menjadi ukuran bahwa TUHAN tidak menyertai kita. Penyertaan TUHAN bukan berarti hidup kita steril dari  masalah.
Kalau begitu apakah arti penyertaan TUHAN itu?

2.      Penyertaan TUHAN bukan berarti bahwa TUHAN menjamin hidup umatNya berkecukupan senantiasa
Lepas dari Laut Teberau mereka melakukan perjalanan yang panjang di padang gurun Syur. 
Di tengah-tengah panas matahari yang menyegat mereka harus terus berjalan. Pada mulanya mereka begitu antusias. Panas terik matahari yang menyengat badan mereka tidak mereka hiraukan; debu tebal  yang menerpa wajah dan mata mereka tidak mereka perdulikan. Mereka terus berjalan dengan bersemangat. Mulut mereka penuh dengan nyanyian mengingat perbuatan TUHAN yang besar yang membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Mesir.
      Pasal 15 dibuka dengan pernyataaan: “Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN” dan ayat 21 “Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi dan luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut”.
      Tiga hari lamanya mereka telah berjalan di padang gurun Syur. Mereka mulai letih, lelah dan haus. Sementara itu persediaan air minum mereka makin menipis. Mereka mulai kuatir dan kuatir.
Mulut mereka tidak lagi bernyanyi; hati mereka tidak lagi bersukacita; mereka tidak lagi antusias. Mereka mulai frustrasi. Mereka terus berpikir mengapa TUHAN membiarkan mereka kehausan?
      Puncak kekecewaan mereka terjadi ketika mereka sampai ke Mara. Mereka melihat sebuah oase yang jernih. Dahaga mereka bangkit. Mereka berebut mengambil air itu dan meminumnya. Tetapi ternyata air itu pahit rasanya.


Ayat 24 berkata: “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?”
      Tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka dan tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa TUHAN masih menyertai mereka,  tapi pada kenyataannya mereka mengalami masalah. Dan masalah mereka adalah masalah kebutuhan dasar: yang tidak dapat ditawar-tawar, yaitu:  minum.
      Bagaimana kita menafsir hal ini? Bukankah ini berarti bahwa penyertaan TUHAN tidak menjamin hidup umatNya selalu berkecukupan?
Kalau begitu apakah penyertaan TUHAN itu?
3. Penyertaan TUHAN berarti TUHAN hadir dan berfirman kepada umatNya.
      Sulit sekali bagi bangsa Israel untuk mengerti tentang penyertaan TUHAN. Kehidupan di Mesir selama lebih empat ratus tahun mempengaruhi gaya hidup dan cara pikir mereka. Mereka sulit memahami jalan TUHAN:
      Mengapa sementara tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka mereka tidak mendapat air untuk melepas dahaga mereka?
      Mengapa sementara tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka dan mereka mengalami kehausan yang luar biasa dan air yang mereka temui justru pahit?
      Mengapa di Mesir tanpa tiang awan dan tiang api mereka dapat menikmati makan dan minum yang cukup?
      Bagi mereka banyak yang tidak logis dan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan pahami yang akhirnya membawa mereka pada puncak kefrustrasian pada waktu mereka menemui Mara, air yang pahit itu.
      Perasaan ,TUHAN tidak menolong mereka dari kesulitan mereka membuat frsustrasi mereka berubah menjadi sungut-sungut, dan rasa ingin meninggalkan TUHAN.
      Ketika mereka frustrasi Musa berdoa kepada TUHAN. TUHAN berkata lemparkan kayu itu ke dalam air, dan air itu menjadi manis.Lalu mereka minum sebanyak-banyaknya; mereka puas.
      Tapi bagi saya, bukan di situ letak penyertaan TUHAN. Letak penyertaan TUHAN bukan terletak pada waktu TUHAN merubah air pahit itu menjadi manis, karena mujizat itu dibuat TUHAN karena “paksaan”,  tetapi penyertaan TUHAN justru terletak setelah mereka minum air yang manis itu TUHAN berkata-kata kepada mereka. TUHAN menegur mereka, TUHAN memperingati mereka. TUHAN memberi ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturanNya kepada mereka agar mereka hidup benar di hadapanNya.
      Inilah penyertaan TUHAN yang jauh lebih bernilai dari sekedar materi yang kita punya atau tidak kita punya, dari hal-hal yang bersifat lahiriah.
Firman TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni,
membuat mata bercahaya.
Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua;
dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
Lagi pula hambaMu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar (Mazmur Daud 19: 8-12).
      Orang yang disertai oleh TUHAN selalu disertai oleh firmanNya. Entah firman TUHAN itu mendidik, menegur, menghajar atau menghibur dan mengkuatkannya.
      Apa artinya kita mengalami kekayaan yang luar biasa jika TUHAN tutup mulut kepada kita. Buat apa kita mencapai prestasi yang gilang gemilang jika TUHAN memalingkan mukanya dari pada kita? Itulah kesedihan dan kehancuran yang luar biasa dalam kehidupan kita. Tapi jika TUHAN masih mau menegur kita walalupun itu menyakitkan bersyukurlah.
      Tidak terbayangkan jika seandainya TUHAN tidak lagi mau berkata-kata kepada kita Ia Palingkan wajahNya daripada kita. Ia tidak lagi memperdulikan segala pikiran dan tindakan kita.
      Pada saat itu kita hanya bisa berpikir dengan pikiran kita; kita mengambil keputusan hanya dengan pertimbangan kita;  kita bertindak semata-mata atas dasar kehendak kita; kita menjadi penguasa dan hakim atas diri kita, sehingga kita tidak dapat lagi membedakan apakah kita benar atau salah.  Dan tanpa kita sadari tiba-tiba kita tergelincir dan jatuh. Betapa menakutkannya saat itu.
      Karena itu  Firman TUHAN itu sungguh-sungguh harta yang tidak ternilai. Disinlah kita harus bersandar.
      Firman TUHAN yang kita dengar dan kita pelajari tiap-tiap hari seharusnya mendatangkan iman dalam hati kita. Semakin kita mengenal TUHAN semakin kita beriman kepadaNya. Dan iman inilah yang modal satu-satunya ketika badai kehidupan melanda kita.
      Tahukah kita apakah yang dapat menjadi sandaran satu-satunya, sandaran terakhir yang dapat menopang seorang anak manusia ketika ia  mengalami krisis hidup? Harta kekayaan kitakah? Pendidikan kitakah? Reputasi kitakah? Prestasi kita? Relasi Kita?
Dan yang terakhir,

4. Penyertaan TUHAN berarti bahwa TUHAN menuntun umatNya pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah.
      Ketika bangsa Israel dalam frustrasi yang hebat memang mereka bersungut-sungut kepada Musa. Tetapi sebenarnya mereka tahu persis bahwa yang membawa mereka keluar dari Mesir dengan perbuatan-perbuatan ajaib bukanlah Musa tetapi TUHAN sendiri. Dengan bersungut-sungut kepada Musa sebenarnya mereka sedang melancarkan protes kepada TUHAN.
      BIS menerjemahkan sungut-sungut dengan “mengomel”, artinya marah dengan mengeluarkan banyak kata-kata. Mereka terus berbicara dengan perasaan tidak senang. Mereka tidak senang dan menyesal mengikuti jalan TUHAN. Mereka tidak lagi bisa melihat kebaikan TUHAN dan mempercayaiNya.
      Praktisnya, sungut-sungut berarti: “Saya tidak senang dengan pimpinanMu. Engkau TUHAN tidak bijaksana. Jangan atur lagi hidup saya, sekarang saya akan mengatur diri saya sendiri!”. Inilah salah satu dosa yang dibenci TUHAN dari bangsa ini.
      Ketika manusia bersungut-sungut kepada TUHAN manusia menjadi picik dan tidak berpikir logis lagi. Mereka tidak dapat lagi melihat kasih TUHAN dan pertolongan TUHAN yang telah mereka terima di masa-masa yang lalu. Mereka memandang TUHAN dengan penuh curiga.
      Bangsa Israel tidak dapat lagi berpikir logis, ‘Jika TUHAN sudah menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun melalui arus lautan yang terbelah, mungkinkah TUHAN membiarkan mereka mati kehausan beberapa hari kemudian?’ Tentu saja tidak!. Tetapi ketidak percayaan membuat mereka memandang segala sesuatu dari sisi gelap.
      Ayat 27 mengatakan: “Dan sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada 12 mata air dan 70 pohon korma”. Ayat ini pasti menyentak kita semua. Dan fakta ini seharusnya membuat orang Israel malu kepada TUHAN. Mengapa? Karena Elim letaknya hanya 7 mil dari tempat mereka bersungut-sungut.
      Seandainya mereka percaya bahwa bahwa TUHAN menuntun umatNya pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah, maka pasti mereka tidak akan bersungut-sungut.
      Mereka pasti bisa bertahan di dalam kesulitan mereka. Mereka akan terus berjalan tanpa mengeluh karena mereka tahu di depan mereka ada Elim, suatu tempat yang disediakan TUHAN agar mereka melepaskan dahaga dan lelah mereka.
      Seandainya Yakub tahu sewaktu ia lari dari rumah bapaknya di kejar Esau bahwa suatu hari dengan penyertaan TUHAN ia akan kembali lagi kerumahnya dan berpelukan dengan Esau, maka pasti ia tidak akan sangat ketakutan pada saat itu.
      Seandainya Yosua  tahu bahwa dibawah kepemimpinannyalah TUHAN akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian dan merebutnya satu-persatu, maka pasti ia tidak akan merasa gentar dan tawar hati.
      Seandainya Elia tahu bahwa pada akhirnya ia tidak akan mengalami kematian tetapi justru ia dibawa oleh TUHAN naik ke sorga, maka pasti ia tidak akan takut kepada Izebel dan frustrasi ingin mati.
      Seandainya Ayub tahu bahwa setelah penderitaan yang hebat itu ia akan dipulihkan oleh TUHAN, Ayub pasti tidak bersungut-sungut dan berpikir bodoh.
      Seandainya kita tahu bahwa TUHAN menuntun pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah dan dengan iman  melihat Elim di depan sana, maka kita akan tetap bertahan dalam kesulitan hidup saat ini.
      Kita perlu mengunakan iman untuk menerobos kabut yang kelam yang menutupi hidup kita kini, dan melihat ada TUHAN di sana, di masa depan kita dan sekarang Ia pun sedang memimpin kita.
      Memang kadang kala kehadiran dan penyertaan TUHAN itu begitu nyata dalam hidup kita, tetapi kadang-kadang, di waktu lain,
      ketika persoalan berat datang kepada kita,
      ketika rentetan musibah menimpa keluarga kita, ketika kegagalan terus akrab dengan kita,
      ketika segalanya sulit dimengerti termasuk jalan yang TUHAN buat bagi kita,
      yang harus kita lakukan hanya satu PERCAYALAH, Ia mengasihi kita. Jangan menuduh TUHAN, jangan bersungut-sungut kepada TUHAN.
Haris Subagiyo:http://graciaphoto.blogspot.com

Minggu, 02 Januari 2011

SELALU SAJA ADA JALAN UNTUKMU

Renungan tahun 2011
Solusi pasti menghadapi ketidak pastian hidup



Tidak mengetahui dengan pasti peristiwa apa yg bakal terjadi di tahun 2011, membuat banyak orang merasa tidak nyaman menyambut tahun baru apalagi dibumbui dengan aneka ramalan tahun yg tidak mencerminkan konstruksi iman kristen. 
Namun bagi orang yg percaya Kristus apakah tahun 2011 bagaikan menempatkan kita di zona tidak nyaman penuh dengan kebimbangan atau bahkan dipenuhi ketakutan karena terbawa intepretasi ngawur para peramal tahun kelinci yg tidak berdasar itu?
Allah kita tidak pernah merancangkan masa depan  suram!!!

apa dasarnya kita dapat melangkah pasti menyongsong kebahagiaan & keberhasilan ditahun yg baru?
Firman Allah adalah petunjuk yg komprehensif, tidak pernah salah & up to date bagi siapa saja.

Keluaran 14:13-14
Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, d  berdirilah tetap dan lihatlahe  keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat f hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14:14 TUHAN akan berperang g  untuk kamu 1 , dan kamu akan diam saja. h "

Firman Tuhan mendeklarasikan cara hidup orang percaya dalam menghadapi  karakteristik hidup yg tidak pasti & penuh problema.!

pertama: JANGANLAH TAKUT karena TUHAN yg memimpin kita

respon yg paling mungkin atau refleksi alamiah manusia ketika menghadapi persoalan adalah perasaan takut, menyalahkan keadaan atau orang yg disekitarnya. Pada hal yg dibutuhkan adalah "keberanian" untuk ber sparing patner  dengan berbagai persoalan
Dalam konteks bangsa Israel yg diinstruksikan oleh Allah sendiri untuk keluar dari Mesir & dikomandani TUHAN secara langsung; dimana siang hari ALLAH hadir dengan TIANG AWAN melindungi dari sengatan panas matahari padang gurun sedangkan di malam hari dengan Allah hadir dengan TIANG API yg menerangi, menghangatkan dan menuntun langkah demi langkah bahkan, setiap pagi mereka tidak usah mencangkul tanah atau berburu binatang , berkeringat untuk mencari makan karena Allah menghujani mereka dengan burung puyuh dan mengenyangkan dengan roti sorga (mana) secara kontinyu. Wooow...sangat spektakuler kehadiran Allah bagi bangsa Israel.

Berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari, melihat secara langsung mujizat Allah setiap hari pantaskan mereka merasa takut ?

Kesulitan terbesar kita sesungguhnya bukanlah "apa yg bakal terjadi" ditahun yg akan datang, karena pembicaraan tentang berbagai peristiwa jaman ini adalah domainnya Tuhan sendiri, ini justru tidak penting untuk kita bicarakan !
Pembicaraan mayor dan serius untuk menghadapi kondisi apapun ,kapanpun dan dimanapun adalah: bersama dengan siapakah sekarang ini kita berjalan?
Jika kita dapat memastikan bahwa langkah kita detik demi detik di tuntun oleh TUHAN, jika kita percaya bahwa Allah sedang bersama dengan kita (Imanuel), tidak ada alasan lagi untuk merasa takut dengan apa yg sedang atau bakal terjadi.

kedua: Berdirilah tetap karena TUHAN sendiri yg akan bertindak
respon kedua yg paling mungkin terjadi adalah bersikap panik atau salah tingkah ! dimana masalah menjadi subyek dan menempatkan Tuhan sebagai obyek.
Dalam kasus terjebaknya bangsa Israel di Laut Teberau: dibelakang ada ribuan pasukan infantri Mesir yg berambisi memukul mereka, di depan terhadang Laut Teberau, di kiri dan kanan terhampar lautan pasir yg rasanya tak mungkin ada jalan untuk maju.
Maju kena mundur kena, melangkah ke kiri dan kananpun terkena; oh.....betapa kompleknya masalah mereka.

Apa solusi yg Allah berikan ?
Berdirilah tetap!!!!...... tetap ditempat
Tidak berarti berdiri secara phisik namun menunjuk pada model sikap yg taat pada instruksi Tuhan, tunduk pada otoritas Tuhan, tidak bergeser dari kebenaran, berpegang teguh pada Firman.
Jika realitanya memang tidak tersedia celah untuk dapat maju atau mundur ya TETAP SAJA BERDIRI DITEMPAT: percayalah hanya kepada Tuhan selanjutnya lakukanlah Firman Tuhan
tidak usah berlari kesana-kemari dengan kepanikan, keluhan apalagi bersungut-sungut.

Kompleksitas persoalan kita merupakan kesempatan emas bagi Allah untuk membereskan berbagai masalah kita. Pengalaman buruk manusia justru menjadi latar belakang yg indah bagi Allah untuk mendandani karakter kita.
Jika kita sedang memikul beban berat saat ini....seperti Mangkubumi (menggendong bumi) atau seperti berjalan di Pakuningratan (tersebarnya paku-paku dijalan, penuh bahaya) percayalah bahwa itu adalah kesempatan kita melihat perkara ajaib yg Allah kerjakan !
Sekarang kita melihat banyak jalan raya ditengah lautan: salah satunya adalah "jembatan Suromadu" tetapi bangsa Israel berjalan dijalan raya yg berada didasar lautan, dimana Allah dengan sekejab mengeringkan laut Teberau sebagai lalu lintas baru untuk bangsa Israel.

Apakah mujizat Allah berhenti sampai disini ?
Pengalaman boleh berbeda dan jaman bisa berubah tetapi prinsip iman yg mempercayai Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yg mengasihi Dia, tetap relevan sampai sekarang ini!
Dalam mengahadapi problema yg dilematis, Allah meminta kita CUKUP PERCAYA SAJA, LAKUKAN FIRMAN dengan TAAT untuk memberi kesempatan penuh bagi Tuhan mengambil bagianNya membela kita.

ketiga: LIHATLAH KESELAMATAN dari TUHAN

Inilah adalah kepastian solusi persoalan dari Tuhan, apapun persoalan kita di tahun ini, tak usah ragu lagi bahwa ENDINGnya adalah jaminan kemenangan, kebahagiaan & keberhasilan.
Cara bangsa Israel ini merespon persolan: perhatikan betapa minimumnya peran mereka untuk melepaskan diri dari masalah. Musa sebagai hamba Tuhan justru menjadi sasaran amarah mereka yg salah mengerti pimpinan Tuhan.
Hitunglah !!! betapa banyaknya omelan, persungutan , protes ketidakpuasan mereka kepada Tuhan. Mereka berargumentasi secara emosional lebih baik hidup di Mesir meskipun dijajah (mental budak) bahkan lebih terhormat mati di Mesir dari pada tewas dipadang gurun, sungguh keterlaluan; perjuangan kasih Tuhan untuk membebaskan mereka dari perbudakan disambut dengan kehangatan amarah. Tetapi........ mengapa Tuhan masih berbelas kasihan kepada mereka ?
Itulah anugerah !!!!!
Sesungguhnya mereka ini bangsa yg tidak pantas menerima kemurahan Tuhan tetapi Allah justru semakin banyak mendemostrasikan kasih & kuasaNya kepada mereka setiap hari.


Dilema kehidupan ternyata tidak harus diselesaikan dengan rumusan solusi yg multi dimensi.
Allah hanya meminta kita: LIHAT KESELAMATAN dari Allah !!!! beri kesempatan Allah menyatakan kuasanNya.. beri kesempatan Allah menyatakan kemuliaanNya.
Biarlah otoritas Allah bekerja seoptimal mungkin mengubahkan  setaip detil masalah kita.
Jika Allah yg bekerja membela kita, Laut Teberaupun dibelahNya
Jika Allah bekerja dalam hidup kita tidak ada masalah yg terlalu besar untuk dipecahkan!
Jika Allah dipihak kita, tidak ada kunci pintu yg tak dapat dibukaNya.
selalu ada jalan..saat kita berkata tidak ada jalan
selalu ada jalan disepanjang masa....


Jika jalan hidup kita ditutupi dengan berbagai pintu persoalan yg seperti tidak ada celah untuk maju atau mundur..... Lihatlah hanya kepada Allah saja !!!
Percayakan hidup kita secara utuh (pasrah bongkokan) kepada Tuhan tanpa reserve kepada siapapun atau apapun.


Haris Subagiyo
Kontributor Gracia Ministries